
Pagi hari, suasana di pegunungan terasa dingin dan di selimuti kabut putih.
Yilan yang sudah bangun dari tidurnya, ia keluar rumah untuk menikmati udara segar di pegunungan.
Sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara segar, Yilan merasa bebannya sedikit berkurang.
Sevan yang tengah memperhatikan Yilan, teringat akan kejadian di bawah pohon manggis. Senyum tipisnya tidak ada yang melihatnya.
Namun, tiba-tiba ia menyadari jika Yilan yang tidak lain adik dari bosnya. Tentu saja senyumnya hilang seketika. Juga, ia teringat kalau dirinya akan menyerahkan Yilan kepada keluarganya.
'Maafkan aku, Nona. Mungkin hari ini adalah hari terakhirmu berada di kampung. Besok kamu tidak lagi berada di rumah ini lagi, Ibu dan Bapak pasti akan kesepian.' Batin Sevan yang tiba-tiba merasa keberatan untuk berpisah.
"Woi! ngelamun aja kamu ini. Hari ini temani aku jalan-jalan yuk. Aku pingin banget menikmati suasana di pegunungan, sepertinya penuh tantangan dan dan dan masih banyak lagi pokoknya."
Sevan menggelengkan kepalanya.
"Kenapa emangnya?" tanya Yilan dengan cemberut.
"Kita akan pulang ke rumah nanti siang." Jawab Sevan.
__ADS_1
"Kok pulang sih? aku 'kan belum puas. Jahat banget sih kamu, males ah. Kamu kalau mau pulang, pulang aja sendiri."
"Jangan begitu, lain kali kita datang kesini lagi. Hari ini aku benar-benar ada pekerjaan, sedangkan aku gak bawa laptop."
Yilan masih cemberut, malas juga buat bicara.
"Ya udah deh, habis sarapan aku antar kamu ke tempat yang ada air terjunnya. Tapi hanya sebentar saja, setelah itu kita langsung pulang, gimana?"
Yilan langsung tersenyum berbinar.
"Kamu serius?"
"Maaf. Tadi aku kelewat senengnya, sampai-sampai terbawa suasana." Ucap Yilan meminta maaf.
"Tidak apa-apa, sekarang kita sarapan dulu. Setelah itu, kita akan langsung berangkat, tapi mandi dulu kamunya. Masa' iya, pergi jalan-jalan belum mandi."
"Ya deh, aku mau mandi dulu. Tapi benar ya, ajakin aku jalan-jalan sampai puas." Ucap Yilan dan langsung ke kamar untuk mengambil baju ganti.
Kemudian, Yilan cepat-cepat untuk mandi.
__ADS_1
Sedangkan ibunya Sevan bersama anak perempuannya yang tengah duduk ikut membantu ayahnya Sevan, pun semua terasa senang dengan kehadirannya Yilan.
"Semoga saja adikmu benar-benar berjodoh dengan Nak Yilan. Anaknya baik, tidak pernah protes, ataupun manja. Bahkan memilih kabur dari pada dijodohkan. Meski anak dari kota dari keluarga kaya, tapi sikapnya rendah hati dan tidak sombong. Berbeda dengan Alia, yang sangat manja dan pemalas." Ucap ibunya Sevan.
"Ya, Bu. Sevan sama Yilan kelihatannya mereka berdua cocok. Meski suka berdebat, tapi mereka cocok aja gitu ya, Bu. Aku juga berharapnya begitu, semoga mereka berdua berjodoh. Juga, statusnya Sevan dari keluarga sederhana dapat diterima oleh keluarganya Yilan." Jawab kakak perempuannya Sevan yang juga berharap adiknya berjodoh dengan Yilan.
"Ngimpi kalian ini. Gak Ibu, gak Kak Elen, gak Kak Bizar, sama aja. Kalian ini suka banget kalau bicara soal jodoh, hem." Sahut Sevan yang tengah ikutan duduk di teras rumah.
"Namanya juga berharap, gak salah 'kan?"
"Doa Ibu biasanya diijabah loh, mungkin saja benar. Siapa tahu kamu memang berjodoh sama Yilan, buktinya saja Yilan gak mau pulang ke kota."
"Hem. Kalian belum tahu saja status keluarganya. Jangan berharap yang berlebihan, tidak baik." Ucap Sevan menimpali.
"Namanya juga berharap, apa salahnya, iya 'kan, Ma?"
Sevan yang malas terus menerus untuk berdebat, memilih masuk kedalam rumah. Saat itu juga, Sevan disuguhi pemandangan yang jarang didapatkan di rumah, yakni melihat perempuan selesai mandi selain kakak perempuannya. Tapi kali ini benar-benar berbeda rasanya, lebih menarik perhatiannya.
Takut terbawa suasana, Sevan langsung menepis pikiran kotornya dan masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti. Yilan takut karena diperhatikan Sevan, buru-buru masuk ke kamar.
__ADS_1