Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 41


__ADS_3

Regan nampak frustrasi, sejak tadi ia hanya diam dengan berulang kali mengucapkan istighfar. Pria itu terduduk lemas di lantai dengan menundukkan kepala. Sedangkan keluarga yang lain diam dengan kepanikan masing-masing. Semua begitu khawatir namun tak ada yang berani bersuara saat melihat Regan yang begitu kalut. Regan juga sedang menitikkan air mata dengan pakaian yang berantakan dan penuh darah.


Meski Regan menunduk agar tidak ada yang tau jika ia menangis, tapi melihat ada tetasan air membasahi pakaiannya membuat semua tau jika Regan sedang menyembunyikan kesedihan. Tio menghela nafas berat dengan memeluk sang istri. Beliau hanya mampu menatap iba dan berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan Kaira.


Semua pun sudah tau dengan kejadian di taman tadi, Naira sudah menceritakannya dan cukup heran dengan darah yang begitu banyak keluar. Sedangkan mereka tau, di sana perosotannya aman dan memang setiap hari di gunakan. Sebelum kaira datang pun anak-anak baru saja main bergantian.


"Sabar sayang....Berdoalah tidak terjadi apa-apa dengan Kaira!" lirih Dimas mencoba menenangkan hati istrinya.


"Sabar Pak!"


Suara pintu terbuka membuat Regan yang sejak tadi bungkam nampak gesit beranjak dan mendekati dokter yang memeriksa sang istri. Dia mengusap air matanya dan berdiri di depan dokter tersebut.

__ADS_1


"Saya mau masuk Dok!" ucap Regan membuat semua tercengang termasuk Dokter yang kini berdiri di hadapannya.


Biasanya saat dokter keluar dari ruangan seorang suami pasti bertanya bagaimana dengan keadaan istrinya. Tapi tidak dengan Regan yang justru ingin menerobos masuk ruangan. Bahkan jika Dokter itu sudah tua mungkin sudah terjengkang saat Regan tiba-tiba mendorongnya.


"Abang, panik boleh gila jangan! Eling bang!" celetuk Retha yang justru mendapat pukulan dari Mamahnya. "Sakit Mah! Abang tuh yang harusnya di pukul, biar tetap waras!" kesal Retha dengan mencebikkan bibirnya. Gadis cantik itu memang terkadang membuat geregetan kedua orang tuanya.


"Regan, kamu tidak ingin tau bagaimana keadaan istri kamu? Coba tanyakan dulu pada Dokter yang memeriksanya, setelah itu baru kamu masuk." Dengan sabar Bunda Sella yang akhirnya angkat bicara. Dia paham saat ini Regan sedang linglung karena kadung panik dan bingung.


"Maaf Dok jika saya tidak sopan, saya terlalu panik tadi. Tapi tolong jelaskan dengan cepat bagaimana dengan kondisi istri saya Dok? Dia baik-baik saja kan Dok?"


Pertanyaan Regan membuat semua menggelengkan kepala, apa lagi Tio yang ingin sekali menjewer anak itu. Beruntung dokter paham dan tersenyum ramah. Mungkin karena sudah banyak menghadapi keluarga pasien dengan berbagai macam sikap dan gaya bahasa membuatnya tidak terlalu kaget dengan sikap Regan.

__ADS_1


"Istri anda mengalami pendarahan."


deg


"Ma...Mak...Maksud Dokter apa?" tanya Regan dengan suara terbata. Hatinya setengah percaya dan rasa takut nya semakin besar.


"Istri anda hamil dan karena terjadi benturan yang cukup kencang. Atau posisi jatuhnya istri anda yang memberi guncangan hebat di perutnya membuat istri anda mengalami pendarahan. Beruntung dengan cepat anda membawa pasien. Jika tidak mungkin kandungan istri bapak tidak bisa di selamatkan."


"Hamil....Kaira hamil....." Lirih Regan.


Sedangkan yang lain nampak menitikkan air mata, mereka bersyukur setelah sekian tahun menanti kehadiran buah hati dari Regan dan Kaira. Dan akhirnya hari ini kabar bahagia itu datang meski berawal kepanikan.

__ADS_1


__ADS_2