Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 48


__ADS_3

Dan benar apa yang di ucapkan oleh Regan, sudah dua bulan ini ia lebih banyak bekerja di rumah dari pada di kantor. Jika ingin seharian di kantor pun, Regan memastikan Kaira baik-baik saja atau dia mengajak istrinya ikut bersama.


Dan untuk minggu-minggu ini full waktu Regan hanya di rumah. Meski masih bekerja namun sama sekali tidak membiarkan Kaira sendirian. Karena kandungan Kaira yang sudah masuk bulannya dan mendekati hpl. Maka dari itu Regan benar-benar memperhatikan dan memilih bekerja dari rumah. Atau jika sangat urgent dia akan meminta bantuan pada Papah Tio untuk menghandle nya.


"Maaasssss...."


"Maaaasssss Regan!" seru Kaira yang kini sedang berada di dalam kamar mandi. Regan yang berada di luar kamar tidak mendengar suara sang istri karena kamar mereka yang kedap suara.


Ntah apa yang terjadi dengan Kaira namun sampai berulang kali ia memanggil tapi Regan tak kunjung menghampiri.


"Aduuuuhhhh Mas....Ini orang dimana sich ya Allah." Kaira segera keluar dari kamar mandi dan mencari Regan keluar kamar. Perutnya serasa sakit sekali, bahkan rasanya melebihi saat sedang datang bulan.


Perlahan Kaira menuruni tangga dengan memegang perutnya dan tangan yang satu memegang pegangan tangga. Kaira mendesis setiap rasa sakit itu muncul. Sampai di undakan tangga paling bawah Kaira serasa tidak kuat. Terlebih ada air yang tiba-tiba keluar dari bagian intinya.


"Kok malah pipi di sini..." Lirih Kaira yang sudah duduk di undakan tangga. Rasanya ia tak sanggup lagi berjalan karena rasa sakit semakin hebat.


"Maaaasssss...." Lirih Kaira dengan peluh yang sudah membasahi wajahnya. Jika sakitnya masih bisa di tahan mungkin Kaira sudah berteriak, tapi rasanya saat ini sudah tidak karuan. Di tambah lagi pinggang Kaira serasa ingin lepas.


"Assa... Astaghfirullah sayang!" Regan yang baru saja datang ntah dari mana segera berlari hingga kantong keresek yang berisikan buah terlepas begitu saja." Mendadak Regan panik karena melihat Kaira yang sudah kepayahan duduk di tangga.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Regan dengan meneliti tubuh Kaira. "Sayang kamu ngompol? ini kok ada...."

__ADS_1


"Mas perut aku sakit," rintih Kaira yang tak peduli dengan pertanyaan Regan yang mengira ia pipis di celana setelah melihat baju dan lantai basah.


"Sakit? Mules? Kenapa nggak ke toilet sayang, kenapa disini? Ayo aku bantu!" Regan segera meraih tubuh sang istri namun dengan cepat Kaira menghentikan.


"Mas, aku mau lahiran bukan mau pup!" ucap Kaira dengan gemas.


"Lahiran? kan masih Minggu depan?" tanyanya dengan wajah polos. Regan benar-benar menguji kesabaran Kaira. Rasanya wanita itu ingin sekali memarahi suaminya jika tidak ingat dosa.


"Mas, aduuuuuhhhhh sakit banget loh. Jangan kebanyakan mikir, ayo antar aku ke rumah sakit!" ucap Kaira dengan wajah yang sudah memucat.


Regan menganggukkan kepala dan segera mengangkat tubuh Kaira untuk di bawanya masuk kedalam mobil. Regan melupakan rambut Kaira yang belum tertutup hijab alhasil sang istri komplain dan membuatnya harus berlari menuju kamar mengambil hijab dan tas yang sudah Kaira siapkan jika sewaktu-waktu hal seperti ini tiba.


"Jangan lama-lama Mas, lari!" seru Kaira sekitar tenaga.


Setelah mengambil semua kebutuhan yang akan di bawa ke rumah sakit, kini Regan segera melajukan mobilnya dengan cepat. Apa lagi melihat Kaira yang diam dengan manahan sakit. Sesekali merintih namun rintihannya semakin melemah hingga Regan ketakutan.


"Mah.....Pah...."


"Halo Re...Ada apa Re?"


"Regan mau pingsan Mah...."

__ADS_1


"Kamu kenapa? Bicara itu yang jelas!" ucap mamah Ceri yang tak mengerti, tiba-tiba putranya menghubungi dengan nafas tersengal dan suara ngos-ngosan.


"Tolong ke rumah sakit tempat Kaira lahiran Mah, aku perjalanan kesana sekarang!"


Tut


Regan begitu panik hingga mencari teman agar bisa membantunya mengatasi kepanikan itu. Maklum pengalaman pertama, jadi dia segera menghubungi kedua orangtuanya agar dapat menyusul ke rumah sakit.


"Sayang sabar ya, pakai dulu hijabnya. Ayo aku bantu!" Ucap Regan sebelum turun dari mobil. Dia kembali mengangkat tubuh Kaira dan meminta penjaga membawakan brangkar atau kursi roda untuk istrinya.


Sungguh lutut Regan serasa lemas, terlebih kini Kaira semakin mendesis kesakitan. Dengan sesekali mencengkeram tangannya dengan erat. Proses melahirkan pun akan segera di mulai karena ternyata pembukaan Kaira hampir lengkap.


"Bapak kenapa pucat sekali? jika tidak kuat menemani ibu, bapak bisa keluar dari pada nanti pingsan disini!" ucap dokter yang sudah akan menangani Kaira.


"Saya akan menemani istri saya Dok, cepat bantu istri saya melahirkan. Kasian dia kesakitan dok!" Regan tidak mungkin meninggalkan Kaira berjuang sendirian. Mampu tidak mampu, kuat tidak kuat Regan harus menjadi suami siaga bagi Kaira. Meskipun hatinya serasa habis apa lagi melihat Kaira mengejan dengan sekuat tenaga.


"Mau minum sayang? aku ambilkan ya!" tanpa menunggu jawaban Regan segera berlari mengambil air minum namun saat ia berbalik tanpa sengaja Regan melihat bagian inti Kaira. "Astaghfirullah...."


Tangan Regan gemetaran dan tidak jadi memberikan Kaira minum karena air minum itu Regan minum sendiri hingga habis. Kedua tangannya bertumpu pada ranjang Kaira. Regan hanya mampu melihat Kaira yang masih berusaha mengejan hingga suara tangis bayinya terdengar begitu lantang.


"Alhamduli......"

__ADS_1


BRUK


"Maaaaassssss!"


__ADS_2