
Regan mengunci pergerakan Kaira, wanita itu benar-benar tidak bisa berkutik karena telah membangunkan macan tidur. Sorot mata Regan menatap dengan lapar dan itu membuat Kaira semakin resah. Apalagi kedua tangan Kaira telah di genggam erat oleh Regan di atas kepala. Alamat buka sajian di siang yang panas.
"Mas...."
Kaira merasakan geli bercampur nikmat saat Regan mulai beraksi menjelajah lehernya. Tak biasanya Regan membuka sajian dengan menyerang leher jenjang Kaira. Nampaknya memang Regan ingin membalas akan apa yang tadi Kaira lakukan. Menggoda dan membuat panas dan sepertinya berhasil, suara manja menari di telinga Regan menggelitik sampai naluri kelakian nya semakin bangkit.
Regan menahan sesuatu yang telah membumbung tinggi bak tongkat sakti. Dia belum puas melihat. sang istri bergerak liar seperti cacing tersiram garam. Bagaimana tidak, pernikahan yang sudah hampir empat tahun tentu membuat Regan tau mana saja titik kelemahan sang istri. Dan Regan sengaja menyerang bagian-bagian itu menimbulkan gelayar luar biasa yang sudah lama Kaira tidak dapatkan.
Kaira di buat basah dengan nafas ngos-ngosan, Regan tidak main-main dalam memainkan peran. Suami idaman dalam hal apapun terutama urusan ranjang. Kaira telah polos namun berbanding terbalik dengan Regan yang masih berpakaian rapi. Bahkan kancing kemejanya saja masih terpasang dan hanya satu yang terbuka.
Regan menyeringai dengan wajah merona, kini sang istri yang justru meminta padahal tadi istrinya yang menggoda hingga pusing kepala atas dan bawah.
"Kenapa sayang, hhmm?"
"Mas ....." Lirih Kaira dengan wajah memohon.
"Kalandra bangun, nampaknya dia pun haus. Mungkin melihat Papahnya tadi jadi kepingin." Regan beranjak dan melepas Kaira begitu saja. Bahkan seakan kuat menahan padahal di dalam sana sudah begitu sesak. Dan kini Kaira yang nampak kelimpungan. Suaminya benar-benar meresahkan dan membuatnya kentang.
"Mas aku...."
Kaira menatap nanar sang suami yang melenggang masuk ke kamar mandi. Dia mencengkeram selimut menatap tubuhnya yang begitu banyak bercak merah dan sudah tak berbusana namun di tinggalkan begitu saja.
"Mas Regan keterlaluan!" kesal Kaira yang kemudian beranjak mengambil kostum yang sebelumnya ia pakai dan segera memakai pakaian rumahan seperti semula.
__ADS_1
Rasanya seperti di ajak terbang dan di hempaskan begitu saja. Kaira pun merasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang mengganjal.
"Awas kamu mas! Aku yang mau buat kamu menderita tapi justru kamu yang buat aku gelisah begini!"
Kaira segera mengambil Kalandra dan menyusuinya setelah tadi membersihkan dengan tisu basah, agar bersih karena tadi terkontaminasi dengan Papahnya. Takut Kalandra protes karena bekas Papah.
Lama Regan di kamar mandi, bahkan sampai Kaira sudah selesai menyusui suaminya belum kunjung keluar. Kaira segera menyiapkan baju ganti dan turun ke bawah untuk menetralisir kekesalan.
"Kai, kok Regan sudah pulang. Ini Bunda jadi buru-buru prepare nya takut nanti Regan ada acara lagi."
"Nggak kok Bun, Mas Regan di rumah nggak balik ke kantor. Lagi di kamar mandi orangnya, mungkin setelah ini mengantar Bunda. Nggak tau juga...Bisa di tanyakan dengan yang bersangkutan."
Kaira duduk di sofa dengan memainkan kukunya, mukanya di tekuk namun yang membuat perhatian Bunda bukan itu. Bunda mengulum senyum meneliti sesuatu yang begitu terang, nampaknya baru di buat dan itu yang menjadi alasan Kaira bermuka masam.
Mendengar ucapan Bunda membuat Kaira dengan reflek menyentuh lehernya. Memang di rumah Kaira buka hijab karena gerah juga saat menyusui Andra. Tanpa teringat dengan tanda merah yang suaminya buat. Kalo sudah gini kan jadi malu sama Bunda.
"Ini alasan kamu minta Regan pulang cepat? Mau ngasih nutrisi? Kasihan padahal Regan lelah, demi istri tersayang menantu Bunda harus bekerja keras."
"Bunda ini bicara apa? Tidak begitu bunda!" wajah Kaira sudah merona, dia membuang muka dengan perasaan malu. Jelas sekali memang tandanya masih sangat baru dan berbaris rapi di leher jenjangnya.
"Awas nanti Kalandra gumoh minum bekas Papahnya!"
"Bunda! Rese banget dech..." Kaira segera beranjak dari sana dan berlari menuju kamar. Kesal dengan Regan eh malah di godain Bunda. Rasanya ia yang malah jadi sial.
__ADS_1
"Jangan lari-lari Kai, Regan nggak usah di kejar juga dia nggak akan kabur kemana-mana!" seru Bunda Sella yang sudah tidak bisa menahan tawa melihat tingkah malu putrinya. "Dasar anak itu!"
Kaira membuka pintu dengan kasar hingga membuat Regan yang baru keluar kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang menatap heran. Apa gerangan yang membuat sang istri terlihat begitu kesal. Dia berpikir mungkin karena ulahnya tadi, tapi kan impas.
"Kenapa sayang?"
"Sayang....Sayang.....Sayang.... Lama sekali anda di kamar mandi Pak suami?" Kekesalan Kaira nampaknya ia tumpahkan pada Regan. Karena sejak awal memang Regan biang keladinya. Kaira meneliti penampilan Regan, rambutnya basah, wajahnya terlihat lebih segar, lama pula baru keluar dari kamar mandi. "Habis mainan sabun di kamar mandi? Lama sekali....." ketusnya membuat Regan gemas.
Sengaja Regan menggoda Kaira tanpa menikmati bibir ranum sang istri agar dia tidak tergoda lebih dalam lagi, tapi melihat Kaira kesal membuatnya tidak tahan dan menyesal.
"Awas kamu mas, nggak ada buka puasa! Puasa aja terus sampai lebaran haji! Berani main sabun dari pada bermain-main sama aku, nggak akan ada jatah buat kamu!" ancam Kaira yang masih saja tidak bisa diam. Sepertinya efek kesal dan kentang membuat Kaira uring-uringan. Jika Regan dengan mudah melampiaskan dengan mengajak sabun bermain lalu bagaimana dengannya yang hanya bisa gelisah tanpa sentuhan.
Regan menghela nafas panjang, dia berhasil membuat Kaira ingin. Tapi bukan berarti tanpa tujuan, dia berusaha tidak menimpali ucapan Kaira dan memilih segera memakai pakaian. Padahal tanpa Kaira tau, Regan pun masih menahan.
Melihat tidak ada respon dari suami membuat Kaira mendengus kesal bercampur marah. Nampaknya Paksu ingin mengajak perang. Dan membuatnya merealisasikan ancaman yang tidak berhasil membuat Regan ketakutan.
"Bunda sudah siap?" Tanya Regan dengan kalem.
Kaira menatap dengan dengan teliti, begitu tenang wajah suaminya. Padahal biasanya akan kelabakan jika melihatnya marah tapi kok malah biasa saja.
"Tanyakan saja sendiri, aku mau istirahat mumpung Kalandra tidur nyenyak!" ketus Kaira, dalam hati dia takut dosa karena sudah berucap kasar pada suaminya tapi terlanjur kesal dan merasa di abaikan. Jadi bablas ngambek sekalian.
Regan mengulum senyum mendengar jawaban sang istri, dia tidak marah ataupun menanggapi. Regan segera mengambil kunci mobil dan sengaja mendekati Kaira yang tidur memunggungi.
__ADS_1
"Aku antar Bunda pulang dulu! Kamu baik-baik di rumah, besok jika kerepotan aku akan panggil jasa art buat bantu urus rumah dan bantu kamu kalo lagi repot urus Kalandra." Regan mengusap lembut kepala sang istri kemudian segera pergi.