
"Sudah makannya?" tanya Bunda yang saat ini menimang Kalandra karena terbangun akibat teriakan beliau yang lumayan kencang.
"Sudah," jawab Kaira singkat dengan memajukan bibirnya.
Melihat hal itu membuat bunda gemas dan mencubit pipi Kaira. "Kalo di bilangin itu nurut, jangan malah cemberut! Pipi udah chubby begitu," ucap Bunda geregetan. Meski berat badannya sudah turun banyak tak elak membuat Kaira benar-benar kembali seperti semula. Kalo kata Regan, kamu montook! Tapi tak menjadi masalah bagi Kaira karena sang suami yang sama sekali tidak komplain.
"Uuugghhh sakit Bunda!" keluh Kaira kemudian mengusap pipinya yang mungkin saat ini sudah berubah warna menjadi kemerahan.
"Makanya kalo di bilangin itu di dengerin! Owh iya Kai, besok kan weekend. Sore ini Bunda harus pulang kerumah, kasihan Ayah kamu sendirian." Memang sang suami memutuskan untuk tidak ikut menginap karena tak ingin rumahnya kosong. Kemudian jarak dari rumah Kaira ke kantornya yang menambah malas karena setiap pagi harus berkutat dengan kemacetan.
Kaira menghela nafas panjang, kemudian menganggukkan kepala. Dia segera meraih ponselnya dengan tak bersemangat untuk menghubungi sang suami agar pulang cepat karena harus mengantar Bunda pulang.
"Jangan lemes gitu! Kamu lupa dengan permintaan Ayah kamu, ranjangnya keburu dingin karena harus tiap hari tidur sendiri!" ucap Bunda mengingatkan.
"Iya, Kaira ingat. Kai telepon Mas Regan dulu untuk mengantar Bunda pulang." Kaira segera melipir ke luar rumah, ia memilih duduk di teras setelah itu segera menghubungi Regan yang kemungkinan sedang makan siang.
Kaira mengembangkan senyum saat panggilan sudah di terima. Dengan semangat Kaira segera melantunkan salam namun baru akan membuka mulut, suara seorang wanita di seberang sana membuatnya terdiam.
"Hallo selamat siang."
__ADS_1
Pikiran Kaira mulai bercabang, berulangkali ia melihat layar ponselnya takut ia salah orang. Tapi memang benar nama "Mas Suami" yang tertera di sana. Mungkinkah Regan sedang berdua dengan wanita lain atau panggilannya di angkat oleh partner kerjanya. Tapi kemana Regan berada, bukannya sekertaris nya pun sudah di ganti dengan laki-laki. Lalu siapa yang berani mengangkat panggilan darinya, apa orang itu tidak tau jika panggilan itu berasal dari istri pemilik ponsel. Kaira menarik nafas dalam, sebelum akhirnya menjawab ucapan wanita itu.
"Hallo, bisa bicara dengan suami saya?" tanya Kaira tanpa basa-basi.
Nampaknya wanita manapun harus tau jika Regan telah memiliki istri bahkan kini sudah memiliki penerus keluarga.
"Oh, maaf Pak Regan nya sedang ada di toilet. Ada pesan? nanti bisa saya sampaikan."
"Kamu siapa?"
"Maaf Ibu, saya kebetulan adalah klien Pak Regan. Saat ini kamu sedang meeting di hotel xx. Karena Pak Regan nya sedang ke belakang dan ponselnya terus berdering, maka saya angkat takut ada yang penting."
Kaira tak lagi berkata, matanya sudah berkaca-kaca kemudian menutup tanpa meninggalkan pesan. Bibir Kaira mengerucut dengan tangan mengepal hingga gamisnya ikut kusut karena terlalu kencang.
Bunda tidak boleh tau dengan masalah ini, Kaira pun tidak lupa memberi pesan agar Regan bisa pulang cepat. Bukan hanya untuk mengantar Bunda, tapi agar suaminya bisa cepat meninggalkan hotel itu.
...****************...
Hanya dalam hitungan satu jam mobil Regan sudah terparkir rapi di garasi rumah. Entah apa isi pesan Kaira yang membuat Regan cepat pulang padahal masih di jam kantor. Pria itu berlari memasuki rumah dengan tergesa.
__ADS_1
"Loh Re kok kamu sudah pulang? Bukannya ini masih sangat siang?" tanya bunda heran, beliau saja baru selesai makan siang setelah bergantian menjaga Kalandra dengan Kaira.
"Kata Kaira Bunda mau pulang sekarang."
"Iya memang Bunda mau pulang, besok kan weekend lagian Kaira sudah mahir. Kamu pun bisa gantian membantu. Sudah hampir sebulan Bunda disini, jadi Bunda memutuskan untuk pulang dan mungkin akan berkunjung seminggu sekali atau seminggu dua kali. Karena Ayah Kaira sudah mulai rewel di tinggal lama-lama. Eh tapi bukan Bunda mau ganggu pekerjaan kamu Re, nanti sore saja bisa."
"Tapi tadi Kaira bilang Bunda buru-buru....Kemana Kaira Bun?" tanya Regan yang mencium aroma tidak beres. Mengapa ucapan sang istri dengan Bunda tidak singkron, atau mungkin ada sesuatu yang membuat sang istri memintanya pulang cepat.
"Ada di kamar sedang menyusui Kalandra," jawab Bunda.
"Aku ke kamar dulu ya Bunda," ucap Regan. Dia segera berlari kecil menaiki anak tangga.
"Kenapa dengan anak itu...." Bunda menggelengkan kepala, dia yakin itu hanya akal-akalan putrinya yang membuat Regan pulang dan meninggalkan setumpuk pekerjaan.
Regan masuk kedalam kamar, tak ada sang istri di sana. Hanya ada putranya yang tertidur pulas di dalam boks bayi. Mata Regan menyapu sekeliling ruangan kamar mencari sang istri namun tak ia temukan keberadaannya. Kemudian matanya terfokus pada pintu kamar mandi yang tertutup rapat.
Regan meletakkan tas kerja dan membuka sepatu serta dasi yang setengah hari ini melingkar di lehernya. Dia menghela nafas panjang merebahkan tubuh di ranjang. Begitu lelah karena berburu waktu untuk cepat sampai dirumah. Matanya mulai terpejam merasakan kenyamanan.
Regan kembali membuka mata saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Sosok yang ia cari keluar dari sana dengan pakaian yang tak pernah di pakainya namun begitu menggugah selera. Kaira berjalan perlahan menuju meja rias dengan gaya anggun dan rambut yang masih basah.
__ADS_1
Siapa yang tak tergoda, Regan pun bangkit dari tidurnya, ia memperhatikan setiap keindahan yang begitu nyata di depan mata. Tapi cukup heran dengan sang istri yang memakai pakaian terbuka di siang hari. Padahal semenjak pulang dari rumah sakit Kaira benar-benar menjaga penampilannya agar tidak membangkitkan sesuatu yang harus tidur panjang. Tapi siang ini sudah ada yang berubah posisi, mulai mengepak-ngepakkan belalainya dan mendesak hingga nafas mulai tak santai.
"Sayang..... Kamu tidak sedang salah kostum kan?"