Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 55


__ADS_3

Niat mau menyambut dan menggoda agar mata sang suami tidak jelalatan malah justru di kira saltum alias salah kostum. Rasanya Kaira benar-benar ingin mengamuk. Dia segera menoleh ke belakang melihat suaminya yang tersenyum menatapnya.


Kucing memang harus di iming-iming dengan makanan sampai perut kenyang jika tidak bisa-bisa tergoda dengan ikan liar di luaran.


Gaun yang super pendek hanya sebatas paha membuat Regan adem panas melihatnya. Mungkin istrinya mengkode agar pulang cepat karena ingin memberikan yang spesial. Auto langsung manut dan tidak akan menolak.


"Sayang..." Regan menelan salivanya dengan susah payah saat melihat Kaira sengaja mengangkat satu kakinya di atas kursi rias hingga menampilkan kain berenda di dalam sana yang isinya sudah lama dia rindukan. Tapi kok terlihat sudah tidak ada bantalan penghalang. Apa mungkin benar sang istri mau memberi kejutan manis di siang hari. Padahal setaunya baru lusa genap sebulan. Tapi setelah diintip terlihat sudah bersih.


Mata Regan semakin berbinar dengan hawa panas yang semakin menelusup sampai ubun-ubun. Pandai sekali istrinya menyambut. Tapi jika di lihat dari aura wajah sang istri kenapa begitu horor. Tak ada senyuman dan tatapannya begitu tajam.


"Sayang kamu kenapa?" tanyanya memastikan.


"Ingin mencuci mata kamu setelah melihat yang bening di luar sana. Karena aku pikir pasti kotor sekali saat ini," ucapannya tidak jelas. Regan menaikkan satu alisnya tak mengerti dengan ucapan sang istri.


Kaira tidak peduli dengan tanggapan Regan yang seperti orang kebingungan. Yang terpenting ia tidak mau kalah dengan wanita di luaran sana. Apa lagi setiap hari sang suami selalu berinteraksi dengan wanita. Bagaimana tidak membuatnya was-was jika di rumah saja hampir sebulan dia hanya dasteran atau mengenakan piyama panjang.


Kaira melangkah maju, mengikis jarak dengan gaya menggoda. Sungguh Regan tidak tahan, jika boleh ia ingin segera melepas semua yang menempel di tubuhnya. Tapi lagi-lagi Regan takut Kaira merasa kesakitan. Mengingat bagaimana sang istri saat melahirkan putranya begitu kepayahan. Salah-salah dia malah kembali membuat luka.

__ADS_1


Melihat Kaira yang terus mengikis jarak, dengan tatapan yang mulai berkabut gairah Regan meraih pinggul Kaira hingga sang istri jatuh ke pelukan. Postur tubuh yang berbeda setelah melahirkan bukan menjadikan Regan mengeluh namun itu yang membuat Regan setiap malam harus mengalihkan pandangan.


"Di peluknya aja berisi banget, gimana kalo ....Aish.... Sebenarnya apa mau kamu sayang, jangan hanya php aja!"


Kini Kaira yang justru di buat mati gaya, tatapan liar sang suami seperti siap menerkam. Terlebih dirinya yang tak lagi dapat menghindar. Rasanya ia akan kalah. Tapi kalo buka tudung saji sekarang, Kaira merasa belum sanggup. Ngeri bercampur ngilu lebih mendominasi. Meski ia pun begitu rindu dengan sentuhan hangat sang suami yang memabukkan.


"Mas...."


"Bukannya kamu sedang menggodaku? Jangan salahkan aku jika kamu tidak akan aku lepaskan sayang. Karena kamu kembali membangunkannya. Bahkan lebih tegak dari sebelumya."


Niat hati ingin menggoda malah dia salah perhitungan. Ibaratnya dia telah masuk ke kandang macan dan akan sulit keluar jika tidak benar-benar membuat sang macan kenyang.


"Kamu benar-benar ingin memulainya siang ini sayang?" tanya Regan dengan suara serak.


"Jelaskan dulu siapa wanita yang tadi mengangkat teleponku? Dan untuk apa kalian di hotel? Kamu mau mencari sangkar yang baru Mas?" tanya Kaira dengan emosi yang tak tertahan setelah mampu membuat sang suami benar-benar tergoda.


"Wanita?" Regan nampak berpikir hingga ia tak fokus dan itu di jadikan kesempatan untuk Kaira mendorongnya dengan kuat lalu menaiki tubuh sang suami tanpa ada rasa ngeri. Bahkan posisi Kaira yang membuka lebar paha seakan lupa jika ia habis melahirkan.

__ADS_1


Bola mata Regan melebar melihat posisi sang istri saat ini. Bahkan gaun yang ia pakai tersingkap dan menampilkan keindahan yang tak ingin ia sia-siakan.


"Siapa wanita itu Mas?" tanya Kaira gemas karena Regan yang tak kunjung menjawab.


"Wanita itu...." Jujur Regan tidak mengerti yang di maksudkan oleh sang istri. Hingga ia teringat akan kliennya yang tadi ia temui di restoran hotel. Mungkin itu yang Kaira maksud, tapi bagaimana bisa Kaira tau.


"Kamu tau dari mana aku bertemu klien aku di hotel?"


Akhirnya sang suami mengaku juga, rasanya hidung Kaira sudah keluar asap dan siap menerkam. Berarti wanita itu berbicara benar, keduanya menghabiskan waktu di hotel dengan berkedok meeting.


"Karena wanita itu sendiri yang mengaku jika kalian sedang ada di hotel. Sudah sampai mana kamu menjelajahinya Mas? Apa karena berpuasa membuatmu khilaf? Iya?" Kaira benar-benar tak mampu menahan amarah. Tangannya dengan cepat membuka ikat pinggang Regan dan memukul si Beno yang masih saja berdiri padahal sudah kepergok nakal.


"Sayang stop sayang! Jangan di pukuli begini!" Sedang tegangan tinggi lalu mendapat pukulan dari sangat istri bukannya membuat Regan kesakitan tapi semakin tak mampu menahan dan menimbulkan gelayar yang tak biasa.


Regan dengan cepat membalikkan posisi hingga kini Kaira yang berada di bawah kukungannya. Regan mencekal kedua tangan Kaira dan meletakkannya dia atas kepala sang istri. Dia paham sekarang, apa yang membuat Kaira bersikap sangat berani. Bahkan siang hari begitu membuatnya antusias mencicipi. Ternyata lagi-lagi faktor cemburu membuat Kaira bertingkah di luar batas.


"Kami bertemu untuk membahas pekerjaan, memang benar di hotel tapi bukan di kamar seperti apa yang kamu bayangkan. Kita berdiskusi di hotel tanpa ada kontak fisik. Jadi jangan pernah meragukan aku, karena sejak kecil sampai sekarang hanya kamu yang membuatku tergila-gila. Sekarang tanggung jawab, si Beno sudah nanggung dan kamu tidak boleh kabur!" Karena Regan paham ini hanya akal-akalan Kaira, setelah berhasil membuatnya adem panas sang istri akan pergi begitu saja.

__ADS_1


"Tapi Mas...."


"Tidak ada kata mundur di saat macan sudah mengaung!"


__ADS_2