Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Sampai di rumah


__ADS_3

Sevan yang tengah dikagetkan, pun hampir saja jantungan karena fokus melamun.


"Ayo kita kembali ke mobil. Sepertinya Yilan bersama Gazan sudah selesai makan siangnya." Ajak Zavan kembali melanjutkan perjalanan pulang ke kota.


"Baik, Tuan." Jawab Sevan dengan patuh.


Kemudian, keduanya menghampiri Yilan dan Gazan.


"Sudah selesai makannya?" tanya Zavan.


"Sudah, kenapa?" sahut Gazan dan balik bertanya.


"Kalau sudah, ayo kita kembali ke mobil. Kita lanjutkan perjalanan kita pulang ke kota. Waktu kita tidak banyak, agar pulangnya tidak sampai larut malam." Jawab Zavan dan bergegas masuk ke dalam mobil diikuti oleh Sevan, juga Yilan dan Gazan.


Seperti semula, tempat duduknya tidak berubah. Gazan duduk bersebelahan dengan Yilan, sedangkan Sevan duduk bersebelahan dengan Zavan. Lagi-lagi Sevan duduk di belakangnya Yilan, perempuan yang sudah mengambil ciuman pertamanya.


Sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan, kini selalu terbayang dengan ingatannya saat bersama Yilan. Meski hanya beberapa hari saja, namun serasa mempunyai perasaan yang sama.


Begitu juga dengan, rupanya dirinya pun sama sering membayangkan Sevan saat baru pertama kali bertemu hingga hal konyol yang sudah dilakukannya. Seumur hidupnya pun belum pernah seberani itu saat mengambil ciuman bersama Sevan, tapi dirinya merasa begitu tertarik dan merasa nyaman bersamanya.


Senyum senyum sambil melamun dan terlihat senyumnya yang tidak jelas, membuat Gazan menjadi penasaran apa yang tengah dipikirkan oleh Yilan.


'Aku duduk di belakang saja, ya?" tanya Yilan saat menoleh ke belakang, tepatnya pada kakaknya sendiri.


"Enggak usah aneh-aneh kamu itu. Sudah bagus duduk di depan, kenapa mau pindah ke belakang?"


Zavan pun semakin yakin pada adiknya sendiri.


"Pingin tidur aja, disini gak nyaman." Jawab Yilan beralasan.


"Apa bedanya depan dengan belakang, Yil? sama aja mau di depan maupun di belakang sekalipun."


"Ih! kenapa sih, Kak Zavan judes banget. Lagian juga, aku duduknya di belakang sama Kak Zavan. Salah gitu ya, aku duduk disebelah kakakku sendiri."

__ADS_1


Zavan yang mengerti jika adiknya tak punya pilihan lain untuk menjadikannya alasan, pun mengiyakan.


"Baiklah kalau memang itu mau kamu. Untuk Sevan, kamu duduk di depan bareng Gazan, biar Yilan duduk dibelakang bareng aku." Ucap Zavan.


"Tidak perlu, biar aku yang akan duduk di belakang bareng Zavan. Jadi, Sevan duduk di depan bareng Yilan." Timpal Gazan ikut berkomentar.


Tentu saja, Gazan sendiri penasaran dengan kedekatan Sevan bareng Yilan.


"Tidak, Tuan. Sebaiknya Tuan duduk bersebelahan dengan Nona Yilan, bukan saya." Jawab Sevan menolak.


"Tidak apa-apa, duduklah di depan bareng Yilan. Tenang saja, aku tidak mempermasalahkannya." Ucap Gazan yang akhirnya meminta Sevan untuk bertukar posisi.


"Aku kan, maunya duduk di belakang bareng Kak Zavan. Kenapa jadi gini, aih."


Yilan pun ikutan berkomentar.


"Ya udah. Sevan, kamu duduk bersebelahan dengan Gazan. Biar Yilan duduk bersebelahan denganku." Ucap Zavan kepada Sevan.


Kemudian, meminta pak supir untuk memberhentikan mobilnya. Setelah itu, Yilan dan Sevan bertukar posisi.


Setelah bertukar posisi, pak supir melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Yilan yang sudah duduk di sebelah kakaknya, kini merasa lebih tenang dan tidak menjadi beban pikiran.


Dengan sikap manja, Yilan bersandar di bahu kakaknya. Sedangkan Sevan yang tengah duduk bersebelahan dengan Gazan, keduanya tidak ada yang bersuara.


"Kak," panggil Yilan sambil bersandar.


"Hem! kenapa?"


"Enggak kenapa-napa, aku cuma mau tidur aja, ngantuk." Jawab Yilan yang langsung memejamkan kedua matanya.


Zavan yang selalu memanjakan adik perempuannya, begitu dekat dan juga menyayanginya.


'Kakak akui, Sevan juga lelaki baik, bertanggung jawab dan tidak diragukan lagi kesetiaannya. Tapi posisinya ada pada keluarga, mungkin saja akan menentang jika kamu menikah dengan Sevan. Maafkan kakak kamu ini, yang tidak bisa berpihak padamu, gadis kecilku. Semoga saja, Gazan memang lelaki baik untukmu.' Batin Zavan penuh harap, jika adik perempuannya jatuh ke tangan lelaki yang tepat, bukan hanya untuk dimanfaatkan saja.' Batin Zavan memikirkan adik perempuannya.

__ADS_1


Cukup lama memakan waktu dalam perjalanan menuju kota, akhirnya sebentar lagi akan memasuki kota kelahiran Yilan bersama kakaknya dan Gazan.


Sevan yang tengah memperhatikan jalanan kota, ingatannya kembali saat bertemu dengan gadis yang tidak dikenali sebelumnya. Tidak tahunya, perempuan yang bersamanya adalah adik dari bosnya sendiri. Sungguh dunianya sama besarnya dengan daun kelor.


'Selamat datang kembali kota pencari kesuksesan, dan kini aku akan mengawali perjalanan karirku, entah menjadikan ku sukses, atau akan menetap di kampung halaman.' Batin Sevan dengan posisi kedua tangannya yang menyilang sambil memperhatikan jalanan ibu kota.


Perjalanan yang begitu panjang hingga memakan waktu yang cukup lama, tidak terasa telah memasuki jalanan ibu kota.


Harapan bisa pulang dan melamar serta menikahi perempuan yang dicintainya, kini harus pupus begitu saja. Rencana untuk hidup bersama di kota, hanya angan angannya saja. Justru sekarang harus terlibat dengan masalah baru, yakni dengan adik bosnya sendiri.


Sevan yang takut karirnya akan hancur, berusaha untuk menghindari adik bosnya. Takut, jika cita-citanya akan hangus sebelum tergapai.


Setelah memakan waktu yang begitu lama dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah utama milik keluarganya Yilan dan Zavan. Rumah yang begitu besar dan juga megah dengan luasnya halaman rumah bak istana. Sungguh, Sevan tidak sepadan jika harus menjadi suaminya Yilan. Juga tidak sebanding dengan calon suaminya Yilan yang bernama Gazan.


"Kita sudah sampai, ayo kita segera turun." Ucap Zavan sambil membenarkan posisi Yilan yang tengah tertidur pulas.


Gazan yang melihat Zavan kesulitan untuk turun, ia bergegas segera keluar dari mobil da membantunya. Sedangkan Sevan sendiri merasa serba salah ketika ingin membantu bosnya. Takut, jika dirinya akan disangka mencari pusat perhatian. Jadi, memilih untuk diam dan bergegas turun.


Saat Yilan sudah berada di gendongannya Gazan , ia menggendongnya sampai ke dalam rumah. Namun, baru saja berada di depan pintu, rupanya Yilan tersadar akan kesadarannya.


"Turunkan aku, cepat." Pinta Yilan berusaha untuk turun dari gendongannya Gazan karena malu.


Saat itu juga, dari pada Yilan memberontak, akhirnya turun juga dari gendongannya Gazan.


Kedua orang tuanya yang sudah diberi tahu oleh Zavan jika putri kesayangannya pulang, ternyata sudah menyambut kepulangannya.


Ibunya tiba-tiba langsung memeluk putrinya.


"Yilan putri kesayangannya Mama sama Papa. Kamu baik-baik saja 'kan, Nak? Ibu sangat mengkhawatirkan kamu dan juga kondisi kamu, sayang."


"Yilan minta maaf ya, Ma. Yilan sudah membuat Mama dan Papa khawatir." Jawab Yilan yang berada di pelukan ibunya.


Kemudian, ibunya melepaskan pelukannya dan menatap wajah ayu milik putrinya. Sedangkan ayahnya masih berdiri di dekat ibunya Yilan.

__ADS_1


__ADS_2