Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 62


__ADS_3

Tangan Kaira bergetar saat netranya melihat benda kecil yang memperlihatkan garis dua di sana. Rasanya belum lama dia memakai alat ini tetapi, pagi ini kembali lagi mengulanginya dengan situasi dan kondisi yang berbeda. Tubuhnya luruh di depan pintu kamar mandi, beruntung Regan dengan cepat meraih dan memeluk tubuh sang istri dengan wajah penuh tanda tanya.


"Kenapa Sayang?" tanya Regan penasaran.


"Lihat kelakuan kamu Mas! Kalandra masih kecil dan kamu sudah membuat adik kecil lagi untuk dia." Kaira pusing memikirkan itu, bukan dia ingin menolak rejeki. Namun, berhubung Kalandra masih sangat kecil untuk berbagi perhatian dan kasih sayang, membuat Kaira dilema.


Regan melihat testpack milik sang istri, bukan sedih seperti yang Kaira rasakan justru dia begitu bersyukur. Regan tersenyum dan menghujani Kaira dengan banyak kecupan. Tidak hanya itu, dia segera mengangkat tubuh Kaira dan berputar dengan tawa riang.


Kaira yang belum siap menerima serangan dari Regan hanya bisa pasrah dengan mengalungkan tangannya di leher sang suami dengan erat. Kepalanya pun semakin berdenyut saat tubuhnya ikut berputar-putar.


"Stop Mas! Aku pusing!" Kaira memukul pundak Regan berulangkali agar suaminya menghentikan aksinya.


Regan pun segera berhenti, dia membawa Kaira untuk kembali ke ranjang dan dengan cepat turun ke bawah untuk mengambilkan sarapan untuk sang istri.


"Mbak Yatni, mulai sekarang masak sayuran lebih banyak ya! Stok buah juga, setiap jam makan jangan lupa ingatkan Ibu untuk makan buah!" ucap Regan menginterupsi Mbak Yatni saat dia sedang menyiapkan makanan untuk sang istri.


"Baik Pak, memang ada apa ya Pak? Apa Ibu sakit?"


"Oh tidak-tidak, istri saya sedang hamil bukan sakit. Jadi, harus makan yang lengkap vitamin dan nutrisinya di perhatikan. Kamu juga boleh ikut makan, nanti dilebihkan saja porsinya."


"Oh i...I...Ya Pak," jawab Mbak Yatni yang terkejut dengan kabar kehamilan Kaira sedangkan yang ia tahu Kalandra baru masuk umur empat bulan.


"Sregep tenan Pak Regan nggawene."

__ADS_1


Mbak Yatni menahan tawa dan mengusap perutnya, dalam hati jangan sampai dia pun begitu. Sang suami harus diberi pagar agar tidak kebobolan seperti majikannya.


Setelah sarapan Kaira di bantu oleh Regan menyiapkan diri untuk menuju dokter kandungan dan anak. Kalandra pun mereka ajak karena bertepatan dengan waktu imunisasi untuk Kalandra, eh ternyata Mamahnya pun perlu di periksa.


"Sehat ya, tidak panas dan tidak flu atau batuk. Kalandra siap di njus ya sama Bu Dokter," ucap Dokter dengan lembut dan suntikan pun diberikan.


"Wah pintar tidak menangis ya dek!"


Kaira dan Regan pun tersenyum melihat putranya begitu berani dan tidak menangis. Kuat sekali menahan sakit, nampaknya calon jagoannya Mamah dan Papah.


"Bukan adek Dok tetapi, Abang," sahut Regan membenarkan panggilan Bu dokter.


"Abang?" tanya Bu Dokter memastikan kemudian melirik ke arah Kaira yang sudah tersenyum dengan wajah merona. Tepatnya Kaira malu tetapi, benar kata Regan, ini anugerah mengingat mendapatkan Kalandra dulu saja butuh kesabaran yang ekstra.


"Iya Bu Dokter, saya telat lagi. Tepatnya tidak sempat pasang kb tetapi sudah keburu dikunjungi bapak rumah tangga." Kaira nampak malu-malu menjawabnya dan di tanggapi senyuman oleh Dokter tersebut.


Regan segera meraih Kalandra dari ranjang dan ikut bergabung di meja Dokter.


"Sebenarnya tidak apa-apa, hanya lebih baik untuk kehamilan itu setelah Ibu yang habis melahirkan melewati masa dua tahun, agar anak bisa mendapatkan gizi dan perhatian penuh dari Ibunya karena tidak harus putus ASI sebelum waktunya. Lalu, Ibunya pun bisa memulihkan rahim yang masih luka dan merawat diri kembali setelah sebelumnya melewati masa kehamilan yang tidak sebentar. Pasti Ibu tau lah bagaimana jika wanita setelah melahirkan. Maka dari itu, adanya KB untuk memberi jeda bukan memutus keturunan!"


"Karena jika kita berniat untuk memutus pun dilarang oleh agama kita ya Bu tetapi, jika Allah sudah berkehendak di berikan dalam waktu yang cepat. Ya sudah, kita patut bersyukur bukan mengeluh. Anggap saja Allah percaya jika kita mampu, kerja kita bagus untuk menjaga dan merawat titipanNya. Maka dari itu, Beliau kasih lagi tanpa harus kita lelah menunggu dan meminta."


Kaira yang tadi sempat menyurutkan senyum, kini kembali mengembangkan senyumnya. Dia yang tadi sempat mengeluh, kini banyak-banyak bersyukur karena, lagi-lagi belum tentu orang lain bisa seberuntung dia.

__ADS_1


"Jadi Ibu Kaira, jangan malu ya. Jika ada yang mengejek, tidak usah di hiraukan. Rejeki Allah tidak ada yang mengira dan tidak mungkin akan tertukar."


"Baik Dok," jawab Kaira dengan sedikit tertawa kemudian menoleh ke arah Regan dengan senyum manis. Kaira menyesal tadi pagi begitu kesal pada suaminya. Padahal Regan tidak salah apa-apa, malah dirinya menyalahkan sang suami tanpa alasan yang jelas.


Setelah pemeriksaan yang dinyatakan positif dengan usia kandungan tujuh Minggu, kini keluarga kecil Regantara segera pulang ke rumah. Sebenarnya, Regan ingin mengajak anak dan istrinya berkeliling dulu, untuk beli jajan atau jalan-jalan selagi ada waktu bersama. Namun, Kaira menolak karena khawatir setelah imunisasi Kalandra akan rewel dan suhu tubuhnya naik. Maka dari itu Kaira ingin buru-buru sampai di rumah agar Kalandra bisa di beri obat.


"Mamah Ceri... Assalamualaikum Mah, kenapa nggak ngabarin kalo mau main?" Dengan cepat Kaira mendekati ibu mertuanya untuk menyalami dan memeluk beliau. Sedikit terkejut karena tidak memberitahu lebih dulu.


"Jangan kencang-kencang jalannya Sayang!" ucap Regan mengingatkan, dirinya yang sedang menggendong Kalandra tidak dapat menghentikan langkah sang istri yang mungkin lupa, jika kini dalam keadaan mengandung.


"Wa'allaikumsalam Nak," jawab Mamah Ceri, kemudian keduanya saling berpelukan. Setelah itu Mamah Ceri menoleh ke arah putranya dengan tatapan heran.


"Jangan posesif gitu sama istri! Kamu yang harusnya pelan-pelan, kan kamu yang sedang menggendong cucu Mamah." Mamah Ceri segera mengambil alih Kalandra dan menimangnya dengan sayang. Sudah hampir sepekan tidak main, rasanya sangat rindu sekali. Beliau di sibukkan dengan kedua anak gadisnya hingga tidak sempat pergi kemana-mana.


"Aku memang menggendong Kalandra Mamah sayang tetapi, Kaira saat ini pun sedang membawa adiknya Kalandra. Makanya aku melindungi sekali keduanya Mah." Dengan lembut Regan menjelaskan kepada Mamahnya, dia pun tidak lupa menyalami tangan beliau dan mengecup kening sang mamah.


Dengan cepat Mamah Ceri menoleh ke arah Kaira, reaksi yang Kaira tunggu-tunggu setelah satu persatu tau kabar kehamilannya. Mamah Ceri nampak seperti orang bingung, beliau segera mengambil ponselnya yang berada di dalam tas dan buru-buru menghubungi seseorang.


"Halo Pah."


"Iya Mah, ada apa? Sudah sampai di rumah Regan? Bagaimana dengan Kalandra? Tunggu ya, nanti Papah meluncur ke sana setelah pekerjaan selesai."


"Pah dengarkan Mamah dulu! ada kabar baik Pah. Regan kembali menghasilkan cucu untuk kita Pah," ucap Mamah Ceri begitu antusias dan bahagia. Namun, berbeda dengan Regan dan Kaira yang tercengang melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2