
Kaira mendudukkan diri di antara Ayah dan Bunda dengan menatap canggung Regan yang sejak tadi hampir tak memutuskan pandangan. Tidak hanya Regan yang terkesima dan memuji kecantikan Kaira, hampir semua yang ada di sana memuji dalam hati. Inner beauty calon manten begitu ketara, membuat para tetangga dan tamu pria harus banyak-banyak beristigfar dan menundukkan pandangan.
Acara segera di mulai dengan sambutan dari asisten Tio sebagai juru bicara yang mewakili keluarga dari pihak laki-laki. Seto mengucapkan niat baik untuk melamar dan meminta Kaira untuk menjadi istri Regantara secara resmi. Lamaran itupun di sambut baik oleh Dimas selaku tuan rumah sesuai dengan rencana sebelumnya.
"Bagaiman nak Kaira, apa sudah mantap menerima pinangan dari Regan?" tanya Seto.
Lagi-lagi pandangan semua orang beralih kepada calon mempelai wanita. Kaira menarik nafas dalam kemudian menatap sekilas calon suaminya sebelum menjawab. Meskipun sudah direncanakan sebelumnya, tetapi jika hati ragu bisa saja calon mempelai wanita menolak. Maka penting perwakilan dari pihak laki-laki kembali menanyakan kemantapan hati pada calon mempelai wanita.
Kaira pun kembali memantapkan hati jika Regan lah yang terbaik untuk menjadi imam until jannah.
"Bismillahirrahmanirrahim...Saya menerima pinangan dari saudara Regantara dengan yakin dan ikhlas," ucapnya lembut namun tegas, diiringi jantung yang berdegup kencang dengan kepala tertunduk.
Regan menghela nafas lega, tersenyum tipis dengan menundukkan kepala, ekor matanya nampak basah, bertahun-tahun memendam rasa akhirnya tibalah dia di terima baik oleh calon istri dan tinggal selangkah lagi menuju halal.
"Alhamdulillah," ucapan syukur pada Allah SWT menggema di ruangan tersebut dengan di ikuti pembacaan sholawat untuk Rasulullah Saw. Para orang tua pun nampak lega dan tersenyum bahagia, akhirnya pinangan resmi di terima.
Hingga acara lamaran dapat berjalan dengan lancar dan posesi pemakaian cincin untuk mempelai wanita di sematkan langsung oleh mamah Ceri.
"Selamat ya Sayang dan terima kasih telah menerima putra Mamah yang banyak kekurangannya itu."
Kaira tersenyum menatap sosok wanita yang sejak kecil sudah dekat dengannya, menyalami tangan beliau dan memeluknya dengan sayang.
__ADS_1
"Kaira pun banyak kekurangan Mah, bantu Kaira untuk belajar agar lebih mengenal Regan." Kaira tersenyum tulus menatap calon mertua dengan tatapan teduh. Mamah Ceri menganggukkan kepala dan mengusap lembut pipi Kaira.
Hati Regan menghangat menatap kedua wanita yang dia cintai nampak akur dan saling menyayangi. Ingin rasanya bisa segera membawa pulang Kaira namun masih harus menunggu halal untuk memboyongnya pulang. Regan dan Papah saling berpelukan, sama halnya dengan Regan, Tio pun nampak lega apa lagi sejak kecil Tio menjadi Bapak sambung yang sangat dekat dengan Regan. Tinggal selangkah lagi beliau mendampingi Regan hingga bersanding di pelaminan.
Acara pun di lanjut dengan pembacaan doa dan berakhir dengan jamuan. Semua berjalan lancar dan khidmat, setelah acara makan dan tasyakuran di lanjut dengan santunan anak yatim.
Kaira ikut menyapa dan memberikan amplop serta bingkisan yang sudah di siapkan. Interaksi antara Kaira dan anak-anak itu pun tak luput dari pantauan Regan. Kaira yang suka anak-anak terlihat keibuan membuat Regan semakin jatuh cinta.
"Pah, boleh nikahin sekarang aja nggak sich? ijab dulu juga boleh. Pengen cepet di bungkus bawa pulang," keluh Regan setelah melihat semua anak yatim sudah pulang dan tinggal tersisa beberapa orang bapak-bapak dan Pak ustadz yang memandu doa, pas sekali untuk melanjutkan acara ijab kabul susulan.
"Sabar Re, jangan bikin anak perawan orang syok dengan keinginan kamu! ini itu acara lamaran bukan nikahan!" Tio menggelengkan kepala menatap putranya yang begitu antusias.
Regan menundukkan kepala sadar nafsunya mengalahkan akal sehat, tetapi memang kenyataannya Regan sudah tidak sabar ingin sekali mencubit pipi Kaira karena sejak tadi begitu terlihat menggemaskan.
"Selamat ya Kai, kakak senang melihat kamu akhirnya menuju halal. Mudah-mudahan lancar semuanya sampai hari H ya." Naira memeluk adiknya dengan erat. Doa dan harap tersemat, begitupun dengan Haidar yang tiba-tiba nimbrung dan merangkul keduanya.
"Makasih ya, semoga Allah permudah semuanya." Kaira tersenyum melihat keduanya bergantian bahkan tertawa kala keduanya mencium pipi Kaira berbarengan.
"Foto dulu lah kak, buat dokumentasi. Ayah dan aku sudah menyiapkan tempat yang pas untuk kalian foto bersama." Haidar menunjuk sisi ruangan yang sudah di dekor untuk mengabadikan momen. Namun Kaira mendadak kembali grogi melihatnya karena sudah pasti Regan pun ikut serta dan berdiri sejajar disana. Tapi saat ingin menolak, Kaira melihat Haidar dengan cepat berjalan ke arah Regan.
"Haidar rese nich!" celetuk Kaira lirih.
__ADS_1
"Sudah sana Kai! masak iya nggak punya foto berdua," sahut Naira membujuk Kaira yang nampak salah tingkah saat Regan sudah berjalan mendekatinya..
"Kata Haidar kamu ngajak foto?" tanya Regan, membuat Kaira meringis menoleh ke arah adiknya dengan begitu kesal karena sudah membuatnya malu di depan Regan.
"Oh i..itu akal-akalan Ha_"
"Udah kak, sana! keburu kak Regan pulang." Kaira semakin mati gaya dan geram dengan tingkah adiknya yang sengaja mengerjai sedangkan Naira menahan tawanya, lalu ikut membujuk agar Kaira segera melangkah menuju sisi dekor yang sudah tertata cantik.
Akhirnya Kaira pun melangkah menuju tempat yang sudah di siapkan, di susul oleh Regan yang berjalan di belakangnya dan berdiri berjarak dengan menghadap kamera. Keduanya tampak kaku berdiri dengan jarak yang jauh karena, Kaira yang semakin bergeser saat Regan mengikis jarak.
"Kak Kai, aku tau kalian belum halal tapi jangan jauh-jauh juga! masak cuma kak Regan yang kena. Jangan kayak orang musuhan dech kak!" Haidar menghela nafas berat menatap kakaknya yang susah sekali di atur hingga dia pun turun tangan mendekatkan keduanya.
"Udah dek, jangan terlalu dekat!" ucap Kaira mengingatkan.
Regan tersenyum tipis melihat wajah merona Kaira yang semakin memerah dan kembali mengikis jarak namun masih aman. Regan menatap Kaira sekilas kemudian menghadap ke arah kamera. Keduanya nampak tersenyum melihat kamera. Haidar pun menjadi fotografer dadakan yang mengarahkan keduanya dengan beberapa jepretan dengan posisi yang berbeda.
"Aku nggak gigit kan?" tanya Regan menyurutkan senyum Kaira yang berganti dengan bibir merengut. Kaira tadi sempat lupa namun mendadak kesal dan dengan jail ekspresi itu di abadikan oleh Haidar tanpa sepengetahuan keduanya.
Tanpa menjawab Kaira mengambil bantal sofa dan mendorong dada Regan hingga pria itu mundur ke belakang. "Nyebelin!" celetuknya dan segera melangkah menjauh mendekati Naira yang kini sedang menyuapi duo bocil dengan kue yang di sajikan.
"Kamu gemesin, pas seperti boneka tweety yang aku kasih, masih kamu simpan nggak ya?" gumam Regan saat melihat punggung Kaira yang semakin menjauh.
__ADS_1
...🍃🍃🍃...
Mohon dukungannya man teman dan jangan lupa follow Ig aku weni0192