Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Sangat terkejut ketika bertemu


__ADS_3

Zavan yang baru saja sampai, pun bergegas turun dari mobil bersama Gazan.


"Ini bener rumahnya?" tanya Gazan sambil melepas sabuk pengaman.


"Sepertinya sih iya, rumahnya sesuai yang dikatakan orang tadi." Jawab Zavan yang hendak turun dari mobil.


Sedangkan kedua orang tuanya Sevan kini tengah berdiri di depan pintu.


"Permisi, Bu, Pak. Maaf, saya mau numpang tanya. Apakah benar, ini rumahnya Sevando yang bekerja di kota?"


Dengan sopan, Zavan bertanya.


"Benar, ini rumahnya Sevando. Maaf, kalau boleh tahu, anda ini siapa dan dari mana?"


"Saya bosnya dari kota, Pak. Kedatangan kami berdua kemari ingin menjemput adik perempuan saya yang bernama Yilan. Perkenalkan, saya Zavan bosnya Sevan, dan yang di sebelah saya ini, Gazan calon suami adik saya." Jawab Zavan yang tetap bersikap santun dengan siapa pun.


"Berarti benar yang dikatakan putra Kami, dan tidak salah lagi kalau anda anda ini bosnya Sevan. Kalau begitu, mari silakan masuk. Sevan sama Nak Yilan masih berada di perjalanan, mungkin sebentar lagi sampai. Kemarin sore mau pulang hujan deras, jadi baru pagi ini bisa pulang." Ucap ibunya Sevan, dan mempersilakan masuk untuk Zavan maupun Gazan.


"Terima kasih, Bu." Jawab Gazan, dan keduanya masuk ke dalam rumah. Juga, dipersilakan duduk.


Sedangkan Yilan bersama Sevan tengah dalam perjalanan, dan sudah memasuki kampung halamannya. Tinggal melewati dia desa lagi, keduanya sampai di rumah.


Yilan yang merasa sudah nyaman, masih tetap bersandar di punggung miliknya Sevan.


"Kalau hari ini kamu pulang ke kota, bagaimana?" tanya Sevan yang akhirnya membuka suara.


Yilan yang tengah asik menikmati pemandangan di kampung, langsung kaget dengan pertanyaan dari Sevan.


"Kamu bilang apa tadi, pulang ke kota?"


Yilan balik bertanya.


Sevan menganggukkan kepalanya sambil mengendarai motornya.


"Ya, benar. Bagaimana menurutmu, mau apa enggak?"

__ADS_1


Seketika, Yilan langsung mengeratkan pelukannya. Kemudian, ia kembali bersandar di punggungnya lagi.


"Aku gak mau pulang ke kota sebelum menikah denganmu. Pokoknya nikahi aku dulu, nanti kita pulang ke kota." Jawab Yilan yang tetap dengan kemauannya.


Saat itu juga, Sevan mengerem mendadak, dan menoleh ke belakang.


"Kamu dan aku berbeda. Jadi, terlalu jauh jarak statusmu denganku untuk menjadi suami istri. Juga, kita tidak ada ketertarikan dan cinta. Jangan bermain dengan ego, nanti kamu akan menyesal di kemudian hari. Pulanglah ke kota, dan berkata baik-baik dengan kedua orang tua kamu. Satu hal yang harus kamu ingat, jangan mengandalkan keegoisan kamu saja. Percayalah, pilihan orang tua kamu adalah pilihan yang terbaik." Ucap Sevan dan langsung melanjutkan perjalanannya ke rumah.


Yilan yang terus mendesak karena ingin dinikahi oleh Sevan, pun tidak ada kata menyerah sama sekali. Tidak peduli baginya jika dibilang wanita rendahan sekalipun, yang terpenting baginya dapat terlepas dari paksaan orang tuanya dan keluarga untuk menikah dengan lelaki yang akan dijodohkan dengannya.


Tidak memakan waktu lama dengan jarak tempuh yang dilewati, akhirnya sampai juga di halaman rumah milik kedua orang tuanya Sevan.


Yilan yang belum begitu fokus memperhatikan mobil yang ada di dekatnya, ia turun dari motor dah masuk ke dalam rumah begitu saja, dan disusul oleh Sevan.


Bagai tersambar petir saat melihat siapa yang bertamu di rumah milik kedua orang tuanya Sevan.


"Yilan!"


"Kak Zav-Zavan, Kak Ga-zan, kak-kalian berdua ada di sini?"


Tentu saja, Yilan sangat terkejut dengan kehadiran dua lelaki yang tidak diharapkan kedatangannya.


Zavan langsung bangkit dari posisi duduknya, dan mendekati adik perempuannya. Dengan reflek, Yilan langsung menoleh ke belakang untuk mencari dimana posisinya Sevan. Kemudian, Yilan langsung melingkarkan tangannya di bagian lengan miliknya Sevan.


"Yilan gak mau pulang, titik. Lihatlah, kita berdua sudah bertunangan. Jadi, jangan memaksa lagi untuk menikah dengannya." Ucap Yilan dengan beraninya sambil menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.


Tentu saja, semua terkejut dengan pengakuan dari Yilan, termasuk Sevan sendiri. Gazan yang mendengarnya, pun langsung maju beberapa langkah untuk mendekati Yilan dan Sevan.


"Tunggu, tunggu. Ini ada kesalahpahaman, saya bisa jelaskan semuanya." Ucap Sevan yang berusaha untuk melepaskan tangannya Yilan.


Sedangkan Gazan sudah mengepalkan kedua tangannya, dan siap untuk melayangkan sebuah tinjuan kepada Sevan yang diketahui memiliki hubungan khusus dengan perempuan yang dicintainya.


Dengan sigap, Zavan menahannya agar Gazan tidak mudah terpancing emosinya.


"Cepat kamu jelaskan. Untuk Yilan, diam dan jangan memotong pembicaraan orang lain, Kakak tidak menyukainya. Sedangkan untukmu Gazan, tahan dulu emosi kamu." Perintah Zavan kepada mereka bertiga.

__ADS_1


"Saya dan Nona Yilan tidak mempunyai hubungan apapun. Kami berdua dipertemukan di terminal, dan sesuai yang saya ceritakan lewat pesan. Juga, cincin yang ada dijari manisnya adalah milik saya, cincin yang saya niatkan untuk melamar perempuan yang saya cintai. Tetapi kenyataannya di hari itu juga, rupanya telah menikah dengan laki-laki lain. Kemudian, saya hendak membuangnya ke danau, namun direbut oleh Nona Yilan, dan ia pakai dijari manisnya. Sayangnya, ternyata cincin saya tidak bisa dilepas." Jawab Sevan yang akhirnya bercerita panjang lebar untuk menjelaskan tentang kebenarannya.


"Yang diucapkan putra Kami memang benar adanya. Tidak ada sesuatu yang dijadikan rekayasa, semua murni dan benar kenyataannya." Timpal ayahnya Sevan ikut berkomentar.


Yilan masih diam dan menunduk ketika Sevan menjelaskan panjang lebar.


"Tahan dulu emosi kamu." Ucap Zavan menahan Gazan yang seperti ingin meluapkan kekesalannya saat mendengar penjelasan dari Sevan.


Gazan sendiri benar-benar terbakar api cemburu.


"Saya tidak merasa keberatan jika Tuan Zavan ingin menjemput Nona Yilan, silakan." Ucap Sevan.


Kemudian, dengan sekuat tenaganya, Sevan melepaskan tangannya Yilan hingga terlepas.


"Tunggu. Kenapa kalian berdua terlihat sudah saling mengenal?"


"Sevan sekretarisnya Kakak, dan juga menjadi orang kepercayaannya Kakak, kenapa? kamu kaget?"


Tentunya sangat kaget ketika mendengar jawaban dari kakaknya.


'Jadi, Sevan ini sekretarisnya Kak Zavan? yang benar saja. Terus, selama ini aku kemana? sampai-sampai aku tidak mengetahui jika Kak Zavan mempunyai sekretaris bernama Sevan.' Batin Yilan yang justru memikirkan lelaki yang ada di sebelahnya.


"Sekarang kamu segera kemasi barang-barang kamu. Setelah itu, kita akan langsung pulang ke rumah." Ucap Zavan membuyarkan lamunannya.


"Yilan gak mau pulang, titik." Jawab Yilan dengan kesal.


"Yilan!" bentak Zavan dengan geram, kedua tangannya sudah mengepal kuat.


"Nak Yilan, jangan seperti itu sikap kamu dengan kakak sendiri, tidak baik seorang perempuan membangkang perintah dari kakaknya. Pulanglah ke kota, keluarga pasti sudah menunggu Nak Yilan pulang. Lebih lagi ada calon suaminya Nak Yilan, tidak baik menuruti emosi. Selesaikan dengan kepala dingin, baru ambil keputusan. Pulanglah." Ucap ibunya Sevan ikut menimpali, dan memberi nasehat kecil untuk Yilan.


Sevan sebagai tuan rumah, pun menoleh ke Yilan.


"Pulanglah. Apa Nona tidak kasihan dengan orang tua yang begitu khawatir dengan keadaan putrinya? terlalu egois kata saya. Selesaikan masalah Nona dengan keluarga, dan jangan mengulanginya untuk kabur. Lihatlah, calon suaminya Nona kurang apa? sampai-sampai Nona menolak dan memilih untuk kabur. Jadi pertimbangkan lagi keputusan Nona untuk diambil." Ucap Sevan mencoba untuk membujuk.


Yilan masih diam.

__ADS_1


__ADS_2