
Tio menyipitkan matanya, dia menghela nafas berat menatap anak perempuan yang kini menjadi menantunya. Sudah tidak boleh kemanapun, berdiri berjam-jam di tambah lagi mendengar Kaira mencibir dirinya. Huuuuffff..... Sungguh ujian baginya.
"Daddy hanya berharap cucuku tidak bar-bar seperti kedua orang tuanya."
"Tapi itu sudah terlihat sejak sekarang Tio, loe nggak ngerasa calon cucu loe punya watak sama kayak loe!" celetuk Sella.
"Haish...." Gumam Tio menghela nafas kasar.
"Sabar.....Ingat itu cucu yang kita nanti-nantikan jadi apapun demi cucu pertama akan kamu lakukan." Mamah Ceri berucap dengan semangat dan di kasih dua jempol oleh Kaira di belakang punggung Tio.
"Aku?" tanya Tio meminta penjelasan.
"Iya kamu!" jawab Ceri dengan senyum merekah.
Tio tersenyum kaku dengan memamerkan giginya, ia menganggukkan kepala mengiyakan padahal dalam hati ia merutuki ucapan sang istri. Yang akan menerima cucu pertama tak hanya dia tapi istrinya juga namun kenapa dia yang menanggung semuanya.
__ADS_1
Hingga hampir sore Kaira tak kunjung melepaskan pelukannya, beruntung sebelum habis waktu sholat Zuhur Kaira tertidur. Alhasil membuat Daddy Tio segera pergi ke kamar mandi dan sholat Zuhur di ruangan itu juga. Karena takut Kaira cepat bangun dan mencarinya.
"Alhamdulillah Kaira nyenyak tidurnya, sampe nggak bisa ngantor gara-gara Regan. Ini anak juga katanya sebentar tapi nggak kelar-kelar. Meeting apaan sich?" Tio menghela nafas berat dan beralih ke sofa kemudian kedua kakinya ia naikkan ke atas meja dengan posisi selonjor.
"Mungkin belum selesai karena meeting yang sangat penting. Sabar saja sebentar lagi juga pulang. Dia itu sedang berjuang, lagian juga Regan itu sedang mencari nafkah demi masa depan mantu dan cucu kita!" bisik istrinya yang sedang melipat sajadah bekas dia sholat.
Sella yang mendengar itu hanya tersenyum dan membenarkan ucapan Ceri. Beruntung Kaira tidak rewel dan meminta dirinya benar-benar menghampiri Regan ke kantor. Jika iya, Sella pasti akan malu sekali dengan rekan bisnis Regan yang melihatnya datang hanya karena putrinya rewel.
"Iya....Iya....Hhhmmm.....Kamu hari ini buat aku geregetan sayang, lihat saja di rumah nanti. Akan aku kunci kamu di kamar hingga pagi!" lirih Tio namun masih bisa di dengar oleh Sella.
"Biarin aja Sell, itu semua tidak akan terjadi karena dia memiliki anak perempuan yang rusuh sama sepertinya. Kedua tidak akan membiarkan Papahnya melakukan aksinya dengan cuma-cuma."
"Aku tau tidak ada yang cuma-cuma karena aku sudah mengirim jatah bulanan untuk kedua putri kita dan malam ini mereka tidak pulang karena akan pergi ke Bali untuk berlibur." Jawab Tio enteng dengan tertawa renyah.
Ceri menghela nafas kasar, selalu saja suaminya memanjakan kedua putrinya. Ceri bahkan khawatir keduanya tidak bisa mandiri terlebih Retha yang setiap bulan menangis karena kehabisan uang. Padahal Tio memberikan jatah dengan nominal besar untuk jajan dan segala keperluan kuliah .
__ADS_1
Tapi setelah di selidiki ternyata uangnya habis berbarengan dengan dirinya yang menangis akibat putus cinta. Jadi Retha terkenal dengan sebutan playgirl kampus namun uangnya yang habis-habisan di kuras oleh pacar-pacarnya. Dan itu tidak membuatnya jera karena setelah menangis seharian rekening akan menggendut kembali dan ia akan mencari pacar lagi.
Ceklek
"Assalamualaikum...."
"Wa'allaikumsalam....."
"Ini dia yang di tunggu-tunggu datang juga," ucap Tio, akhirnya ia bisa bernafas lega dan bisa pulang ke rumah.
"Maaf Bund, Mah, Pah, aku baru datang karena ada kendala tadi yang harus aku selesaikan. Bagaimana dengan istriku? Apa ada keluhan atau keinginan yang ia mau?" tanya Regan dengan perasaan khawatir. Dia segera melangkah mendekati Kaira yang masih tertidur nyenyak.
"Tidak rewel, hanya saja Papah mu tidak duduk hampir seharian karena Kaira tidak mau lepas. Bahkan makan saja di suapi mamah." Jelas Mamahnya yang kini memijit kaki suaminya.
"Alhamdulillah....Makasih ya Pah, untung ada Papah. Kalo tidak ada aku tidak akan bisa berangkat Pah. Mungkin besok jika Kaira sudah di perbolehkan pulang akan aku ajak dia ke kantor jika tidak mau di tinggal." Regan mengusap lembut kepala sang istri yang berbalut hijab. Rasanya tidak tega juga melihat istrinya merengek manja setelah tadi pagi mual muntah.
__ADS_1
"Baguslah, jika perlu tak gendong kemana-mana sambil nyanyi!" celetuk Papah Tio.