Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Pulang ke kota


__ADS_3

Yilan yang seperti tertangkap basah oleh kakaknya, pun merasa kesal dibuatnya.


"Aku mau pulang, tapi ada syaratnya." Ucap Yilan yang akhirnya bersuara.


"Apa syaratnya?" tanya sang kakak langsung menyambar.


"Sevan ikut ke kota, titik. Kalau tidak mau menerima syarat dariku, maka Yilan akan tetap tinggal di kampung sini." Jawab Yilan yang tetap bersikukuh pada pendiriannya.


"Yilan, jangan seperti anak kecil. Kamu sudah besar, dan tidak seharusnya kamu mengancam layaknya anak anak merengek minta mainan. Tapi kamu udah besar dan dewasa, tidak patut memberi ancaman kepada kakak kamu. Seharusnya kamu khawatir dengan kedua orang tua kamu yang mungkin saja mereka tidak ada selera makan, bahkan tidur dengan pulas." Ucap Gazan ikut menimpali.


Kemudian, ia mendekati Yilan.


"Ayo kita pulang, tidak perlu memaksa Sevan untuk ikut pulang ke kota." Sambungnya lagi dan mengajaknya untuk pulang.


"Yang kamu dengar itu benar, Nak Yilan. Sebaiknya kamu pulang, dan tidak membuat orang tua khawatir. Selesaikan masalahmu dengan kepala dingin, jangan sampai menyesal di akhir." Timpal ibunya Sevan ikut bicara.


"Benar, Nak Yilan. Lebih baik kamu pulang. Kamu masih punya waktu untuk datang lagi ke kampung ini, dan pintu rumah kami terbuka untuk mu, Nak." Kata ayahnya Sevan yang juga ikut berkomentar.


"Baiklah, Sevan akan ikut pulang ke kota." Ucap Zavan yang akhirnya mengiyakan permintaan dari adik perempuannya.


Gazan yang mendengarnya, pun kaget bukan main. Bukannya melarang, namun menyetujui.


"Zav. Kamu serius yang kamu bilang barusan? aku sedang tidak salah dengar, 'kan?"


Zavan menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Yang aku ucapkan barusan memang benar, tidak ada yang salah. Sevan akan ikut ke kota, sekalian ada pekerjaan yang harus diselesaikan." Jawab Zavan dengan tegas, Gazan sendiri tidak bisa mencegahnya.


"Tuan, sekiranya saya hanya akan menjadi bahan masalah, lebih baik saya tidak ikut." Ucap Sevan yang takut akan menambah masalah saja, pikirnya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan menjadi bahan masalah. Aku hanya ingin melihat kemauan adikku di hadapan kedua orang tuaku. Sekarang juga, kamu segera bersiap-siap untuk berangkat ke kota." Jawab Zavan yang tetap dengan keputusannya.


Sevan yang merasa tidak enak hati, pun tidak bisa berbuat apa-apa selain nurut dan patuh dengan perintah bosnya. Begitu juga dengan Gazan, tidak bisa mencegah temannya sendiri untuk tidak mengajak Sevan ke kota.


Sevan yang tidak mempunyai pilihan lain, mau tidak mau, akhirnya pun ikut. Kedua orang tuanya yang khawatir, segera menemuinya di kamar.


"Sevan." Panggil ibunya mendekati putranya.


"Iya, Bu, ada apa?"


"Kamu yakin mau pergi ke kota?" tanya ibunya yang takut terjadi sesuatu pada putra kesayangannya.


Sevan tersenyum dan mengangguk, tentunya agar orang tuanya tidak mencemaskan dirinya.


"Iya, Bu. Sevan masih ada kerjaan di kota, kemarin memang cuti karena rencana mau melamar Alia dan menikah. Tapi kenyataannya berbeda, dan Sevan harus kembali bekerja. Bapak sama Ibu tidak perlu khawatir ataupun cemas, Sevan baik-baik saja." Jawab Sevan mencoba untuk meyakinkan kedua orang tuanya.


"Bapak sama Ibu tidak perlu cemas. Percayalah sama Sevan, semua akan baik-baik saja. Bagaimana kalau Ibu sama Bapak ikut ke kota, tinggal bareng di rumah barunya Sevan." Jawab Sevan yang akhirnya memberi pilihan kepada orang tuanya.


"Ibu masih takut untuk pergi ke kota, Nak. Bayang-bayang itu masih terngiang dalam ingatan Ibu, dan takutnya lagi dengan kamu nantinya." Ucap sang ibu menolak, lantaran menyimpan rasa takut yang sulit untuk dilupakan.


"Baiklah. Kalau begitu izinkan Sevan untuk berangkat ke kota." Jawab Sevan meminta izin.


Saat itu juga, ibunya memeluk Sevan dengan erat, dan bergantian dengan ayahnya. Sesudah berpamitan, Sevan bergegas keluar dari kamar.


"Saya sudah siap untuk berangkat, Tuan." Ucap Sevan yang hanya membawa tas gendong yang berisi pakaian lengkap.


Yilan yang merasa senang saat melihat Sevan yang sudah siap untuk ikut pulang bareng, seolah tengah memenangkan lotre. Kemudian, Yilan mendekati kedua orang tuanya Sevan.


"Bu, Pak, Yilan mau pamit pulang. Terima kasih banyak ya, Ibu, Bapak, sudah memperlakukan Yilan dengan baik, juga perhatian. Maafkan Yilan yang sudah banyak merepotkan, dan belum juga membalas budi. Yilan doakan, semoga ibu dan bapak sehat selalu, dan masih diberi umur panjang dan masih ada kesempatan untuk bertemu lagi. Yilan sayang Ibu sama Bapak, sehat-sehat selalu untuk Bapak dan Ibu." Ucap Yilan merasa berat untuk kembali ke kota.

__ADS_1


"Hati-hati diperjalanan nanti ya, Nak. Semoga selamat sampai tujuan. Doa terbaik untuk kamu dan Sevan." Jawab ibunya Sevan yang terasa berat untuk mengizinkan putranya kembali ke kota.


Namun, mau bagaimana lagi, kedua orang tuanya tak mampu untuk mencegahnya.


Yilan mengangguk dan tersenyum. Kemudian, langsung memeluk ibunya Sevan.


"Yilan pamit pulang ya, Bu." Ucap Yilan dalam pelukan ibunya Sevan.


Setelah merasa sudah cukup, Yilan melepaskan pelukannya. Kemudian, Zavan menghampiri.


Yilan yang sedikit ada rasa kesal dengan kakaknya, langsung pindah posisi dan memilih berdiri di belakang ibunya Sevan.


"Bu, Pak, sebelumnya kami ucapkan banyak terima kasih atas kebaikan kalian kepada adik perempuan saya. Terima kasih banyak juga karena sudah memberi tempat singgah untuk Yilan. Maafkan kami sekeluarga karena sudah merepotkan Bapak dan Ibu." Ucap Zavan merasa sudah merepotkan keluarganya Sevan lewat adik perempuannya.


"Justru kami sangat senang dengan kehadirannya Nak Yilan, kami merasa bertambah keluarga, meski hari ini harus kembali ke kota. Ibu dan Bapak hanya bisa memberinya doa yang terbaik untuk Nak Yilan." Jawab ayahnya Sevan.


"Satu lagi, saya titipkan Sevan kepada kalian, dia putra Ibu satu-satunya. Jika dia harus menanggung beban kesalahan, tolong hubungi kami, nanti kami akan datang." Ucap ibunya Sevan akhirnya angkat bicara soal putranya.


Mau bagaimanapun, kekhawatiran orang tua lebih besar daripada yang lain.


Zavan mengangguk.


"Ibu sama Bapak tenang saja, semua akan baik-baik saja. Kalau begitu, kami pamit pulang, dan harus mengajak Sevan untuk ikut." Jawab Zavan, kedua orang tuanya Sevan ada rasa sedikit lega, meski masih dihantui dengan perasaan cemas dan was-was.


Setelah berpamitan satu persatu, mereka berempat masuk kedalam mobil. Yilan duduk bersebelahan dengan Gazan, sedangkan Zavan dengan Sevan.


Duduk di belakangnya Yilan, seolah perasaannya tengah di uji dengan rasa cemburu.


Gazan maupun Yilan yang masih sama diamnya, pun tidak ada yang membuka suara, sedangkan Sevan sendiri yang tengah duduk di belakangnya, seolah harus memperhatikannya.

__ADS_1


__ADS_2