
Kaira terbangun saat adzan magrib berkumandang, rasanya tepat di telinga membuatnya gelagapan dan perlahan bangun dari tidurnya. "Astagfirullah... Jadi aku ketiduran, untung terdengar suara adzan. Kemana anak dan suamiku? Kok sepi banget..." Kaira menoleh ke boks bayi namun tidak dia temukan putranya, kemudian Kaira turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu.
Kaira memutuskan untuk sholat terlebih dahulu barulah dia mencari suami dan putranya. Namun, saat dia keluar dari kamar mandi orang yang dia cari-cari memasuki kamar dengan senyum mengembang.
"Baru bangun atau sudah dari tadi?" tanya Regan, dia segera memasukkan Kalandra ke dalam boks bayi lalu karena agar lebih aman saat di tinggal sholat.
"Baru saja, kalian dari mana? Untung saja aku dengar suara adzan, kalo tidak sudah kebablasan sampai malam."
"Tidak mungkin Sayang, tadi aku masuk karena ingin membangun kamu. Ya sudah kita jamaah ya, tunggu aku ambil wudhu dulu sebentar." Regan tersenyum dan mengusap kepala Kaira yang sudah berbalut mukenah.
"Iya Mas," jawab Kaira kemudian menggelar sajadah untuk mereka sholat.
Kaira tersenyum melihat putranya yang begitu anteng dengan berceloteh riang. Sepertinya selesai diberi makan, terlihat pakaiannya yang kotor terkena sisa makanan. Kaira menghela nafas panjang dengan menggelengkan kepala. Beginilah jika suami yang merawat anak, ada saja yang kurang pas tetapi mengingat begitu pengertian suaminya, Kaira tidak mempermasalahkan.
"Mamah sholat dulu ya, nanti setelah sholat Mamah ganti pakaiannya." Kaira mengusap kepala Andra kemudian melirik ke arah pintu kamar mandi yang terbuka. Dia segera menempatkan diri untuk siap menunaikan sholat magrib.
Setelah salam dan melambungkan segenap doa. Kini keduanya telah duduk di atas karpet. Entah mengapa Kaira ingin sekali makan lesehan, mungkin rindu makan di warung lesehan saat dulu di Jogja.
"Nggak apa-apa kan Mas makan di bawah begini?" tanya Kaira yang sudah duduk di memangku piring.
"Tidak apa-apa Sayang, makan di mana saja asal sama kamu pasti terasa nikmat. Apa lagi ini masakan di buatnya dengan kasih sayang. Sudah pasti enak," ucap Regan begitu manis membuat hati meleyot jadinya.
"Manis bener Bapak Regantara ini ucapannya, nanti sambal saya berubah jadi manis kalo kebanyakan gombalan begini." Kaira tertawa melihat Regan dengan cepat merasakan sambal buatannya.
"Wah iya, manis sekali sambalnya seperti kamu." Regan mencium pipi Kaira dengan rusuh.
__ADS_1
"Mas... Kamu habis makan sambal juga. Nanti pipi aku jadi panas!" rengek Kaira kemudian mengusap pipinya dengan menggunakan tisu basah.
Melihat itu Regan hanya tertawa dan memulai makan. Mereka makan dengan khidmat sedangkan Andra sudah tertidur lelap.
...****************...
Hari ini Bi Sumi telah mulai bekerja di rumah Kaira. Usia Bi Sumi sudah tua mungkin sekitar umur lima puluhan. Beliau sangat lembut dan bersikap sopan seperti Kakaknya yang bekerja di rumah Mamah Ceri.
Kaira mulai tenang setelah ada yang membantu pekerjaannya kembali. Dia tidak lagi kerepotan dan bisa lebih fokus menjaga Andra dan menunggu kelahiran anak kedua.
"Bi, saya mau minta tolong jagain Andra, kebetulan saya mau ke luar sebentar. Ada sesuatu yang ingin saya beli. Nanti jika Mas Regan sudah pulang, bilang saja saya sedang ke supermarket di ujung jalan ya Bi," pamit Kaira dengan menyerahkan Andra pada Bibi.
"Baik Bu, nanti biar saya sampaikan pesannya jika Pak Regan sudah pulang."
Kaira segera melajukan mobilnya sendiri, dia ingin membeli beberapa perlengkapan pribadi dan rumah yang sudah habis. Jika tidak membeli sekarang Kaira khawatir Regan tidak mengerti jika suatu waktu dia lahiran dan persediaan habis. Terlebih salah satu yang dibeli ada perlengkapan kewanitaan dan kecantikan.
Setelah semua terkumpul dalam satu troli Kaira segera melangkah menuju kasir. Sedikit repot mendorong belanjaan yang sudah menggunung hingga sulit seimbang hingga menabrak kereta belanja di depannya.
"Eh maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap Kaira tidak enak. Saking beratnya dia mengeluarkan seluruh tenaga, alhasil terlalu kencang dan menabrak milk orang lain yang juga ingin mengantri di kasir.
Pria tersebut menoleh, dia tertegun melihat orang yang berada di belakangnya. Perut yang sudah membesar dengan tampilan ayu yang semakin terpancar.
"Bu Kaira!"
"Pak Dito! Oh jadi Bapak yang saya tabrak tadi, maaf ya Pak saya tidak sengaja. Ada yang rusak nggak Pak belanjaannya? Biar saya ganti jika ada yang rusak." Kaira pun sama terkejutnya. Dia tidak menyangka bisa kembali bertemu dengan Pak Dito setelah hampir lima tahun tidak lagi bertemu. Kaira pun tidak menyangka Pak Dito ada di Jakarta saat ini karena, yang ia tau Pak Dito masih mengajar di Jogja.
__ADS_1
"Oh nggak apa-apa Bu Kaira, tanang saja tadi tidak terlalu kencang. Ibu sendirian? Suaminya mana?"
"Suami saya kerja Pak, mungkin saat ini baru pulang. Bapak sendiri kenapa bisa ada di sini? Bukannya Bapak masih mengajar di Jogja?"
Jadilah keduanya saling mencari tahu dan berbincang tanpa mengingat Regan yang khawatir dengan istrinya setelah tadi Bi Sumi memberitahukan jika sang istri pergi berbelanja sendiri. Bagaimana tidak, jika di kehamilan yang sudah memasuki usia 9 bulan Kaira justru kelayapan tanpa teman.
"Masih Bu, biasa ada acara yang mengharuskan saya ke Jakarta. Mungkin karena Ibu sudah tidak mengajar lagi jadi tidak tau jika ada acara akademik untuk bisa naik menjabat sebagai kepala sekolah. Kebetulan ada sekolah yang kepala sekolahnya sudah harus di ganti dan saya terpilih sebagai salah satunya."
"Oh, jadi kepseknya mau di ganti Pak? Mungkin karena Pak Nurdin sudah ingin pensiun ya?" tanya Kaira yang malah kepo dan asyik saja mengobrol.
"Iya Bu, jadi saya di minta oleh Pak Dimas untuk ke sini. Mari Bu saya bantu saja, ini berat apa lagi perutnya sudah besar begitu." Pak Dito mengambil alih troli belanja Kaira dan mendorongnya lebih dulu masuk ke kasir.
"Makasih banyak loh Pak, itu belanjaan Bapak gimana?"
"Gampang nanti bisa mengantri di belakang Ibu." Pak Dito masih tidak berubah, tetap baik meskipun dulu sempat dikecewakan karena penolakan yang Kaira layangkan. Sedikit ada rasa tidak enak, tetapi semua sudah berlalu dan Kaira melihat Pak Dito sudah tidak mempermasalahkan.
Setelah membayar semua belanjaan, Pak Dito kembali membantu Kaira untuk membawa belanjaannya ke dalam mobil. Keduanya berjalan beriringan dengan saling bertukar kabar.
Pak Dito juga memasukkan semua barang-barang belanjaan Kaira sendirian. Dia tidak ingin Kaira kelelahan, entah mengapa pria itu begitu tidak tega melihat kondisi Kaira.
"Terimakasih banyak ya Pak sudah membantu saya, jadi merepotkan seperti ini. Maaf juga menghabiskan waktu Bapak," ucap Kaira tak enak hati.
"Tidak apa-apa Bu, memang seharusnya Bu Kaira ada yang menemani tadi. Belanjaannya terlalu banyak di kondisi Ibu yang sedang hamil besar."
Kaira tersenyum menundukkan kepala, setelah itu dia segera pamit untuk pulang dan membiarkan Pak Dito lebih dulu berlalu karena sudah di tunggu rekan sesama guru di restoran terdekat.
__ADS_1
"Hati-hati ya Bu Kaira! Mudah-mudahan nanti bisa bertemu kembali menjalin silaturahmi. Baik-baik di jalan, saya duluan," ujar Pak Dito dengan sedikit menundukkan kepala.
"Iya Pak, terimakasih." Kaira pun segara masuk ke dalam mobil, dia membuka pintu namun tetiba ada tangan yang sengaja mendorong pintu itu hingga dengan cepat tertutup kembali. Kaira mendadak tegang saat tau siapa pelakunya.