
Yilan memilih menjauh dari hadapan Sevan, dan memalingkan wajahnya daripada harus menatap Sevan.
"Sudah lumayan reda hujannya, ayo kita lanjutkan perjalanan kita pulang ke rumah." Ucap Sevan mengajaknya untuk pulang, Yilan mengangguk dan nurut dengan ajakan dari Sevan.
Selama perjalanan, Yilan sama sekali tidak bicara, diam yang bisa ia lakukan. Cukup lama menempuh perjalanan menuju rumah yang ada di kampung, rupanya sudah waktunya jam makan siang.
Untuk mengisi perutnya yang terasa keroncongan, Sevan berhenti di rumah makan.
"Ayo kita turun. Kita makan siang dulu, sejenak kita istirahat sebentar, sembari hujannya benar-benar reda." Ucap Sevan sambil turun dari motor, dan diikuti oleh Yilan.
"Sevan! kamu Sevando, 'kan?"
"Iya lah, Sevando. Memangnya siapa lagi. Gimana kabar mu? masih mangkal terus 'kan, di rumah makan ini?"
"Ya, Bro. Tau sendiri, hidup di pegunungan itu gak segampang hidupmu di kota. Eh! ngomong-ngomong perempuan yang bareng sama kamu ini siapa? istri mu? payah bener kamu, nikah gak kabarin aku."
Seketika suara petir yang menggelegar tengah mengagetkan isi dalam rumah makan. Yilan yang ada di dekatnya Sevan, pun langsung memeluknya. Hujan pun turun dengan sangat derasnya, juga dibarengi dengan angin yang sangat kencang. Semua yang ada didalam rumah makan benar-benar ketakutan dan takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Rumah makan yang cukup besar di dekat pinggir jalan, juga sangat padat untuk dijadikan tempat singgahan saat orang-orang beristirahat.
"Bro, istrimu ajak ke dalam rumah saja. Anginnya gede dan ujannya sangat deras, kasihan istrimu kalau ketakutan. Juga, baju kamu dan baju istrimu lumayan basah. Masuk aja dulu, nanti aku susul. Kebetulan anak dan istri aku gak ada di rumah, mereka lagi ke kampung halaman ibunya. Sudah sana cepetan ajak istri kamu masuk ke dalam rumah, jangan di rumah makan ini. Nanti aku antar makanannya dan minumannya juga." Ucap pemilik warung makan, sekaligus teman baiknya Sevan.
__ADS_1
Sevando yang melihat Yilan kedinginan, ia segera mengajaknya masuk ke dalam rumahnya. Awalnya Yilan menolak, namun tidak ada pilihan lain selain mengikuti ajakan Sevan.
Saat sudah berada di dalam rumah miliknya pemilik warung makan, Yilan melepaskan jaketnya yang sudah basah. Begitu juga dengan Sevan, ia melepaskan kaos oblongnya dan menyisakan dada bidang yang sixpack.
Yilan malu ketika melihat dada bidangnya Sevan, langsung membuang muka karena takut dibilang mata keran_jang, pikirnya.
Sevan berdehem.
"Katanya mau menikah denganku, kenapa meski membuang muka?"
Yilan masih diam, bingung harus menjawabnya apa.
"Diingat baik-baik ketika kamu menjadi istriku. Kita akan tidur dalam satu kamar, satu ranjang, dan- entah apa yang akan terjadi nantinya. Apakah kamu sudah siap untuk menjadi istriku? menikah dalam sandiwara itu tidak semudah menikah dalam dunia novel, beda jauh. Otak normal dan otak tidak waras ketika dalam satu kamar itu, sama aja nantinya, kamu paham?"
'Benar juga apa kata dia. Menikah sudah pasti mempunyai kebebasan ketika berada dalam kamar. Lebih lagi mempunyai haknya, dan pastinya akan meminta haknya. Mustahil lelaki normal akan mengabaikannya, itu tidak akan mungkin.' Batin Yilan yang tengah mencerna ucapan dari Sevan.
Saat itu juga, pemilik rumah masuk dan berdehem. Tentu saja mengagetkan Yilan maupun Sevan.
"Kalian berdua ini sepertinya pengantin baru, malu malu gitu. Ini aku buatkan sup ayam sama yang lainnya, ada ikan bakarnya juga tinggal pilih mana yang kalian suka. Oh ya, baju kalian basah ya. Tunggu sebentar, aku ambilkan dulu baju ganti untuk kalian. Nanti kalau mau istirahat atau mau ganti baju, di kamar nomor satu ya, itu kamar khusus untuk tamu menginap." Ucapnya.
Mendengar kata menginap, Yilan langsung menoleh ke arah Sevan. Sedangkan Sevan sendiri tidak menanggapinya.
__ADS_1
Yilan yang teringat saat dirinya meminta Sevan untuk menikahinya, kini seolah tengah mempraktekkannya.
Setelah diambilkan baju, Yilan bergantian mengganti bajunya dengan Sevan. Kemudian, keduanya makan siang dengan menikmati sup ayam dengan ikan bakarnya juga.
Selesai makan, rupanya hujan pun semakin deras dan tidak kunjung reda. Tentu saja membuat Yilan semakin cemas dan juga panik.
Begitu juga dengan Sevan, dirinya teringat dengan perintah bosnya yang akan menyerahkan Yilan di rumah halamannya. Namun siapa sangka, jika hujannya tidak juga kunjung reda, justru semakin deras. Karena tidak ingin membuat bosnya menunggu dan kecewa, akhirnya jalan satu-satunya memberinya kabar bahwa dirinya tengah berada di rumah kakak perempuannya yang ada di gunung, dan meminta bosnya untuk menunggunya di hotel terdekat dari rumahnya, sekitar memakan waktu satu jam dari rumahnya.
Setelah mengirimkan pesan, Sevan mematikan ponselnya. Sedangkan Zavan selaku kakaknya Yilan, pun merasa geram dibuatnya karena hujan semakin deras, juga suara petir yang menggelegar.
"Sial! kenapa mesti hujan deras kek gini, coba. Mana tinggal bentar lagi sampai, ini harus menunggu lama. Kalau sampai tidak juga reda, terpaksa besok pagi kita datang ke rumahnya." Umpat Gazan yang merasa geram dan juga tidak sabar untuk bertemu dengan Yilan.
"Sabar sedikit kenapa, Gaz. Namanya juga hujan deras, mana bisa kita terjang. Lagi pula si Sevan sedang tidak ada di rumah, percuma juga kita sampai di rumahnya." Jawab Zavan selaku kakaknya Yilan.
"Aku hanya takut aja, kalau orang suruhan kamu itu sudah ngapa ngapain adikmu. Sungguh aku tidak akan terima jika mereka berdua ada hubungan." Ucap Gazan yang terbakar api cemburu ketika mendengar Yilan bersama laki-laki lain.
"Itu tidak akan mungkin. Sevan bilang sama aku itu, dia pulang mau melamar kekasihnya yang ada dikampung halamannya, juga akan langsung menikahinya. Jadi, mana mungkin Yilan dan Sevan mempunyai hubungan. Sudahlah, jangan berprasangka buruk kepada adikku. Aku kenal baik dengan Sevan, dia juga belum pernah bertemu dengan adikku sebelumnya." Jawab Zavan yang tidak ada prasangka buruk apapun kepada orang kepercayaannya.
"Semoga saja." Ucap Gazan yang masih kepikiran Yilan yang tengah bersama Sevan, lelaki yang menjadi kepercayaannya Zavan.
Sedangkan di rumah pemilik warung makan, Yilan bersama Sevan tengah duduk di ruang tamu sambil menunggu hujannya reda. Namun siapa sangka, begitu lamanya menunggu hujannya reda, justru masih saja hujannya semakin deras, juga dengan angin yang sangat kencang.
__ADS_1
Yilan yang merasa kedinginan dan juga merasa kantuk, ia bersandar di kursi hingga tidak sadarkan diri bahwa dirinya tertidur.
Sevan yang mendapati Yilan tidur dengan pulas, tidak tega ketika melihatnya hanya bersandar di kursi. Kemudian, Sevan mengangkat tubuhnya dan memindahkan posisinya ke dalam kamar.