
Di kehamilan Kaira yang memasuki bulan ke tujuh, calon ibu itu sudah tak lagi mengalami mual muntah dan banyak keinginan yang merepotkan Regan. Kini Kaira lebih sibuk dengan keseharian nya memasak dan merawat tanaman. Membersihkan rumah pun ia yang mengerjakannya.
Kaira menjadi sangat-sangat rajin sampai Regan terkadang khawatir dengan kondisi sang istri. Regan takut sang istri menjadi kelelahan dan dapat berakibat pada kandungan yang sudah membesar. Meski kata orang tua itu semua tidak mengapa dilakukan karena di usia kandungan yang sudah tua memang lebih bagus banyak bergerak tapi harus di imbangi dengan istirahat yang cukup juga.
Kaira juga di sibukkan dengan acara nujuh bulannya yang akan di selenggarakan lusa. Kaira mulai membeli pakaian hamil yang berukuran besar dan segala perlengkapan bayi yang sudah boleh di beli. Regan pun senantiasa menemani berbelanja di waktu-waktu yang memungkinkan.
Seperti hari libur, Regan selalu membantu kegiatan Kaira. Bahkan Regan mau membersihkan kamar mandi di kamarnya sendiri. Entah mengapa Kaira menjadi sangat-sangat suka kebersihan saat ini. Jika sudah begitu Kaira akan tidur siang dengan nyenyak tanpa teringat sesuatu yang belum ia bersihkan.
"Mungkinkah anak kita perempuan? Karena kamu begitu rajin, kata orang-orang kalo hamil laki-laki ibunya akan sedikit jadi malas." Sampai saat ini mereka belum tau jenis kelamin anak yang ada di kandungan Kaira. Karena keduanya ingin hal itu menjadi kejutan pada saat Kaira melahirkan. Mencari perlengkapan bayi pun dengan warna-warna netral begitupun dengan kamar bayi yang sudah Regan siapkan.
"Mungkin, tapi kata mamah dan bunda justru anak kita laki-laki karena terlihat bulat sekali."
"Apa nya yang bulat?" tanya Regan dengan tatapan penuh arti yang membuat Kaira gemas dan mencubit hidung suaminya.
"Sakit sayang!" keluh Regan dengan mengusap hidungnya yang memerah.
"Hhmmmm.....Yang bulat itu perut akunya! pikirannya itu loh..... Otak nya harap di sapu ya Pak agar bersih dan aman terkendali!"
Regan tertawa renyah mendengar ucapan Kaira kemudian mengangkat tangannya lalu hormat, "siaaaaaaap!"
__ADS_1
"Aishh......" Kaira menggelengkan kepala melihat kelakuan suaminya. "Tapi mau laki-laki atau perempuan tidak masalah Mas, aku sudah sangat bersyukur dia hadir di hidup kita. Doakan kami berdua sehat ya mas, dan lancar sampai waktunya tiba." Kaira mengusap lembut perutnya dan Regan pun melakukan hal yang sama. Cukup gemas melihat perut Kaira yang tambah membesar.
"Tentu sayang, aku selalu mendoakan kalian berdua. Terutama kamu, istriku!"
cup
Regan mengecup pipi Kaira dengan mengusal membuat Kaira merengek kegelian. "Maaas....." Namun Regan yang iseng hanya tertawa dan menghujani sang istri dengan banyak kecupan.
...****************...
Acara tujuh bulan sudah selesai, serangkaian acara adat pun sudah di lewati dengan penuh haru dan bahagia. Kaira pun sudah kembali berganti pakaian dengan yang baru setelah tadi melakukan prosesi siraman.
Sampai sore hari acara selesai dan semua tamu sudah mulai meninggalkan kediaman mereka. Kini tinggallah para orang tua yang masih membantu keduanya untuk beberes.
"Mah, Bunda...lebih baik kalian istirahat saja. Biar ini semua Kaira dan Mas Regan yang membersihkannya." Ucap Kaira tidak enak karena Bunda dan mamah Ceri turun tangan dalam cuci piring dan merapikan kue-kue yang masih tersisa.
"Nggak apa-apa sayang, kamu itu yang harusnya istirahat. Jangan sampai kecapekan, lagian Regan, Daddy dan Ayahmu juga sudah ikut membantu. Jadi bumil terima beres saja." Bunda Sella menggiring Kaira untuk duduk diam di samping mamah Ceri yang sedang mengumpulkan kue dan makanan lainnya.
"Nah duduk sini dekat Mamah, oh iya ini Mamah sisakan kue untuk kalian berdua tapi selebihnya biar Mamah kasih ke para penjaga komplek dan bagian bersih-bersih ya Kai. Sayang-sayang masih banyak banget, takut nggak kemakan nanti malah ke buang."
__ADS_1
"Di kasihkan semua juga nggak apa-apa Mah, Kaira dan mas Regan tidak terlalu suka ngemil. Sisakan buahnya saja karena kita berdua lebih suka makan buah Mah."
"Ya sudah ini semua Mamah bagikan dan buahnya Mamah masukkan ke dalam kulkas ya nak!" Mamah Ceri segera menyimpan semua buah yang masih ada ke dalam kulkas. Dan menatanya di sana agar Kaira dan Regan mudah dalam mengambil buah tersebut.
Setelah rapi semua, para orang tua pun pamit untuk pulang. Kaira dan Regan sangat berterima kasih sekali karena orang tua mereka sudah membantu bahkan sampai rumah mereka kembali seperti semula. Rapi dan bersih, karena mereka tau dari Regan jika Kaira semenjak hamil besar tidak suka rumah kotor. Dan maunya membersihkan sendiri tanpa asisten rumah tangga.
"Makasih ya Mah, Pah, Bunda dan juga Ayah sudah membantu sampai acara selesai. Bantu beres-beres juga," ucap Regan kemudian menyalami para orang tua.
"Tidak apa-apa, kami senang. Kaira sehat-sehat ya, nanti jika ada sesuatu yang kamu rasakan cepat telpon Bunda atau Mamah Ceri. Agar kami bisa cepat datang."
"Iya Bunda, Mas Regan juga sudah janji akan banyak bekerja dari rumah jika nanti sudah dekat waktunya."
"Bagus itu, memang harus begitu jangan uang saja yang di cari!" celetuk Daddy Tio yang membuat Kaira mengulum senyum.
"Untuk masa depan Pah." Regan menghela nafas panjang menatap Papahnya yang telah menyindir dirinya.
"Masa depanmu sudah terang Re, anak buahmu banyak. Sekali-kali ambil cuti untuk anak istri, siapa tau setelah Kaira melahirkan bisa menyusul lagi adiknya!"
"Daddy!" kali ini Kaira yang protes, mana bisa begitu habis lahiran sudah hamil lagi. Ada-ada saja memang Daddy Tio ini.
__ADS_1