
Yilan sendiri langsung pindah posisi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Kamu sengaja ya, nyari kesempatan. Main ci_um bibir orang saja kamunya." Ucap Yilan dibuat cemberut dan juga bicaranya kedengaran ketus.
Sevan langsung menoleh padanya.
"Kamu bilang apa tadi, aku main cium bibirmu, katamu? enak saja. Kamu sendiri yang menyuruhku naik, sekarang kamu juga yang menyalahkan aku. Tidak cuma bibir kamu saja yang tern_oda, tapi punyaku semua ter_noda." Jawab Sevan dengan santai.
"Apa katamu? semua milikmu ternoda? he! kamu itu ya, sukanya nambah nambahin omongan."
"Sudah, sudah. Kalian tidak perlu bertengkar. Namanya juga musibah. Lebih baik sekarang kita pulang, sudah sore dan juga sudah waktunya untuk masak. Sevan, Yilan, sudah jangan bertengkar lagi. Kalian ini sama besarnya, bukan lagi anak kecil. Jadi? jangan diulangi lagi." Timpal Elen mencoba melerai.
"Ya, Kak." Jawab keduanya masih sama-sama geramnya.
Elena langsung menggandeng tangannya Yilan masuk ke rumah. Sedangkan Sevan sendiri berjalan sambil meringis menahan sakit pada bagian pant_atnya karena jatuh dan tertindih oleh Yilan.
Saat masuk ke rumah, rupanya ibunya Sevan sudah sibuk di dapur.
"Loh, Ibu udah pulang?" tanya Elena saat mendapati ibunya tengah sibuk di dapur.
"Udah tadi bareng Bapak. Kalian ada apa ribut-ribut di samping rumah?" tanya ibunya sambil mengambil bumbu dapur dari tempatnya.
"Tadi si Yilan manjat pohon manggis, Bu. Terus, Yilan jatuh bareng Sevan." Jawab Elena, Yilan memilih menunduk karena takut kena marah, pikirnya.
"Apa! jatuh? tapi kamu tidak kenapa-napa, 'kan? mana yang sakit, mana? nanti Ibu urut badan kamu."
Ibunya Sevan langsung memeriksa Yilan sambil memegangi kedua lengannya.
"Nih anakmu yang sakit, Bu. Yilan mah enak, jatuhnya di atas ba_danku, mana sudah ambil ciu_man pertamaku lagi. Benar-benar curang dianya."
Seketika, Sevan menutup mulutnya karena keceplosan bicara.
__ADS_1
'Mam_pus aku. Kenapa aku berkata jujur sama ibu? bisa kena amuk aku, duh."
"Kamu bilang apa tadi?"
Ibunya berjalan mendekati Sevan yang tak lupa dengan gagang sapunya.
"Bub-bukan begitu, tadi Sevan cuma becanda, serius dah." Jawab Sevan sambil mundur beberapa langkah karena takut kena pukul.
Kemudian, ibunya menoleh ke arah Yilan dengan tatapan yang terlihat mengintimidasi.
"Tadi tuh, Yilan tidak bisa turun. Terus, aku minta sama Sevan buat bantuin Yilan turun dari pohon manggis dengan tangga. Nah, gak tahunya saat Yilan turun, dan si Sevan sudah di anak tangga ketiga, gak tahunya Yilan terpeleset. Terus, jatuh dah mereka berdua, Bu. Alhasil, Yilan men_indih tubuhnya Sevan, dan mereka ci-um-man." Timpal Elena yang akhirnya memberi penjelasan.
"Juga, pan_tatku harus menjadi korban karena menahan tub_uhnya Yilan."
Sevan pun kembali menimpali, sedangkan ibunya tertawa kecil saat sudah mendengar penjelasan dari anak perempuannya.
"Jadi gitu ceritanya. Mungkin saja kalian berdua ini berjodoh." Ledek ibunya.
Sedangkan Yilan di dapur membantu ibunya Sevan memasak dan ditemani kakaknya juga.
Lain lagi yang ada di kota, Zavan selaku kakaknya Yilan, kini tengah berada di ruang privasi. Zavan yang sudah mengatakannya soal keberadaan adiknya, kini tengah membuat rencana untuk menjemputnya.
"Lebih baik Papa di rumah saja, soalnya perjalanan cukup jauh jarak tempuhnya. Takutnya nanti Papa kecapean. Papa sama Mama menunggu di rumah saja."
"Terus kamu berangkatnya sama siapa?" tanya sang ayah.
"Nanti Gazan yang akan ikut, lagi pula kita menjemputnya di rumahnya Sevando. Jadi, gak ada yang perlu dikhawatirkan." Jawab Zavan.
"Seharusnya Gazan jangan ikut, soalnya adikmu itu benci banget sama Gazan. Nanti yang ada bukannya pulang bawa Yilan, malah adikmu kabur lagi." Kata sang ayah memberi saran kepada putranya.
"Papa tenang saja, Yilan pasti bisa diajak pulang. Soalnya gak mungkin juga melarang Gazan, Pa."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu Papa juga ikut. Biar Mama yang menunggu di rumah." Kata sang ayah yang akhirnya memilih untuk ikut menjemput putrinya.
Karena cukup lama sedari tadi membicarakan Yilan, rupanya sudah gelap dan waktunya untuk makan malam.
Begitu juga yang ada di desa, Yilan bersama keluarganya Sevan baru saja selesai makan. Kemudian, semua kumpul di ruang tengah sambil menikmati buah manggis, kini tengah mengobrol berbagi cerita. Juga, tidak lepas juga untuk bersenda gurau hingga obrolan mereka semua tidak terasa sudah malam dan waktunya untuk istirahat.
"Nak Yilan, sudah malam, alangkah baiknya untuk istirahat. Malam ini kamu tidur bareng Ibu ya, soalnya kamarnya gak cukup. Tidak apa-apa ya, Nak Yilan. Ini juga keponakannya Sevan lagi di asrama, jadi berasa kurang lengkap." Ucap ibunya Sevan.
"Maaf ya Yil, rumah Kak Elen sempit." Timpal kakak perempuannya Sevan.
"Tidak apa-apa kok, Kak. Dipertemukan dengan orang baik seperti keluarga Kakak aja udah seneng banget. Apalagi ini, udah dianggap seperti saudara sendiri, Yilan sangat beruntung." Jawab Yilan yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena begitu beruntung dipertemukan dengan keluarga yang baik.
Karena sudah hampir larut malam, Yilan bergegas masuk ke kamar. Namun sebelumnya, Yilan ingin buang air kecil di belakang rumah. Tapi, nyalinya pun hilang.
"Temani aku ke belakang yuk, aku mau ke kamar mandi tapi takut." Ucap Yilan sambil menggoyangkan badannya Sevan yang duduk sambil menyibukkan diri dengan ponselnya.
"Kamu ini ya, selalu aja bikin repot. Itu dibelakang juga ada lampunya, juga udah dipagar kamar mandinya."
"Tapi aku takut. Ayolah temani aku, apa perlu aku berteriak."
"Ya ya ya ya, bawel banget kamu ini." Jawab Sevan dan bangkit dari posisi duduknya.
Kemudian, Sevan bergegas ke belakang menemani Yilan di kamar mandi.
'Sepertinya mengembalikan Nona Yilan ke keluarganya jauh lebih baik daripada selalu menggangguku terus-menerus.' Batin Sevan sambil menunggu Yilan yang sedang berada di kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritualnya di dalam kamar mandi, Yilan segera keluar. Kemudian, kembali ke kamar untuk istirahat.
Begitu juga dengan Sevan, dirinya tidur satu kamar dengan ayahnya. Namun, kesadarannya pun masih terjaga. Karena tidak bisa tidur dan masih teringat rasa sakitnya ditinggal menikah, membuat Sevan tidak lagi bersemangat karena harus belajar melupakan kenangan bersama Alia, dan menghapusnya rasa yang masih tertinggal.
Karena tidak ingin selalu teringat, Sevan menghapus foto-fotonya bersama Alia dan juga kenangan lainnya yang ia simpan.
__ADS_1