Jodohku Regantara

Jodohku Regantara
Bab 71


__ADS_3

"Hai sayang... Assalamualaikum ponakkan aunty." Rayya datang ke rumah sakit dengan di temani oleh pria yang di gadang-gadang mantan yang akan menjadi suaminya. Berawal sulit mendapatkan restu dari Papah. Namun, dengan berat hati sang Papah mengabulkan demi kebahagiaan putrinya.


"Wa'allaikumsalam aunty. Siapa dia Ray?" tanya Kaira dengan melirik sebentar pria yang dengan canggung melangkah masuk.


"Oh ini, calon Kak." Rayya menoleh ke arah pria itu dan memintanya untuk mendekat. "Sini! Kenalin ini Kakak ipar aku," ucap Rayya. "Dan itu Kakak aku, Kak Regan." Rayya ragu saat memperkenalkan Regan, dia takut Regan akan seperti Papahnya.


Pria itu pun menyalami keduanya dengan Kaira yang mengatupkan kedua tangan di depan dada. Kaira menoleh ke arah Regan dengan tersenyum. Wanita itu ingin suaminya bersikap sedikit hangat dan tidak cuek sendiri.


"Mau minum kopi biar saya buatkan?" tanya Regan kepada pacar Rayya.


"Boleh Kak," jawab Reza kalem kemudian melangkah menuju sofa, menunggu Regan membuatkan kopi sedangkan Rayya bernafas lega melihat sikap Regan yang melunak.


"Makasih ya Kak Kai, berkat Kakak Kak Regan luluh." Rayya menggenggam kedua tangan Kaira dengan berbisik.


"Iya, suamiku hanya belum mengenal pacar kamu. Jika sudah mengenalnya pasti dia baik."


"Tapi Kakak pawangnya, jika tidak ada Kakak pasti Kak Regan akan seperti Papah yang sulit untuk menerima."


Kaira mengulum senyum melihat wajah Rayya yang cemberut. Dia tau Rayya pasti terbebani dengan restu orang tua yang tak seluas langit.


Hampir malam Rayya baru pulang, dia sibuk berceloteh sendiri dengan keponakan barunya. Jika tidak diusir oleh sang Kakak mungkin wanita itu masih anteng duduk dengan memangku Kashafa.


"Tidur Sayang! Besok pagi kita pulang." Regan menarik selimut istrinya dan mengusap kening sang istri agar segera mengantuk dan tidur.


"Mas juga tidur ya! Alhamdulillah besok pagi aku sudah boleh pulang. Rasanya rindu sekali dengan Kalandra Mas."


"Iya Sayang, setelah kamu tidur Mas juga akan tidur di sofa." Regan membuai lembut istrinya. Dia pun tidak lupa memastikan Kashafa tidur dengan nyaman.

__ADS_1


Regan merebahkan tubuhnya di sofa setelah sang istri tertidur nyenyak. Pria itu berusaha memejamkan mata selagi putranya masih nyanyak karena Regan berniat untuk bangun membantu sang istri dan tidak membiarkan Kaira begadang sendiri.


Tepat jam empat pagi, Regan terjaga mendengar Kashafa merengek. Bayi itu tidak menangis dengan kencang, hanya rengekan kecil namun mampu membangunkan sang Papah.


"Iya Sayang, mau nen ya?" tanya Regan dengan langkah panjang mendekati boks bayi. Dia melihat Kashafa begitu gelisah. Sebelum membangunkan istrinya, Regan terlebih dahulu memeriksa Kashafa. Ternyata bayi itu gelisah karena popoknya basah.


Dengan telaten Regan menggantikan popok dan baju Kashafa. Pengalaman membantu Kaira mengurus Kalandra membuatnya tidak terlalu kaku lagi. Regan bahkan bisa memakaikan bedong untuk putranya. Kali ini Kaira dan Regan pun memutuskan mengurus kedua putranya sendiri tanpa merepotkan orang tua.


"Ayo sekarang juga bangunkan Mamah, pasti kamu haus kan?" Regan mengangkat tubuh Shafa dan melangkah menuju sang istri yang masih begitu lelap. Mungkin Kaira sangat lelah karena sejak pagi tak beristirahat. Keluarga yang bergantian datang membuat Kaira tak enak hati meskipun ingin sekali memejamkan mata. Terlebih dari kemarin malam sudah terjaga karena kontraksi yang menyakitkan.


"Sayang..." Regan mengusap pipi sang istri, dia tidak ingin membuat Kaira terkejut dan sakit kepala setelah bangun.


"Eugh... Mas..." Kaira mengucak matanya melihat sang suami yang sedang menggendong Kashafa.


"Bangun dulu ya Sayang, ada yang mau minta nen," ucap Regan dengan memperhatikan putranya yang begitu anteng.


Hampir sepuluh menit Kaira menyusui Kashafa. Bayi itu begitu kuat menghisap hingga kembali tertidur nyenyak.


Regan tak kembali tidur, dia bersiap untuk sholat subuh. Regan pun memilih sholat subuh di musholla sementara Kaira menunggu dengan kembali merebahkan tubuhnya.


Setelah selesai pria itu membantu sang istri untuk bersih-bersih. Kaira sudah lebih sehat dan pagi ini sudah boleh pulang.


"Mas, kamu sudah selesaikan semua administrasinya?" tanya Kaira sebelum keduanya keluar dari kamar.


"Sudah Sayang, mobil juga sudah aku siapkan di depan jadi, kita bisa langsung pulang."


Kaira menganggukkan kepala dan melangkah perlahan menuju lobby rumah sakit. Regan menggendong Kashafa sedangkan barang-barang sudah lebih dulu masuk mobil.

__ADS_1


"Pelan-pelan Sayang!"


"Iya Mas," jawab Kaira. "Kenapa nggak minta Bunda datang dan membantu kita pulang?"


"Tidak melulu harus merepotkan orang tua Sayang. Nanti saja kalo sudah di rumah, biar Bunda tinggal menimang cucunya." Nampaknya Regan ingin benar-benar mandiri. Bahkan apapun yang merepotkan tidak ingin melibatkan orang tua lagi. Dia ingin orang tua tinggal terima jadi tanpa harus mengeluarkan tenaga karena mereka sudah waktunya bersantai menikmati masa tua.


Regan menyetir sedangkan Kashafa berada di pangkuan Kaira. Sampai di rumah, Bibi sudah siap membantu. Beliau segera membawa masuk barang-barang sedangkan Regan kembali menggendong Kashafa.


"Bisa turunnya?" tanya Regan dengan lembut.


"Bisa Mas." Kaira perlahan turun dari mobil dan berjalan masuk. Senyum wanita itu mengembang saat melihat Kalandra berjalan mendekat. Bocah berumur satu tahun itu memang sudah pandai berjalan dan berceloteh. Bahkan baru di tinggal satu malam menginap di rumah sakit, banyak sekali perkembangan yang Kaira lihat.


"Ma...Ma...Ma..."


"Eh anak Mama sudah bisa manggil-manggil Mamah ya. Pintarnya..." Kaira meraih tangan Kalandra dan mengajaknya duduk di sofa.


"Kok nggak panggil Papah?" tanya Regan yang juga ingin dipanggil oleh Kalandra.


"Coba panggil Papah, Sayang!" perintah Kaira dan mengajarkan Kalandra untuk mengucap Papah.


"Dedededede..."


"Oh Dedek, iya ini Dedek Shafa," sahut Kaira dengan tersenyum bahagia. "Pintar sekalia Nak! Kenapa tidak panggil Papah? Ngambek ya sama Papah karena ditinggal urus Mamah?"


Kalandra tak menjawab, anak itu fokus mengamati adiknya yang kini berada di pangkuan sang Papah.


"Dedededek..." Kalandra tertawa membuat kedua orang tuanya gemas.

__ADS_1


__ADS_2