Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 65


__ADS_3

Setelah mempertimbangkan dengan matang, Kaira akhirnya menyetujui keputusan suaminya. Dia dengan ikhlas melepas art yang sudah seperti saudara. Bahkan Kalandra pun harus kembali kesepian setelah Kemuning pulang kampung. Tidak hanya itu, rumah menjadi sepi dan hanya celotehan Kalandra yang menemani.


Seperti pagi ini, setelah Regan berangkat ke kantor hanya ada Kaira dan Kalandra saja. Suaminya belum lagi mendatangkan seorang art menjadikan Kaira beberes dan sibuk sendiri. Namun, tidak terlalu merepotkan kala sang putra bisa bekerja sama. Kalandra nampak anteng dengan banyaknya mainan, duduk di karpet empuk dengan nyaman dan aman.


"Sayang, Mamah ambilkan makan dulu ya buat Kalandra." Melihat putranya belum sarapan, Kaira segera ke dapur. Meski repot, urusan perut jangan sampai tidak terurus. Kalandra harus tetap gemuk dengan gizi yang tidak menyusut. Perkara sudah tidak minum ASI lagi, tidak menjadi masalah selama makanan, minuman dan vitamin yang di berikan tetap terjaga.


Kaira datang dengan membawa semangkuk nasi dan sayur. Tidak lupa air minum di masukan ke dalam gelas yang tertutup dengan ujung menyerupai mulut bebek.


"Ayo di makan sayang!" Kaira menyodorkan sendok kecil yang berisi nasi dan sayur. Di usia Kalandra yang sudah menginjak satu tahun, tepatnya seminggu lagi sudah cukup kuat makan nasi. Kaira pun memberikan potongan protein dari daging ayam dan wortel sebagai sayurannya.


"Am mmm..." Kalandra bergumam seraya mengunyah makanan. Terlihat lahap sekali bocil satu itu, hingga tanpa terasa menghabiskan hampir satu mangkuk. Kalandra memukul-mukul kecil perut Kaira dengan terus berceloteh.


"Kenapa Nak? Kok pukul-pukul perut Mamah?" tanya Kaira dengan membuai sayang dan menggenggam tangan putranya.


"De de de dek..."

__ADS_1


"Iya, ada dedek ya di sini, sebentar lagi Kalandra ada temannya lagi. Jadi nggak kesepian dech..." Ya, kehamilan Kaira sudah ingin memasuki usia sembilan bulan. Bukan situasi yang bagus memang, di saat sudah hamil besar, sang suami malah membiarkan dia tinggal tanpa asisten rumah tangga. Membuat Kaira sedikit sibuk dengan perannya saat ini.


Seperti yang sudah-sudah, sampai sore Kaira dan Kalandra hanya berduaan saja. Mereka sudah rapi dengan balutan yang berbeda dan duduk di teras rumah dengan santai. Keduanya menunggu kepulangan Regan dengan menikmati angin sore. Kaira mengajak Kalandra untuk belajar berjalan dengan posisi dia berdiri di belakang Kalandra seraya menggenggam kedua tangannya.


"Wah pintarnya anak Mamah, sudah mulai bisa melangkah ya Sayang. Ayo lagi satu...Dua... Ti_ Yach...Kenapa Sayang? Capek ya?" Setelah beberapa langkah Kalandra mulai lelah dan bosan. Dia menjatuhkan tubuhnya dengan duduk di lantai. "Ya udah Yuk kita duduk di sana saja yuk!"


Kaira mengajak Kalandra untuk duduk di gazebo yang di lengkapi dengan buku bacaan dengan berisikan gambar-gambar hewan dan buah. Perannya sebagai guru mulai di mainkan. Kalandra menunjuk, berceloteh dengan mengikuti ucapan sang Mamah dan tertawa saat Kaira menggodanya dengan suara hewan.


Tanpa terasa sang Papah pulang dengan membawa buah tangan. Tentu saja Kaira dan Kalandra menyambutnya dengan antusias.


"Wa'allaikumsalam ... Kebiasaan dech, nanti kalo ada yang lihat kan bikin orang pengen jadinya." Kaira mencubit perut Regan dengan gemas. Sang suami begitu membuat gelisah. Belum lagi paras lelahnya membuat Kaira begitu tergoda karena, tampilan acak-acakan Papah Regan terlihat sexy baginya.


"Biarkan saja, yang penting tidak mengganggu milik Regantara." Regan mengambil alih Kalandra dan merangkul sang istri, mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


"Kan jodohku Regantara, ya hanya milik mas Regan seorang." Kaira masuk ke dalam pelukan suaminya, melangkah masuk dan tidak lupa menutup pintu.

__ADS_1


Ketiganya masuk ke dalam kamar, Regan mendudukkan putranya di dalam boks bayi karena tau sang istri ingin menyiapkan pakaian. Pria itu melirik istrinya yang sedang sibuk di depan lemari. Melihat sang istri yang sudah melepas hijab membuat daya tarik begitu kuat.


"Mas!" Kaira terjingkat ketika merasakan ada tangan besar yang melingkar di perutnya. Siapa lagi jika bukan tangan suaminya. Hanya saja dia terkejut saat sedang fokus memilihkan pakaian untuk Regan, sang suami mendekat tiba-tiba.


Regan hanya tersenyum dan menyusup ke dalam leher jenjang sang istri. Rasa lelah dan penat di kantor seketika hilang setelah menghirup dalam-dalam aroma tubuh Kaira. Memang sang istri memiliki banyak peran, selain menjadi tempat menumpahkan syahwat, berkeluh kesah, Ibu bagi anak-anaknya, teman. Dia juga tempat pelipur lara dan terapis bagi Regan di saat pekerjaannya membuat tubuh serta pikiran letih.


"Mandi dulu Mas agar lebih segar! Biar aku siapkan kebutuhan yang lainnya." Kaira mengusap pipi Regan dengan lembut. Dia tau sang suami sedang ingin di manja. Namun, lebih baik bebersih dulu sebelum minta di sayang-sayang.


"Sebentar lagi Sayang, nanti biar aku saja yang menyiapkannya sendiri. Kamu cukup duduk menemani dan aku yang gantian melayani. Kamu pasti capek kan seharian ini mengurus rumah dan mengurus putra kita? Maaf ya belum bisa mendatangkan art baru. Aku menunggu Mamah mendatangkan adiknya Bibi yang nanti akan bekerja di sini, kasihan beliau janda dan butuh biaya sekolah untuk putra putrinya. Maka dari itu aku menunggu Bi Sumi, katanya lusa baru bisa datang ke sini."


"Iya nggak apa-apa Mas, yang terpenting saat aku melahirkan nanti beliau sudah bisa bekerja di sini karena, kasihan bunda dan mamah yang mengurus kalandra saat aku sedang di rumah sakit. Takut mereka repot dan tidak ada yang membantu," ucap Kaira menjelaskan. Kaira memang harus mempersiapkan semuanya agar terkondisikan dan tidak membuat khawatir saat dia sedang di rumah sakit.


"Iya sayang, ya sudah aku mandi dulu ya. Kamu istirahat! Dan biarkan Kalandra anteng main sendiri." Regan mengusap perut besar Kaira kemudian membalikkan tubuh sang istri lalu mengecup candunya.


Kaira merebahkan tubuhnya di ranjang setelah melihat sang suami masuk ke dalam kamar mandi. Lelah sekali, mungkin karena kehamilan yang besar juga mempengaruhi. Sampai tak sadar jika kini dia terlelap begitu damai dengan diiringi celotehan dari putranya.

__ADS_1


Regan tersenyum melihat sang istri tertidur pulas. Dia melirik ke arah jam dinding, masih ada waktu sekitar satu jam menuju magrib. Regan segera meraih putranya dan mengajak Kalandra keluar kamar agar tidak mengganggu tidur Kaira.


__ADS_2