
Seharian ini fokus Kaira hanya untuk Kalandra, dari menjemur, memandikan, menyusui, dan merapikan segala keperluan Kalandra agar lebih mudah jika Kaira ingin mengganti popok atau pakaian.
Kalandra pun bisa di ajak bekerja sama dengan baik, tidak rewel dan sangat menghibur Kaira dengan tawanya yang renyah saat posisi tidur. Seperti mengigau atau memimpikan sesuatu.
Hampir sore Kaira dan Kalandra sudah terlihat rapi dan wangi. Kaira ingin mengajak Kalandra jalan-jalan ke taman dengan menggunakan stroller. Tetapi baru saja Kaira ingin menidurkan Kalandra di dalam stroller tiba-tiba salam dan ketukan pintu menggema dari luar.
"Ada tamu Sayang, kita lihat dulu keluar yuk!" Kaira kembali menggendong Kalandra kemudian membuka pintu utama.
Kaira mengerutkan dahi saat melihat wanita seumurannya berdiri dengan tas pakaian di tangannya. Dengan ramah Kaira menyapa dan bertanya tujuan orang itu datang. Sempat kepikiran akan art yang suaminya janjikan, tapi sedikit ragu karena yang bersangkutan masih terlihat muda.
"Wa'allaikumsalam.....Mbaknya siapa ya?"
"Oh Saya yang akan bekerja di sini Bu. Saya di utus dari yayasan untuk menjadi art dan juga momong anak." Kaira menganggukkan kepalanya, namun dia tersadar akan perut wanita itu yang agak membuncit.
"Maaf kamu di utus untuk bekerja di rumah siapa ya? Untuk memastikan saja, karena saya tidak bisa menerima pegawai dengan sembarangan. Maaf ya ..."
"Iya Bu, Saya paham. Saya di utus dari yayasan untuk bekerja di rumah Bapak Regantara. Benarkah Ibu istrinya?"
Kaira menghela nafas lega, setidaknya benar jika wanita ini bukanlah penipu tetapi mengapa suaminya mengutus art yang masih muda dan terlihat sedang berbadan dua. Apa mungkin bisa bekerja dengan baik jika seperti ini.
"Iya benar Mbak. Boleh saya bertanya lagi Mbak?"
"Iya silahkan Bu."
"Eeemmm......Maaf ya Mbak, apa Mbaknya sedang hamil?" tanya Kaira ragu namun dia merasa itu penting di tanyakan.
Wanita itu menundukkan kepalanya kemudian mengusap perutnya yang mulai membesar. Terlihat sekali ada beban hidup tergambar di wajahnya. Kaira mendadak tidak tega melihat orang itu.
"Suami saya kena PHK Bu, Kami baru menikah selama satu tahun dan belum memiliki modal untuk usaha. Suami saya sudah sebulan tidak bekerja dan membuat saya mau tidak mau harus melamar kerja untuk membantu mencukupi kebutuhan. Tetapi Ibu jangan khawatir, saya orang kampung Bu, saya biasa kerja keras dan bisa mengurus rumah serta bayi. Karena sebelum menikah, saya pernah menjadi TKW di luar Bu. Dan selama menikah saya di bawa suami saya ke Jakarta. Tapi karena ada pengurangan karyawan, akhirnya suami saya harus di rumahkan."
Kaira paham sekarang, tapi apakah Regan mau jika memiliki pekerja dalam keadaan hamil begini. Sepertinya suaminya tidak tau akan itu, atau memang Mbaknya merahasiakan akan dirinya yang tengah mengandung.
"Apa pihak yayasan tidak tau jika Mbak sedang mengandung?"
__ADS_1
"Tidak Bu, jika mereka tau, saya tidak mungkin di terima bekerja. Maka dari itu saat datang ke yayasan dengan mengenakan pakaian suami saya, agar tidak terlihat sedang hamil."
Kaira bingung harus bagaimana, jika dia menolak pasti hidup wanita itu akan menjadi tambah susah. Tetapi jika dia menerima, bagaimana dengan kerjanya. Kaira tidak mungkin tega meminta wanita hamil untuk bekerja berat.
Saat kaira tengah berpikir keras tiba-tiba wanita itu bersimpuh di hadapannya membuat Kaira terkejut dan berusaha membantu untuk berdiri dengan satu tangan.
"Mbak bangun! Jangan seperti itu, saya bukan Tuhan yang harus di perlakukan seperti ini Mbak!"
Wanita itu menolak dan tiba-tiba memohon dengan menangis. Kaira pun di buat panik dan melihat sekitaran luar pagar takut ada yang melihat dan akan salah paham.
"Bu, saya mohon terima saya Bu. Saya butuh uang untuk membantu suami saya dan memeriksa kandungan setiap bulannya Bu. Setidaknya sampai suami saya kembali mendapat pekerjaan dan saya bisa membelikan motor untuk dia narik ojek Bu. Saya mohon Bu terimalah saya bekerja di sini! Saya janji tidak akan mengecewakan Ibu."
Kaira menghela nafas berat, dia memijit pelipisnya bingung harus menerima atau tidak karena dia pun tidak bisa memutuskan sendiri, sedangkan suaminya belum tau kondisi pegawai baru.
"Mbak bangun dulu, jangan begini Mbak! Ayo bangun Mbak!" dengan lembut Kaira membantu orang itu untuk kembali berdiri.
Di tengah-tengah kebingungannya tiba-tiba sang suami pulang. Setelah memarkirkan mobilnya dengan rapi, Regan segera turun dan mendekati Kaira.
"Assalamualaikum sayang..."
"Hello jagoan Papah... Assalamualaikum Nak."
"Wa'allaikumsalam Mas..."
Regan melirik wanita yang nampak menunduk dengan mata sembab kemudian kembali melihat sang istri dengan tatapan penuh tanda tanya.
Kaira yang mengerti segera menjelaskan sesuai dengan cerita dari wanita itu yang membuat Regan harus berpikir keras. Regan menimang-nimang dan memikirkan semuanya dengan pikiran tenang.
"Suami Mbak sekarang dimana?" tanya Regan dengan menjaga pandangannya.
"Suami saya di rumah Pak, tadi ada tetangga yang meminta bantuan suami saya untuk membenarkan bocoran." Wanita itu pun segera tertunduk setelah tau calon majikannya sangat menjaga batasan.
"Kalo begitu, besok Mbak datang kesini lagi bersama dengan suami Mbak!"
__ADS_1
"Maksudnya gimana Mas?" tanya Kaira yang penasaran dengan apa yang di maksudkan oleh suaminya.
"Karena kondisi Mbak yang tidak memungkinkan untuk bekerja berat, saya ingin memperkerjakan juga suami Mbak agar bisa membantu pekerjaan Mbak dan bisa menjadi penjaga rumah ini. Karena di rumah ini ada harta berharga yang harus di jaga yaitu istri dan anak saya."
Kaira nampak tertegun mendengar penuturan dari suaminya, bahkan kini wajahnya nampak merona karena tersanjung dengan apa yang di ucapkan oleh Regan.
Regan tersenyum lalu merangkul tubuh sang istri, "istri saya adalah berlian yang harus saya jaga sampai akhir hayat saya. Dan ini putra saya ibaratkan emas yang juga harus saya jaga sampai dia tau kemana arah hidupnya kelak. Jadi saya harap jika Mbak bersungguh-sungguh ingin bekerja di rumah ini. Bekerjalah dengan baik dan bantu saya untuk menjaga harta berharga saya ini."
Wanita itu paham dan mulai bisa menyunggingkan senyum, dia bersyukur bisa di terima dengan baik. Terlebih suaminya pun ikut bekerja di rumah ini untuk membantunya, jadi dia tidak khawatir di saat tidak bisa melakukan sesuatu karena keadaannya.
"Baik Pak, besok pagi-pagi sekali saya akan datang kembali kesini sebelum Bapak berangkat kerja. Terimakasih banyak Pak atas kebaikan Bapak yang sudah menerima saya dan suami saya. Semoga pertolongan dari Bapak menjadi berkah dan selalu di beri kesehatan. Saya pun akan menjaga Ibu dan juga putra Ibu dengan sebaik-baiknya."
"Aamiin....Makasih Mbak. Oh iya hampir lupa, nama Mbaknya siapa ya?"
"Nama saya Yatni Bu dan suami saya namanya Mas Yanto."
Kaira mengangguk paham kemudian mempersilahkan Mbak Yatni untuk pulang. Tidak lupa dia memesankan ojek online untuk mengantar Mbak Yatni pulang.
" Hati-hati ya Pak, Mbaknya lagi hamil!" ucap Kaira pada driver online yang datang.
"Baik Bu."
"Bu, Pak saya pamit pulang dulu, terimakasih sudah di pesankan ojek begini," ucap mbak Yatni dengan ramah. Dia merasa sangat beruntung sekali bertemu dengan keluarga yang sangat baik.
"Iya Mbak, hati-hati!" ucap Kaira yang terus memperhatikan Mbak Yatni hingga motor yang di kendarai mulai meninggalkan pagar.
Regan mengecup pipi Kaira setelah motor Driver online itu menjauh.
"Mas.."
"Mau kemana sudah cantik begini Sayang?" tanya Regan dengan memperhatikan penampilan Kaira.
"Tadinya mau jalan-jalan sama Kalandra tapi, ada Mbak Yatni tadi terpaksa nggak jadi."
__ADS_1
"Ya sudah besok kalo Papah libur jalan-jalannya sama Papah saja ya nak!" Regan segera meraih Kalandra dan mendekapnya, kemudian merangkul sang istri untuk masuk ke dalam rumah.