Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Keputusan akhir


__ADS_3

Tidak ada pilihan lainnya demi menyenangkan hati adik perempuannya, Zavan akhirnya mengiyakan keinginan sang adik.


"Baiklah, Kakak akan penuhi permintaan dari kamu. Tapi ingat, jaga sikap kamu di hadapan Gazan, juga keluarga kamu sendiri. Setelah ini, Kakak akan menemui Sevan untuk menyampaikan pesan dari kamu." Ucap Zavan menuruti permintaan adik perempuannya.


"Kakak serius?" tanya Yilan mencoba untuk meyakinkannya.


Zavan mengangguk dan tersenyum padanya.


"Kakak serius. Apa yang tidak untuk kamu, Yilan. Kamu itu adik perempuannya Kakak satu-satunya, dan tidak mungkin untuk mengabaikan kamu. Ya udah, sekarang Kakak mau temui Sevan." Jawab Zavan mencoba untuk meyakinkan adik perempuannya.


Yilan mengangguk dan tersenyum senang mendengarnya.


"Ya udah sana kembali ke kamarmu dan beristirahat." Ucapnya dan pindah posisi dari tempatnya.


Yilan yang sudah mengiyakan permintaan dari adik perempuannya, yakni untuk tidak mengomentari.

__ADS_1


Sudah tidak ada lagi yang dijadikan bahan pembicaraan, Yilan bergegas kembali ke kamarnya untuk istirahat. Sedangkan Zavan sendiri segera menemui Sevan.


Saat berada di belakang rumah, dilihatnya Sevan tengah duduk santai hanya seorang diri sambil menunggu bosnya.


"Hei! ngelamun saja kamu ini."


Zavan pun mengagetkannya, dan merangkulnya.


"Aku hanya kepikiran saja dengan kedua orang tuaku yang ada di kampung halamanku." Jawab Sevan beralasan.


"Benar, Tuan. Soalnya hari libur saya hanya sebentar, dan jarang sekali untuk menikmati hari libur bersama kedua orang tua saya." Jawab Sevan tanpa alasan yang lainnya.


"Baiklah, kalau begitu aku akan meminta sama kamu untuk mengajak kedua orang tua kamu agar mau menerima undangan dari Yilan, adik perempuanku yang akan menikah dalam waktu dekat ini. Kamu tidak perlu khawatir, nanti orang suruhanku akan aku perintahkan untuk menjemput kedua orang tua kamu." Ucap Zavan yang juga merasa tidak tega untuk mengatakannya langsung kepada Sevan.


Sejenak Sevan terdiam, terasa berat untuk mengiyakan ajakan bosnya. Namun, dirinya bisa apa? hanya bisa menyuruh dan meminta tolong.

__ADS_1


"Kenapa, Sev? apakah kamu menolak keinginan adikku untuk bertemu dengan kedua orang tua kamu?" tanya Zavan karena tidak mendapat respon dari Sevan.


"Bukan begitu, Tuan. Saya hanya tidak ingin menambah beban pikiran untuk kedua orang tua saya, yakni karena orang tua saya tengah gagal untuk mempunyai menantu." Jawab Sevan apa adanya.


"Kamu belum mencobanya, aku akan tunggu waktunya untuk bertemu dengan kedua orang tua kamu." Ucap Zavan.


"Jika Tuan memaksa, saya akan menghubungi orang tua saya untuk meminta izin serta untuk menjemput dirinya." Jawab Sevan yang akhirnya menerima ajakan.


Setelah itu, Zavan merasa lega karena permintaannya dipenuhi oleh Sevando.


Ketika Sevan menyetujui permintaan dari Zavan, ada sedikit rasa takut dan juga cemas, yakni masih terus kepikiran dengan waktu yang pernah dilewatinya bersama Yilan.


Meski hanya beberapa hari saja saling mengenal satu sama lainnya, namun pertemuan antara Sevan dan Yilan mempunyai kesan sendiri diantara keduanya.


Sevan yang tengah duduk sendirian, dirinya sendirian merasa tidak enak hati ketika mengetahui kebenarannya, meski dirinya pun tahu jika Gazan hanya akan menikahi Yilan, bukan Sevando yang mempunyai status keluarga yang jauh berbeda bandingannya.

__ADS_1


Sedangkan Yilan yang tengah berada di dalam rumah, merasa bersalah ketuka mendengarkannya.


__ADS_2