
Kepulangan Mbak Yatni dan Mas Yanto adalah salah satu hal yang di nanti Kaira. Sejak pagi Kaira sudah membuat sang suami sibuk dengan Kalandra karena istrinya begitu sibuk di dapur. Kaira membuat berbagai macam makanan. Khusus untuk syukuran kecil-kecilan menyambut kepulangan anak putri kecik Mbak Yatni.
Kaira benar-benar menjadi majikan idaman, begitu baik dan perhatian. Beruntung sekali Mbak Yatni dan Mas Yanto, keduanya pulang dengan rasa syukur yang tiada bisa di ukur. Melihat majikannya membuat syukuran kecil-kecilan dan kamar yang di sulap menjadi kamar bayi yang indah, membuat Mbak Yatni dan Mas Yanto menyurut air mata.
"Makasih banyak Bu, Pak, saya cuma pembantu di sini tetapi perlakuan Ibu dan Bapak begitu istimewa. Pak Regan dan Ibu Kaira begitu baik. Terimakasih banyak, saya tidak bisa membalas kebaikan Ibu dan Bapak." Mas Yanto menundukkan kepala di hadapan Kaira dan Regan, hingga membuat kedua majikannya merasa risih sendiri.
"Jangan seperti itu Mas, kalian sudah saya anggap seperti saudara sendiri," ucap Regan dengan senyum hangat.
Kaira melirik bayi yang berada di pangkuan Mbak Yatni, senyumnya mengembang dengan mata berbinar. Kaira segera mendekat dengan begitu bahagia.
"Assalamualaikum anak sholehah, MasyaAllah cantiknya ini anak Ibu Yatni. Kenalin ini Mamahnya Andra Sayang," sapa Kaira kemudian ikut duduk di ranjang dan mengambil alih bayi cantik itu dengan gemas.
"Wa'allaikumsalam...Ikut Ibu Kaira ya Nak, biar menular dapet cewek juga ya Bu."
"Apa saja Mbak yang penting sehat," jawab Kaira, meski dalam hati memang dia menginginkan bayi perempuan. Namun, kembali lagi semua dia pasrahkan pada yang Maha Pencipta.
Kaira begitu senang menggendong bayi Mbak Yatni. Dia melangkah mendekati sang suami dengan memamerkan bayi cantik yang memiliki lesung pipi dan bibir mungil menggemaskan.
"Cantik sekali ya Mas, nanti akan menjadi temannya Kalandra ini."
__ADS_1
"Iya Sayang, tuh lihat Kalandra sudah ingin meraih pipinya aja. Gemes ya kamu Sayang?" tanya Regan pada Kalandra yang nampak tidak bisa diam. Tidak hanya Mamahnya saja yang gemas tetapi Kalandra pun juga.
Kaira kembali duduk mendekati Mbak Yatni dengan menimang dan memberi kecupan kecil pada bayi imut nan mungil ini.
"Namanya siapa Mbak? Sudah di siapkan belum namanya?" tanya Kaira. Dia menoleh ke arah Mbak Yatni dan Mas Yanto yang tampak sedang berpikir. Kedua pasang mata suami istri itu tampak bertemu pandang dengan saling menyampaikan isi hati melalui netra yang saling mengunci.
Mbak Yatni menganggukkan kepala penuh makna dan Mas Yanto pun tersenyum lalu melakukan hal yang sama. Mereka menoleh ke arah Kaira dengan terus tersenyum, sampai di mana suara Mas Yanto membuat Kaira dan Regan tampak tertegun.
"Untuk nama putri kami, saya dan juga istri telah sepakat akan menyerahkannya kepada Bu Kaira dan juga Bapak Regan. Silahkan Bu, Pak, berikan nama untuk putri kami!" ucap Mas Yanto yang kemudian mendekati sang istri dan merangkul pundak Mbak Yatni dengan sayang.
Kaira masih diam tak percaya, sesuatu hal yang membuatnya merasa di hormati sekali. Dia di beri amanah untuk memberi nama putri kecil yang kini ada di dalam dekapannya.
"Ini serius Mas? Kalian berdua meminta saya yang memberikan nama untuk bayi ini?" tanya Kaira mencari kepastian.
"Kamu saja Sayang yang memberikan nama untuk bayi itu," ucap Regan yang sedang menggendong Kalandra. Regan melihat Kaira tampak terdiam seperti sedang berpikir. Regan gemas sekali ingin mencubit hidung Kaira karena, wajahnya yang begitu lucu.
Kaira mengacungkan tangan dengan mulut terbuka, seperti baru saja menemukan ide cemerlang kemudian tersenyum menatap Regan dan sepasang orang tua baru itu bergantian.
Melihat wajah Kaira yang seperti itu membuat ketiganya ikut tersenyum. Mbak Yatni dan Mas Yanto yakin pasti majikannya sudah menemukan nama yang bagus untuk putrinya. Keduanya saling menatap dan kembali melihat Kaira dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Sudah siap Bu namanya? Saya jadi penasaran," tanya Mbak Yatni namun bukan jawaban yang dia terima tetapi wajah Kaira yang tiba-tiba berubah.
"Bingung Mbak, biar Mas Re saja ya, dia jago buat nama." Kaira kembali menoleh ke arah suaminya yang kini tengah menahan tawa karena, sang istri membuat Mbak Yatni dan Mas Yanto menganga setelah salah sangka. Sebenarnya Regan pun mengira Kaira sudah menemukan jawabannya tetapi, ternyata tidak. Kaira justru masih melempar jawaban itu padanya.
Regan menggelengkan kepala melihat kelakuan istrinya. Ingin sekali menarik Kaira ke dalam pelukan di saat-saat seperti ini. Regan segera berpikir sebentar, mencoba menemukan nama yang pas untuk bayi kecil yang kini sedang menguap dengan mata terpejam.
"Bagaimana jika di beri nama Kemuning Senja, kelak dia akan menjadi bunga kuning yang pesonanya menyinari keluarga." Regan tersenyum melihat istrinya menganggukkan kepala dengan cepat, begitupun dengan orang tua Kemuning.
"Bagus Pak Regan, saya setuju. Kamu bagaimana Yatni?" tanya Mas Yanto yang di jawab anggukan oleh Mbak Yatni.
Mereka sepakat menuliskan nama Kemuning Senja di dalam akte kelahiran bayi cantik ini dan begitu berterima kasih dengan kedua majikannya yang begitu baik pada mereka.
Tidak hanya itu Kaira dan Regan pun menganggap Mbak Yatni dan Mas Yanto seperti keluarga mereka sendiri. Begitu saling menyayangi hingga suatu saat Regan berniat untuk membuatkan Mas Yanto usaha. Hal itu di terima baik oleh Mas Yanto dan Mbak Yatni. Kaira pun menyetujui rencana suaminya. Bukan tanpa alasan Regan ingin membukakan usaha untuk Mas Yanto dan juga istrinya, melihat kerja keduanya yang gigih. Terlebih setelah Mbak Yatni melahirkan, tidak membuat beliau bersantai. Setelah seminggu beliau sudah kembali bekerja dan membantu Kaira lagi.
"Jika boleh kami memilih usaha di kampung Pak, bagaimana? Agar kami bisa mengurus orang tua kami yang sedang sakit-sakitan." Orang tua Mas Yanto memang sudah sepuh dan sering sekali mengeluh saat di telpon. Semenjak Mas Yanto bekerja di rumah Regan dan Kaira, beliau bisa kembali mengirim uang untuk berobat. Namun, karena kondisi yang sudah tua membuat orang tua Mas Yanto kesulitan.
Regan nampak berpikir, dia menoleh ke arah sang istri yang mendadak sendu. Kaira akan merasa kehilangan jika kedua orang pembantu mereka pulang kampung, setelah selama hampir setahun mereka bekerja dengan sangat baik. Belum lagi Kemuning yang sudah mulai aktif menginjak umur ke lima bulan.
"Kenapa Sayang?" tanya Regan yang mengerti kegundahan sang istri.
__ADS_1
"Aku setuju denganmu Mas tetapi, aku pasti akan sangat kehilangan kalian." Kaira mengusap pipi gembul Kemuning membuat balita itu tertawa dan kembali bermain dengan Kalandra.
"Kita akan sering ke sana nanti untuk menjenguk mereka, biarkan mas Yanto sukses dengan usaha yang akan di bangun dan Mbak Yatni pun bisa mengurus mertuanya," ucap Regan yang kemudian mengecup kening sang istri, memberi pengertian pada istrinya dengan suara lembut.