Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Kejutan


__ADS_3

Ketika keduanya berada didalam kamar, Yilan melamun saat dirinya berada di dekat pinggiran tempat tidur. Tanpa ragu-ragu, Gazan langsung memeluknya dari belakang.


Kemudian, tidak lupa juga mencium pipinya. Tentu saja si Yilan sangat kaget dibuatnya.


"Kenapa? tidak mau aku cium?"


"Em- bukan begitu, aku hanya kaget saja." Jawab Yilan dengan gugup.


"Jangan takut, aku tidak akan meminta hak sama kamu. Juga, aku akan bersabar sampai kamu selesai dari tamu bulananmu, dan siap untuk semuanya." Ucap Gazan, sedangkan Yilan yang mendengar ucapan dari suaminya, merasa sangat bersalah.


"Aku minta maaf." Jawab Yilan sambil memegangi tangan suaminya.


"Minta maaf untuk apa? memangnya kamu ada salah? sampai-sampai meminta maaf denganku. Sudah malam, sudah waktunya untuk istirahat, ayo kita tidur." Ucap Gazan dan mengajak istrinya untuk istirahat.


Bayang-bayang dalam pikiran Yilan tengah menghantuinya.


'Aku harus gimana? apa yang harus aku lakukan? aku benar-benar takut. Haruskah aku mengatakannya dengan jujur? tapi aku takut.' Batinnya dengan penuh rasa takut dengan apa yang tengah dipikirkannya.


Gazan yang merasa aneh dengan istrinya, pun menjadi penasaran.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Gazan ingin tahu.

__ADS_1


Yilan menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak kenapa-napa, aku cuman merasa kecapean aja." Jawab Yilan beralasan, meski sebenarnya tengah memikirkan seseorang yang jauh di sana.


Gazan yang tidak ingin kesehatan istrinya terganggu, mengajak untuk istirahat. Yilan sendiri mengiyakan.


Setelah keduanya sudah berbaring di tempat tidur dengan posisi masing-masing, Yilan dan Gazan terlelap dari tidurnya hingga pangi.


Saat bangun dari tidurnya, Gazan bergegas membersihkan diri. Kemudian, Gazan keluar dari kamarnya dan sengaja tidak membangunkan istrinya.


"Selamat pagi, Tuan." Sapa salah seorang asisten rumahnya.


Gazan membalasnya.


"Tuan dan Nyonya sedang duduk bersantai di ruang biasa. Juga, meminta Tuan Gazan untuk menemui Tuan Ravian dan juga Nyonya."


"Baik, Bi. Kalau begitu sekarang Bibi siapkan perlengkapan baju ganti untuk istri saya. Setelah itu, siapkan sarapan paginya." Ucap Gazan memberi perintah.


"Baik, Tuan." Jawabnya dan bergegas melakukan perintah dari majikannya.


Sedangkan Gazan segera menemui kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ada apa Papa memanggilku?" tanya Gazan sambil berjalan mendekati kedua orang tuanya.


"Duduklah. Ada sesuatu yang harus kamu kerjakan." Jawab ayahnya dan meminta putranya untuk duduk.


Gazan mengiyakan dan duduk di hadapan kedua orang tuanya, tepatnya di hadapan sang ayah.


"Ini ada berkas, segera kamu bujuk dan minta tanda tangan dari perempuan gila itu. Sebelum anak kandungnya muncul, kamu segera meminta tanda tangan. Kalau sampai kamu gagal, karirmu akan hancur." Ucap Tuan Ravian memaksa putranya untuk menuruti kehendaknya.


Gazan yang selalu dijadikan alat oleh ayahnya, seolah seperti budaknya saja.


"Aku tidak mau. Aku tidak akan melakukan kesalahan yang fatal, apa lagi merebut sesuatu yang bukan hakku. Jadi, Papa jangan memaksaku untuk meminta tanda tangan sama Tante Elinda, Pa."


BRAK!


Tuan Ravian marah besar hingga menggebrak meja ketika mendapat penolakan dari putranya.


"Kamu! anak tidak tahu diri! anak tidak tahu di untung. Papa susah payah melenyapkan Delon, dan membuat istrinya menjadi gila, kamu malah menolak perintah dari Papa. Ini semua itu demi kepentingan kamu, dan masa depan kamu. Asal kamu tahu, Papa tidak terima jika harta yang jatuh ke tangan Delon itu lebih besar dari Papa, paham kamu."


Seketika, lima orang yang ada di ambang pintu ruangan tersebut dibuatnya sangat terkejut ketika mendengar pengakuan dari Tuan Ravian sendiri.


"Apa!" Semuanya benar-benar terkejut.

__ADS_1


Saat itu juga, Tuan Ravian mendadak kaget, sama halnya dengan Gazan dan ibunya. Mereka bertiga langsung menoleh ke sumber suara.


__ADS_2