
Pagi ini Kaira mendadak rewel hingga Regan sulit untuk berangkat ke kantor. Setelah semalaman lengannya di jadikan bantal oleh Kaira dan tubuhnya di jadikan guling. Sampai menimbulkan kebas dan pegal. Saat ini Kaira tak ingin di tinggal pergi. Alhasil membuat Regan bingung sendiri karena harus segera ke kantor karena ada meeting penting yang tak bisa di tinggal.
Bunda Sella pun sudah membujuk Kaira yang tanpa malu memeluk Regan bak bayi besar yang tak mau di tinggal ayahnya. Beliau pun sampai meminta sang suami menggantikan posisi Regan tapi dengan cepat di tolak oleh Kaira. Bunda Sella ikut pusing menghadapi sikap manja Kaira. Mungkin ini faktor bayi yang kaira kandung, membuat Kaira begitu manja sampai-sampai tidak mau lepas dari pelukan sang suami.
"Kai, kasihan Regan, biar sama Ayah dulu ya. Nanti setelah meeting Regan langsung kembali. Ya kan Regan?" tanya Ayah Dimas memastikan. Beliau pun kasihan pada Regan yang sudah nampak frustrasi. Apa lagi sejak tadi ponselnya terus berbunyi.
"Nggak mau Ayah....Wangi tubuh mas Re nggak ada duanya. Ayah aja beda, Kaira mau mas Regan bukan yang lain." Kaira begitu kekeh, sedangkan Regan kelimpungan karena meeting tidak bisa di undur sebab klien dari jepang yang siang ini akan kembali ke negerinya.
"Sayang, sebentar saja ya... Please, nggak lama kok. Hanya satu jam, ya!" Bujuk Regan, "nanti aku akan cepat kembali dan terserah kamu mau apa."
"Nggak!" Jawab Kaira dengan bibir merengut tanpa mau melepaskan pelukannya.
Regan dan kedua orang tuanya hanya mampu menghela nafas berat, ada-ada saja bumil yang satu ini. Bukannya senang suaminya cari uang, malah ingin membuat suaminya mendadak melarat.
"Kai....Kai... Kamu dulu di deketin sama Regan nolak sampe segitunya giliran sekarang bucin kan! Suami kamu mau kerja Kai, bukan mau main. Biarkan dia meeting dulu! Hanya sebentar saja, nanti jika lama biar Bunda yang nyusul ke tempat meeting nya." Bunda begitu geregetan dengan sikap putrinya. Fiks ini kerjaan cucunya yang masih ada di dalam perut ibunya. Mungkin balasan juga untuk Regan yang dulu sering membuat Kai kesal dan menguji kesabaran Kaira. Giliran sekarang ia yang di uji oleh anaknya dengan perantara istrinya.
"Nggak mau Bunda," jawab Kaira yang semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Assalamualaikum....." Kedua orangtua Regan datang mengucapkan salam. Mereka datang karena tadi Mamah Ceri sengaja memasak makanan kesukaan Kaira. Dan ikut dengan suaminya yang ingin berangkat bekerja. Tapi ntah mengapa Tio pun akhirnya ikut mampir dan ingin sekalian menjenguk Kaira.
"Wa'allaikumsalam...."
"Daddy...." Seru Kaira dengan mata berbinar. Bahkan pelukannya segera ia lepaskan dan merentangkan kedua tangannya saat melihat Tio datang.
Tio yang bingung hanya tersenyum kaku, dia bingung dengan sikap Kaira yang tiba-tiba memanggil dan meminta dirinya segera mendekat.
"Cepat Tio selamatkan putramu!" ucap Sella yang geregetan dengan Tio yang malah menggaruk-garuk kepalanya dengan langkah pelan.
"I..iya....ini anak gue kenapa sich? ngeliat gue udah kayak ngeliat pisang."
"Eehhh....." Tio mengernyitkan dahinya, beliau tak mengapa jika Kaira ingin minta di peluk. Yang ia heran kenapa sikap Kaira jauh dari biasanya. "Kamu kenapa? Bilang sama Daddy!"
"Regan jahat Dad, Regan mau pergi kerja. Padahal aku mau di sayang tapi dianya malah mementingkan pekerjaan." Kaira merengut dengan menyembunyikan wajahnya di perut Daddy Tio.
Tio menoleh ke arah Regan, putranya hanya mengangkat kedua bahu dan pamit bekerja. Dia sudah tak banyak waktu meski sedikit tidak suka karena Kaira yang terlihat nyaman memeluk Daddy nya.
__ADS_1
"Satu jam lagi aku kembali dan Daddy jangan lama-lama memeluk istriku!" ucap Regan kemudian mengusak rambut Kaira namun segera di tepis oleh bumil yang sedang merajuk itu. Regan menggelengkan kepala dan segera pamit dengan kedua mertua dan orangtuanya.
"Ingat Dad, jangan lama-lama!"
"Posesif sekali kamu, sebelum Kai menjadi istrimu sudah lebih dulu dia menjadi anak Daddy! Cemburu kok sama Daddy....." Tio menggelengkan kepala namun Regan justru segera pergi tanpa mendengarkan ocehan Daddy nya.
"Assalamualaikum..."
"Wa'allaikumsalam....." Tio menghela nafas panjang melihat Regan yang sudah keluar ruangan.
Regan lega bisa terlepas dari Kaira namun cukup gemas dengan tingkah sang istri yang justru malah betah dengan Daddy nya. Regan segera pergi ke tempat dimana meeting akan di laksanakan agar cepat selesai dan bisa kembali lagi menuruti apa yang istrinya inginkan.
"Kaira, Mamah buatkan makanan kesukaan kamu. Makan ya!" Ucap Mamah Ceri yang kini meletakkan rantang makanannya di samping Kaira.
"Wanginya sampai sini Mah, makasih ya Mah....Tapi Kaira mau begini dulu. Kaira lagi mual Mah, setelah sholat subuh Kaira muntah-muntah padahal sebelumya nggak. Tapi pas meluk Regan rasa mualnya hilang. Eh Mas Re malah pergi...." lirihnya dengan air mata yang sudah siap terjun ke pipi.
"Sayang, jangan menangis ya...Mas Re mu itu nggak akan lama, hanya meeting sebentar dan nanti akan kembali lagi." Tio yang tau Kaira ingin menangis segera membujuk agar tidak menangis. Bisa kena marah dia oleh Regan jika membuat istrinya malah menangis.
__ADS_1
"Tapi kok ini nyaman sama Daddy, memangnya wangi Regan dan Daddy sama?" tanya Bunda yang penasaran karena dengan Ayahnya saja Kaira menolak keras.
"Beda, Regan wangi anak muda kalo Daddy wangi orang tua. Tapi nggak tau kok aku betah. Mungkin anak aku sedang ingin dekat dengan kakek Tio." Tio menganga mendengar jawaban Kaira sedangkan yang lain mengulum senyum menahan tawa. Dimas pun bersyukur Kaira tidak mau memeluknya, setidaknya dia aman dari celaan putrinya.