
Sampainya di rumah, Sevan memilih untuk membersihkan diri setelah pulang dari jalan-jalan pagi. Sedangkan Yilan yang baru saja selesai membantu ibunya Sevan menyiapkan sarapan pagi, ia kembali ke kamar untuk mengambil handuk.
Namun, setelah melihat Sevan yang keluar dari kamar dengan membawa handuk, Yilan akhirnya mengurungkannya dan memilih menunggu sampai selesai mandi.
Karena takut terjadi hal yang sama ketika dirinya berada di kamar mandi, Yilan memilih untuk menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Gak mungkin juga jika aku menghubungi Erli, nanti kalau disampaikan sama Papa, bisa gawat. Tapi, aku juga tidak ingin Mama khawatir." Gumam Yilan yang penuh dilema.
Tentu saja dirinya khawatir dengan ibunya. Mau bagaimanapun, seorang ibu pasti akan mengkhawatirkan keadaan putrinya berlipat lipat ganda rasa kehilangannya. Namun, ia juga teringat jika dirinya tidak mau dijodohkan.
Sedangkan yang berada di kota, kedua orang tuanya Yilan tengah khawatir dengan keadaan putrinya.
"Pa, gimana ini? Mama sangat khawatir dengan Yilan. Kalau terjadi sesuatu padanya, kita bisa apa?"
"Mama tenang saja, aku akan meminta sama orang kepercayaan ku untuk mencari keberadaannya Yilan. Mama tidak perlu cemas. Yilan bukan anak bo_doh, dan tidak mungkin juga dia kabur tanpa tujuan." Sahut Zavan selaku kakak laki-lakinya Yilan yang baru pulang dari luar negri.
"Ya udah, cepat kamu hubungi orang kepercayaan kamu itu. Nanti siang keluarga Radmaja akan datang. Papa juga belum mengatakan kalau adikmu telah kabur dari rumah. Jadi, tugas kamu hari ini mencari keberadaannya Yilan, adikmu. Biar Papa sama Mama yang akan menjelaskan kepada keluarga Radmaja." Ucap Tuan Bonar.
"Baik. Jika itu keputusan Papa. Kalau begitu aku pergi untuk mencari Yilan, juga mencari info soal Yilan. Juga, mencari bukti rekaman CCTV kemana saja dia pergi." Jawab Zavan yang juga dibuatnya pusing oleh adiknya sendiri.
Tuan Bonar mengiyakan, dan Zavan segera pergi untuk mencari keberadaan adiknya.
Di lain tempat, yakni di kampung halaman, Sevan yang baru saja mandi, kini giliran Yilan untuk membersihkan diri. Kemudian, selesai mandi Yilan bersama kedua orang tuanya Sevan dan juga Sevan sendiri ikut sarapan pagi dengan bubur dan pisang goreng.
Sambil menikmatinya, tak lupa juga sambil bertukar cerita. Sevan yang sudah menghabiskan satu mangkok bubur, ia mengatur napasnya untuk mengatakannya dengan jujur.
"Bu, Pak, Sevan ada sesuatu yang ingin disampaikan." Ucap Sevan dengan serius.
Yilan yang mendengarnya, pun penasaran dan memilih diam dan tidak memotong pembicaraan atau ikut campur.
"Ya, Nak. Memangnya apa yang ingin kamu sampaikan kepada kami?"
Ibunya pun menjawab dan balik bertanya kepada anaknya.
__ADS_1
"Katakan saja apa yang ingin kamu sampaikan, Nak." Timpal ayahnya ikut menjawab.
Sevan kembali mengatur napasnya.
"Sevan mau ke rumahnya Alia, Sevan mau melamar dan sekalian mau menikahi Alia dalam jangka dekat ini, Bu, Pak. Jadi, Sevan ingin mengajak Bapak untuk menemani Sevan melamar."
Kedua orang tuanya bukannya tersenyum senang, justru saling menatap satu sama lain. Tentu saja, raut wajahnya berubah terlihat sedih. Namun, kedua orang tuanya tidak mampu untuk mengatakannya secara langsung.
Sesuai kesepakatan kedua orang tuanya, akhirnya membiarkan Sevan untuk mendatangi Alia di rumahnya, meski ada resepsi pernikahannya.
Sungguh tak kuasa ketika melihat putranya harus sakit hati dan kecewa nantinya. Namun, apa daya, tidak bisa menghalanginya.
Yilan yang merasa aneh dengan kedua orang tuanya Sevan, dirinya sama sekali tidak berani untuk ikut campur.
"Ibu dan Bapak hanya bisa mendoakan kamu, semoga apa yang menjadi niatmu dan juga tujuan kamu, semoga kamu tidak kecewa. Mau bagaimanapun, Ibu hanya meyakinkan kamu untuk memilih perempuan yang menurutmu tepat menjadi pending hidup seumur hidupmu." Jawab ibunya.
"Benar, anakku. Maafkan Bapak yang tidak bisa menemani kamu, dan yang dikatakan Ibumu itu benar, kami hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan untuk masa depanmu dengan perempuan yang kamu pilih." Kata ayahnya yang juga ikut menjawab.
Sevan tersenyum lega, niatnya telah direstui oleh kedua orang tuanya.
"Tidak! aku tidak mau pulang ke kota. Aku tidak mau dijodohkan, titik."
Dengan reflek, Yilan bicara dengan keras, lantaran terbawa suasana Sevan yang akan menikah.
"Woi! ngigau Lu."
Sevan langsung mengagetkan Yilan.
Seketika, Yilan tersadar dengan ucapannya barusan. Kemudian, Yilan nyengir kedua.
"Maaf, aku tadi terbawa suasana." Jawab Yilan sambil menghadap ke Sevan.
"Maaf, maaf. Yang ada kamu tuh bikin orang kaget. Untung Ibu dan Bapakku tidak punya riwayat penyakit jantung, bisa besar urus urusannya kalau terjadi sesuatu pada kedua orang tuaku."
__ADS_1
"Ya maaf, aku gak sengaja tadi."
Kedua orang tuanya Sevan justru tersenyum ketika melihat putranya dan Yilan yang terlihat ada kecocokan.
"Sudah, jangan berdebat. Kamu Sevan, bersiap-siap lah kalau kamu ingin pergi ke rumahnya Alia. Nanti kalau terus berdebat, kapan ke rumahnya." Ucap ibunya melerai.
"Aku ikut kamu, ya. Enggak, enggak, enggak, tadi itu aku cuma bercanda."
Sevan yang gregetan, ingin rasanya mer_emas bibirnya.
"Sudah, jangan berantem. Yilan biar di rumah saja temani Ibu. Untuk Sevan, Ibu dan Bapak hanya bisa mendoakan kamu, Nak." Ucap ibunya.
"Terima kasih banyak ya, Bu. Sevan pamit untuk berangkat. Sevan tidak akan memaksa Bapak untuk ikut. Mendapat doa dari Ibu dan Bapak saja sudah sangat senang." Jawab Sevan.
Kedua orang tuanya pun mengangguk. Kemudian, Sevan segera bersiap siap dan bergegas pergi ke rumahnya Alia.
Setelah Sevan pergi dari rumah, kini tinggallah Yilan bersama kedua orang tuanya Sevan di rumah.
"Nak Yilan, kamu segera menyusul Sevan. Kasihan dia, soalnya hari ini itu sebenarnya hari pernikahannya kekasihnya yang bernama Alia. Ibu akan mencarikan orang untuk mengantarkan kamu ke rumah yang punya resepsi. Tolong kami ya, Nak. Takutnya Sevan hilang kendali dan tidak bisa untuk dikendalikan." Ucap ibunya Sevan penuh kekhawatiran terhadap putranya.
"Benar, Nak Yilan. Kamu harus segera menyusul Sevan, Bapak takut terjadi sesuatu padanya." Timpal ayahnya Sevan yang juga penuh khawatir.
Yilan yang mendengarnya, pun sangat terkejut. Sungguh diluar dugaannya.
"Jadi, hari ini hari pernikahannya kekasihnya Sevan?"
"Ya, Nak Yilan. Tolong ya, kamu segera menyusul Sevan. Kami takut terjadi sesuatu pada anak kami."
Yilan yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau pun tidak bisa menolak.
"Bab-baik, Bu. Yilan akan segera menyusul. Tapi, naik apa, Bu?"
"Naik motor. Sebentar ya, biar Bapak minta tolong sama tetangga untuk mengantarkan kamu menyusul Sevan."
__ADS_1
Yilan pun mengiyakan dan segera bersiap-siap.