Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Pesan


__ADS_3

Sevan mendekatinya, meski dengan perasaan yang begitu cemburu ketika melihatnya.


"Selamat atas pernikahan Tuan dan Nona, semoga berbahagia untuk kalian." Ucap Sevan memberi ucapan selamat untuk kedua mempelai pengantin.


"Terima kasih. Semoga kamu segera menyusul." Jawab Gazan.


Sedangkan Yilan hanya diam dan tidak meresponnya.


"Semoga, permisi." Ucap Sevan dan langsung pergi dengan perasaan sakit hati.


Yilan yang hanya memandanginya dari kejauhan, rupanya dapat diketahui oleh suaminya.


Kemudian, Gazan meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat. Tersadar akan hal itu, Yilan langsung melepaskan tangan suaminya dan kembali duduk di kursi pelaminan.


Namun, saat baru saja duduk kedua orang tua angkatnya Sevan telah naik ke atas panggung pelaminan. Saat itu juga, Yilan kembali berdiri.


"Selamat menempuh hidup baru ya, Nak Yilan. Semoga berbahagia bersama suami. Maafkan Ibu yang tidak mempunyai kado istimewa untuk Nak Yilan, doa terbaik kami untuk Nak Yilan dan suami. Kalian berdua sangat cocok dan serasi, langgeng untuk kalian." Ucap Ibu Fahma, yakni ibu angkatnya Sevan.

__ADS_1


Yilan langsung memeluknya dan menangis. Ingin rasanya mengatakannya dengan jujur, tetapi tak kuasa untuk mengatakannya.


Kemudian, ibu Fahma melepaskan pelukannya.


"Nak Yilan kenapa menangis?"


Yilan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Bu. Yilan hanya kangen sama Ibu, yang sudah sudi menolong dan memberi tempat tinggal untuk Yilan." Jawab Yilan beralasan, meski bukan itu jawaban yang sebenarnya.


"Ya, Bu. Nanti akan kami usahakan untuk bisa berlibur di kampung halaman Ibu. Sepertinya tempatnya begitu asri." Timpal Gazan ikut bicara.


Ibu Fahma tersenyum mendengarnya.


"Baiklah kalau begitu akan Ibu tunggu kedatangan kalian berdua. Langgeng terus untuk hubungan pernikahan kalian." Ucap Ibu Fahma dan bergantian dengan sang suami untuk memberi ucapan selamat serta doa untuk kedua pengantin.


Di lain sisi, Sevan sudah menunggu kedua orang tua angkatnya di dekat mobil sambil berdiri dan melamun.

__ADS_1


"Jodoh, rizki, dan maut itu sudah ada ketentuannya masing-masing. Jadi, terimalah apa yang sudah kamu lihat sekarang ini. Lebih baik kamu fokus dengan cita cita kamu untuk masa depanmu, jodoh akan datang dengan sendirinya tanpa kamu sadari. Semakin kamu kejar, maka akan semakin menyiksa diri kamu sendiri." Ucap ibunya yang mencoba untuk menguatkan putranya.


"Ya, Bu." Jawabnya yang begitu singkat.


Tidak lama kemudian, orang suruhan Tuan Bonar pun datang untuk mengantarkannya ke rumah Tuan Bonar sesuai kesepakatan.


Sedangkan di acara resepsi pernikahan, Yilan begitu tidak bersemangat ketika dirinya tidak lagi melihat sosok Sevan di dalam ruangan hingga akhir acara pernikahannya sendiri.


"Acara sudah selesai, kamu harus ikut pulang bersama suami kamu. Jaga sikapmu, dan patuhlah kepada suamimu." Ucap Tuan Bonar kepada putrinya.


Yilan hanya mengangguk, terasa malas untuk menjawabnya.


"Dan kamu, Gazan. Papa titipkan Yilan kepadamu. Sayangi dia dan bahagian dia sebagaimana kami membahagiakannya. Jangan sakiti putri kami. Kembalikan dengan baik-baik jika kamu tidak lagi menginginkannya untuk menjadi istrimu." Ucap Tuan Bonar kepada menantunya.


"Gazan janji untuk membahagiakan Yilan, dan juga bertanggungjawab atas dirinya. Juga, Papa tidak perlu khawatir, selamanya Yilan akan menjadi istrinya Gazan." Jawab Gazan meyakinkan ayah mertuanya dan Ibu mertuanya, serta kakak iparnya yang sudah berdiri di belakangnya.


Kemudian, Zavan memberi ucapan selamat, dan pesan untuk adik iparnya soal adik perempuannya yang kini sudah resmi menjadi istri dari seorang Gazan Radmaja.

__ADS_1


__ADS_2