
Saat udah selesai melakukan ritual setelah bangun tidur, Yilan dengan hati-hati membuka pintu kamar. Sambil celingukan, Yilan takut ketahuan bangun kesiangan.
"Selamat, selamat. Untung tidak ada yang lihat, tapi kemana mereka berdua? rumah juga sepi." Gumam Yilan saat tidak mendapati Sevan maupun pemilik rumah.
Karena penasaran, Yilan mencoba keluar untuk melihatnya. Pintu yang sudah terbuka, menandakan bahwa antara Sevan maupun Renan sudah bangun dari tidurnya.
Ingin mencoba melihat siapa yang sudah keluar rumah, Yilan penuh hati-hati agar tidak kepergok. Saat sudah berada di teras rumah, rupanya Sevan bersama Renan tengah sibuk di rumah makan, lantaran kedengaran keduanya mengerjakan sesuatu di dalam.
"Kamu sudah bangun?" tanya Sevan saat baru keluar dari rumah makan yang ada di depan rumah.
"Ya. Maaf, aku bangunnya kesiangan." Jawab Yilan merasa tidak enak hati saat bangun kesiangan.
"Tidak apa-apa, mungkin kamu kecapean. Sudah waktunya untuk sarapan pagi, kita sarapan dulu. Setelah itu, kita segera pulang ke rumah. Waktu kita tidak banyak, takutnya Ibu sama Bapak khawatir." Ucap Sevan, Yilan mengiyakan dan ikut Sevan untuk sarapan pagi di rumah makan.
Saat sudah di dalam rumah makan, rupanya sudah ada sarapan pagi di atas meja. Malu, itu sudah pasti.
"Sebelum pulang, kalian sarapan dulu. Maaf ya, jika sarapannya ala kadarnya. Soalnya di sini sama yang di kota sangat berbeda. Tapi tenang saja, itu ada menu pilihan yang ringan. Ada bubur dan yang lainnya, pilih saja mana yang kalian suka." Ucap Renan.
"Tidak masalah, yang terpenting bisa mengganjal perut. Makasih ya, atas jamuannya dari kemarin. Maaf, tidak bisa membalas apapun atas kebaikan kamu. Aku doakan, semoga usaha kamu semakin sukses, dan pelanggannya bertambah." Jawab Yilan saat hendak duduk.
"Terima kasih atas doanya. Semoga kamu diberi kesehatan, dan dijauhkan dari segala masalah, dan dimudahkan dengan segala urusanmu." Ucap Renan.
"Ya udah kalau gitu, kita sarapan bareng. Soalnya besok mungkin aku udah berangkat ke kota. Jadi, nikmati pagi ini bersama." Timpal Sevan saat hendak duduk.
"Baiklah. Tapi jangan lupa, kabar-kabar kalau kalian menikah. Ingat, jangan sampai enggak pokoknya. Semoga saja kalian berdua berjodoh, jadi bisa irit. Enggak enggak, aku cuma bercanda. Ayo silakan duduk, dan kita sarapan bareng." Ucap Renan dan segera duduk.
__ADS_1
Setelah merasa bicaranya, mereka bertiga menikmati sarapan pagi bersama.
Dilain tempat, Gazan yang sudah tidak sabar, ia cepat-cepat membersihkan diri dan ingin segera meninggalkan hotel dan berangkat ke rumahnya Sevan.
Karena sudah tidak sabar, Gazan segera mandi. Sedangkan Zavan sendiri yang baru saja bangun dari tidurnya, ia menyibukkan diri dengan ponselnya sambil menunggu Gazan slesai mandi.
"Zav! buruan mandi, cepetan."
"Ya ya ya, kamu sendiri cepetan siap-siap." Jawab Zavan dan meletakkan ponselnya, kemudian langsung masuk ke kamar mandi.
Gazan yang sudah rapi dengan penampilannya, ia duduk sambil menunggu Zavan dengan menyibukkan diri dengan ponselnya.
Selesai mandi, Zavan mengenakan bajunya dan bersiap-siap. Setelah itu, keduanya yang sudah tapi dengan penampilannya, bergegas meninggalkan hotel dan berangkat ke rumahnya Sevan.
Lain lagi dengan Sevan dan Yilan, selesai sarapan pagi, keduanya membersihkan diri dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, sebelum Sevan mandi, ia mengirimkan sebuah pesan kepada kakak perempuannya untuk meminta ibunya juga pulang. Mau bagaimanapun, kedua orang tuanya harus tahu saat mau menyerahkan Yilan sama keluarganya.
Tanpa memakan waktu lama, akhirnya Sevan bersama Yilan pamit pulang.
"Aku pulang ya, Ren. Kapan-kapan kalau ada waktu aku datang lagi kesini. Tapi gak tahu kapan, soalnya aku juga harus kembali ke kota." Ucap Sevan berpamitan.
"Hati-hati dijalan ya, Bro. Jangan lupa, kalau nikah kabarin aku. Satu lagi, kalau mau pulang, bawa Yilan ke sini lagi." Jawab Renan membuat Yilan tersipu malu.
"Ya, ntar kalau dia jadi istriku beneran. Nanti aku aku ajak dia ke sini, kalau nih ya, kalau." Ucap Sevan dengan asal, yakni biar temannya puas, pikirnya.
Renan pun tertawa kecil mendengarnya.
__ADS_1
"Entar diijabah bener loh, kata kata kamu tadi. Ya udah deh, hati-hati untuk kalian berdua. Untuk Yilan, kalau datang ke kampung halamannya Sevan, jangan lupa main kesini lagi. Kalaupun tidak berjodoh, jangan enggan untuk liburan ke sini lagi." Ucap Renan kepada Sevan maupun Yilan.
"Sudahlah, ntar tambah nga_co ngomong sama kamu." Jawab Sevan dan segera pulang.
"Aku tidak janji, semoga saja ada waktu untukku datang ke sini lagi. Makasih banyak ya, atas jamuannya. Semoga kita masih diberi kesempatan untuk bertemu lagi, semoga sukses untuk usahamu di rumah makan. Aku pamit, aku mau pulang." Ucap Yilan berpamitan.
Setelah berpamitan, Sevan dan Yilan pulang ke rumah. Selama perjalanan, Yilan menikmati udara segar di pagi hari, juga dengan kabut tebal.
"Ternyata seperti di puncak ya. Keknya enak banget untuk liburan, apa lagi untuk pengantin baru, eh."
"Makanya buruan menikah. Sudah disiapkan jodoh juga, malah kabur. Sekarang ngomongin pengantin baru, emang ya." Jawab Sevan yang tengah fokus mengendarai motornya.
"Hem. Menikah dengan orang yang tidak kita inginkan kehadirannya itu, sama aja makan tapi rasanya hambar." Ucap Yilan sambil bersandar di punggungnya Sevan, sudah seperti sepasang suami-istri.
"Terus, maunya gimana?" tanya Sevan.
"Gak gimana gimana sih. Ah sudahlah, jangan banyak bicara, aku mau menikmati pemandangan di pegunungan, juga udara segar yang entah kapan aku akan menikmatinya lagi." Jawab Yilan yang semakin mengeratkan pelukannya.
Sevan yang mulai merasa nyaman bersama Yilan, seolah terasa berat untuk menyerahkannya pada bosnya.
'Apakah aku mulai tertarik dengan perempuan yang aku bawa ini? kenapa begitu berbeda dengan Aila? justru aku dan Yilan seperti ada ketertarikan satu sama lain. Mungkinkah aku mulai menyukainya? tidak tidak, tidak boleh itu terjadi. Yilan sudah ada lelaki yang siap menikahinya, juga sudah ada restu dari keluarganya.' Batin Sevan sambil mengendarai motornya, sampai sampai tidak sadar sudah hampir memasuki kampung halamannya.
Sedangkan ibunya pun baru saja sampai di rumah. Tidak lama kemudian, Zavan bersama Gazan telah sampai di halaman rumahnya Sevan dengan susah payah tanya kepada warga setempat untuk menanyakan rumahnya Sevan tinggal.
Kedua orang tuanya Sevan yang baru saja masuk rumah, tiba-tiba dikagetkan dengan suara mobil di depan rumahnya. Karena memang sudah bisa menebak siapa yang datang, tidak begitu bingung, hanya penasaran saja dengan sosok bosnya Sevan.
__ADS_1
Kemudian, kedua orang tuanya Sevan segera keluar dan melihatnya.