
Kaira terjingkat saat merasakan tangan melingkar dengan tiba-tiba. Dirinya yang tadi begitu malu segera ingin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri karena tadi berkutat di dapur. Namun baru akan membuka pintu kamar mandi, sepasang tangan kekar menariknya dan mendekap dengan erat.
Siapa lagi jika bukan Regantara, suaminya yang serba tau dan memiliki cinta yang banyak dengan caranya yang terkadang membuat tak percaya. Dekapannya semakin erat hingga Kaira serasa sulit bergerak. Wajahnya pun mulai menelusup di sela leher jenjangnya menimbulkan rasa menggelitik di dalam kalbu.
Kaira merona, tubuhnya meremang dan jantungnya terpompa lebih cepat. Meskipun sudah berulang kali bahkan sering melakukan penyatuan tetapi Kaira masih saja merasa canggung jika Regan memperlakukannya dengan kasih sayang bak ratu.
"Ikut....." Bisik Regan tepat di telinga.
"Hah...??" Kaira tercengang tak mengerti, mulut nya terbuka mengundang tawa sang suami.
"Ayo sayang...Kamu mau mandi lagi kan? padahal udah wangi banget, jangan aja toko bunga pindah ke tubuh kamu. Nanti repot aku ngusir lebah yang pada singgah!"
__ADS_1
Kaira melepas pelukan Regan, mendengar rayuan berbau bualan membuatnya menatap tajam. Regan tersenyum kalem, mengecup pipi Kaira dengan gemas dan kembali membalas dengan tatapan menggoda.
"Nggak usah ngerayu dech, aku tuh masih mangkel loh sama kamu!" ucapnya dengan bibir mengerucut, mengundang inginnya Regan yang sejak tadi menatap tanpa jeda. "Jangan lihat aku kayak gitu!" Kaira yang tak tahan memukul dada Regan dengan geregetan. Sebenarnya dia risih di tatap seperti itu tapi tak menampik tatapan Regan mampu mengobrak Abrik hatinya.
"Kenapa memangnya? Kamu surgaku, halal buatku, dan tempat aku menumpahkan syahwatku. Jadi biarkan aku menatap surgaku yang cantik dan selalu aku rindukan setiap detik.
Bukannya berhenti merayu Regan malah membuat Kaira semakin tersanjung alhasil tidak tahan sampai pipi merona bak tomat. Ucapan Regan dan tatapannya sama-sama seperti madu yang membuat candu. Namun malu dan ingin rasanya Kaira kabur.
"Diam Re, lepasin aku! meresahkan sekali kamu Re! Bisanya bikin jantung aku nggak aman. Jangan buat aku gelisah!" rengek Kaira namun tak membuat Regan menyerah, ia segera menyusup masuk kedalam kamar mandi membuat Kaira tak bisa berkutik.
"Re, mau ngapain? sendiri-sendiri kan bisa Re!"
__ADS_1
"Jika bisa berdua kenapa harus sendiri sayang, ayo sayang nanti keburu magrib!"
Regan sungguh menguji kesabaran, meski berakhir lega tapi Kaira merasa pegal jika terus di bombardir suaminya yang tak kenal lelah. Kaira pun hanya bisa pasrah jika sudah di kunci seperti ini, diam menerima dan mengerang setiap kali gerakan nakal Regan membuatnya seperti terbang ke angkasa.
"Udah Re! kamu nggak denger adzan?" seru Kaira yang masih terkurung di dalam kamar mandi.
"Baru shalawatan sayang, masih ada waktu tujuh menit buat sekali semburan. Katanya kamu mau cepat punya Baby, kita usaha sekali lagi ya!"
Tau dari mana Regan jika dirinya sedang di landa gelisah karena Bu Nola menyinggung momongan. Belum sempat menolak Regan kembali menjeratnya dengan kenikmatan yang membuat Kaira tak mampu berucap tidak.
"Pegel Re! ini posisinya udah kayak kuda tau nggak! aku capek jadinya!"
__ADS_1