Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Ada yang merasa lega


__ADS_3

Betapa terkejutnya saat melihat foto yang didapat dari anak buahnya, sungguh sangat mengejutkan dan seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, benar, kalau yang ada di foto ini adalah Yilan." Ucap Zavan saat memperhatikan foto di ponselnya.


Gazan yang mendengarnya walaupun tidak begitu jelas, ia mendengar jika Zavan menyebut namanya Yilan. Saat itu juga, Gazan langsung menyambar ponsel miliknya Zavan dan melihatnya.


"Yilan, dapat foto ini dari mana?" tanya Gazan penasaran.


"Orang suruhan ku yang mengirimkannya. Dia bilang sekarang ada bersamanya." Jawab Zavan.


"Dimana posisinya, Zav?"


"Baca aja sendiri pesan darinya."


Gazan yang penasaran dengan isi pesan dari orang suruhannya Zavan, ia langsung membacanya.


"Nona Yilan bersama saya, tepatnya di kampung halaman. Kami dipertemukan di Terminal bus, dan Nona Yilan tetap ingin ikut dengan saya, meski saya sudah menolaknya. Datanglah ke kampung, kami akan menunggunya besok." Ucap Gazan membaca isi pesan dari orang suruhannya Zavan.


Kemudian, Gazan menyodorkan ponselnya.


"Nih, ponselnya. Ternyata Yilan berada di kampung orang suruhanmu. Besok kita harus menyusulnya, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada Yilan."


"Ya udah, sekarang kita pulang ke rumah kalau gitu. Kita harus berikan kabar berita ini kepada mereka yang sedang berada di rumah. Takutnya kedua orang tuaku semakin cemas dan khawatir, dan sakit ayahku kambuh, itu yang aku takutkan." Jawab Zavan yang sekaligus mengajaknya pulang.


Gazan mengangguk.


"Baiklah. Ayo kita pulang."


Setelah menerima kabar soal adiknya, Gazan bersama Zavan segera pulang ke rumah dan memberinya kabar kepada orang tuanya.


Di tempat lain, rupanya Yilan masih dalam perjalanan menuju pegunungan. Jalan yang begitu mulus, tidak menjadi hambatan untuk mengendarai motornya.


Yilan yang tengah menikmati pemandangan yang begitu indah, ia tersenyum bahagia ketika dirinya seperti mendapatkan kebebasan.


Lain lagi dengan Sevan, dirinya tengah merencanakan sesuatu untuk menyerahkan Yilan kepada keluarganya. Mau bagaimanapun, pekerjaan tetap lah pekerjaan yang harus di tangani. Juga, Sevan tidak ingin berurusan dengan keluarga bosnya. Entah kemarahan apa yang akan ia dapat dari Yilan, dirinya sama sekali tidak peduli.

__ADS_1


'Maafkan saya, Nona. Jika besok Nona harus saya kembalikan ke keluarga Nona. Juga, saya tidak ingin mendapatkan masalah yang lebih besar lagi.' Batin Sevan sambil mengendarai motornya.


"Ternyata hidup di kampung itu menyenangkan, ya. Pantas aja, orang kampung hidupnya damai gitu. Tidak seperti di kota, justru lebih menyedihkan. Mana masih pakai sistim perjodohan, lagi. Dih! kalau gini juga aku mendingan tinggal di kampung, palingan juga cuma ngadepin orang nyinyir." Ucap Yilan sambil menikmati perjalanannya. selama masih di jalan.


Sevan yang sebenarnya mendengarkan, memilih diam dan fokus dengan laju kendaraannya.


Cukup lama dalam menempuh perjalanan, tidak terasa sudah sampai di depan rumah kakaknya Sevan.


"Wah, udah datang si jagoannya Emak nih. Eh- ada cewek, pacar baru kamu? ayo silakan masuk. Maaf, rumahnya berantakan."


Kakak perempuannya pun meledek Sevan ketika datang bersama perempuan asing yang tidak dikenali.


"Apaan sih Kak, gak lucu deh ngeledek gitu. Mana Kak Bizar, katanya kecelakaan, udah baikan 'kan?"


"Ada di dalam kamar, sedang istimewa. Tapi tunggu dulu, Kakak belum kenalan sama calon istri kamu ini."


"Kakak, dia itu bukan calon istri ataupun pacarku. Dia i-"


Sang kakak langsung mengibaskan tangannya, yakni tanda mengusir adik laki-lakinya.


"Awas ya, kalau kalian berdua kong kali kong." Ucap Sevan memberi ancaman kepada kakak perempuannya dan Yilan. Setelah itu, Sevan segera menemui kakaknya.


"Siapa nama kamu? perkenalkan, nama Kakak, Elena. Panggil saja Kak Elen."


Elena pun mengulurkan tangannya, Yilan sambil tersenyum dan juga mengulurkan tangannya.


"Nama saya Yilan, saya dari kota. Sebenarnya kami bukan calon suami istri, saya hanya kebetulan bertemu dengan adiknya Kak Elen waktu kami berada di Terminal bus."


Elen pun tersenyum mendengarnya.


"Tidak apa-apa, tadi Kakak cuma ngeledek. Habisnya si Sevan gak kunjung nikah nikah, dia tetap bersikukuh untuk menikahi Alia. Kata Ibu, Alia sudah menikah. Semoga saja pertemuan kamu dengan Sevan membawa jodoh." Ucap Elen.


"Kak Elen bisa aja. Oh ya, katanya suami Kakak kecelakaan, bagaimana keadaannya?"


"Keadaan suami Kakak, baik-baik saja. Sudah agak mendingan. Oh ya, silakan duduk. Biarin dulu si Sevan ngobrol sama suami Kakak. Kalau Ibu sama Bapak, sekarang lagi ke kebon ngambil panenan. Bentar ya, Kakak mau buatin minuman dulu."

__ADS_1


"Gak perlu, Kak. Air putih saja, jangan yang lain."


"Ya udah, Kakak ambilkan dulu air minumnya."


"Maaf ya Kak, udah ngerepotin." Kata Yilan merasa tidak enak hati.


Setelah itu, Elen pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Kemudian, segera kembali menemui Yilan.


"Maaf ya, minumnya cuma air putih saja."


"Tidak apa-apa, Kak. Soalnya saya lebih suka air putih ketimbang air minum yang ada rasa manisnya. Oh ya, udah berapa lama Kak Elen tinggal di rumah ini? keknya nyaman banget ya Kak. Jadi pingin tinggal di perkampungan tempat Kakak ini."


"Ini namanya pegunungan, tapi ya perkampungan juga sih. Ngomong-ngomong, bagaimana ceritanya kamu bisa bareng Sevan? jodoh kali ya."


"Kak Elen mah bisa aja ngeledeknya. Saya kabur dari rumah." Jawab Yilan kembali teringat saat pergi dari rumah.


"Kabur dari rumah, kamu bilang?" tanya Elen penasaran.


"Ya, Kak, saya kabur dari rumah hanya untuk menolak perjodohan. Soalnya saya gak mau dijodohkan, dikira jaman sekarang itu hidup akan bahagia dengan pilihan orang tua? salah besar."


"Hus! gak baik bicara seperti itu. Orang tua menjodohkan itu ada alasannya. Satu, takut anaknya tidak terjamin dalam hidupnya. Kedua, takut salah memilih suami, dan takut pilihan anaknya itu tidak tepat. Juga, ada alasan lain yang tidak kita ketahui. Belum tentu juga, perjodohan itu tidak membawa kebahagiaan. Bisa jadi, pilihan orang tua itu, pilihan yang terbaik."


"Tapi, Kak. Saya tuh gak suka sama perjodohan. Intinya, saya mau menikah dengan pilihan saya sendiri, bukan pilihan dari orang tua atau pun kakak sekalipun."


"Lucu sekali. Pacarnya Sevan memilih lelaki yang dijodohkan sama orang tuanya. Tapi kamu, justru menolak perjodohan. Kalau memang pilihan kamu yang terbaik menolak perjodohan, Kakak tidak berani berkomentar lagi. Yang terpenting, Kakak udah memberi nasehat kecil untuk kamu." Ucap Elen.


"Makasih ya Kak, udah memberi nasehat kecil untuk Yilan." Jawab Yilan dan tersenyum.


Elen pun mengangguk dan tersenyum.


"Tapi, ngomong-ngomong kedua orang tua kamu bagaimana ketika mengetahui kamu kabur dari rumah? apa kamu mengirimkan kabar untuk keluarga kamu di rumah?"


Yilan menggelengkan kepalanya.


"Belum, Kak. Yilan belum siap untuk mengirimkan kabar kepada keluarga, takutnya nanti akan dilacak keberadaannya Yilan. Jadi, Yilan sengaja belum mengirimkan kabar kepada keluarga di rumah." Jawab Yilan berterus terang.

__ADS_1


"Kenapa bisa?" tanya Elen.


Yilan sejenak diam.


__ADS_2