
Sevan yang tidak mempunyai kegiatan di sore hari saat baru pulang dari kota, ia memilih untuk ke belakang rumah menemani ayahnya yang sedang memanggang ikan.
"Pak, biar Sevan aja yang memanggang ikannya. Lagi pula ini sudah sore, Bapak kalau mandi, mandi saja dulu." Ucap Sevan yang ingin menggantikan ayahnya memanggang ikan.
"Memangnya kamu gak capek? kamu 'kan habis perjalanan jauh dari kota. Mendingan kamu istirahat saja, sudah sana."
"Bapak seperti gak tahu aja sama Sevan. Sudah sini, Pa, biar Sevan yang panggang ikannya." Ucap Sevan yang tetap bersikukuh.
"Ya udah kalau kamu maksa, nanti jangan lupa diolesi sama kecap. Jangan lama-lama, sebentar lagi ikannya matang." Kata sang ayah yang akhirnya menuruti kemauan anaknya.
Setelah ayahnya masuk kedalam rumah, kini Sevan yang memanggang ikannya.
"Ternyata hidup di kampung itu jauh lebih baik, ya. Nyaman aja rasanya, keknya adem gitu. Tapi, aku sudah terlanjur menandatangani kontrak kerja dengan si Bos. Semoga saja nanti hasilnya bisa aku kembangkan di kampung ini. Aku akan membuka lapangan pekerjaan, dan hidup bahagia bersama istriku nanti." Gumamnya sambil mengipasi ikan yang dipanggang.
"Kamu ngomong apa, Sevan? memanggang ikan kok sambil ngomong sendiri. Awas loh, nanti bisa jadi kebiasaan."
"Ibu mah, tau aja. Sevan tuh cuma bilang hidup di kampung itu nyaman, kek damai gitu ya Bu. Ditambah lagi ada istri, keknya lengkap deh bahagianya." Jawab Sevan sambil mengipasi ikan yang dipanggang.
Ibunya pun tersenyum mendengarnya.
"Semoga impian kamu tercapai. Jadi, fokus dengan pekerjaan kamu. Agar nanti setelah berhenti dari pekerjaan, kamu mempunyai bekal ilmu, dan juga modal. Ibu sih cuma bisa mendoakan dan menyemangati kamu. Soal untuk hasil, semua ada padamu." Ucap sang ibu yang tiba-tiba merasa khawatir dan juga sedih, ketika mengetahui kebenarannya.
"Makasih ya, Bu, udah mendoakan Sevan, dan selalu menyemangati."
"Ya udah ya, Ibu mau menyiapkan dulu makanannya. Kamu selesaikan dulu tugasmu itu."
"Ya, Bu, siap." Jawab Sevan dengan semangat.
Lain lagi dengan keluarganya Yilan yang ada di kota, rupanya tengah dibuatnya heboh atas perginya Yilan dari rumah.
"Pa, gimana dengan Yilan putri kita? apakah sudah ditemukan keberadaannya?" tanya ibunya Yilan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
Ayahnya Yilan menggelengkan kepalanya, yakni jawaban yang belum mendapatkan hasilnya.
"Belum, Ma. Semua anak buah sudah Papa perintahkan untuk mencari Yilan, tetap saja belum mendapatkan hasilnya. Entah lah, kemana perginya itu anak." Jawab Tuan Bonar dengan lesu.
"Terus, kita harus bagaimana? kalau terjadi sesuatu pada Yilan, bagaimana, Pa? coba deh, Papa datangi itu rumah teman-temannya Yilan. Siapa tahu aja, Yilan bersembunyi di rumah temannya." Ucap ibunya Yilan dengan gusar.
"Ya, nanti Papa akan perintahkan anak buah Papa untuk mendatangi rumah teman-temannya Yilan satu persatu. Sekarang Papa ingin istirahat sebentar. Berdoa saja, semoga Yilan dalam keadaan baik-baik saja." Jawab Tuan Bonar.
"Ya, Pa. Soalnya besok keluarga Radmaja akan datang. Kalau sampai Yilan tidak ditemukan, kita harus bagaimana?"
"Tidak ada pilihan lain selain membatalkan perjodohan." Jawab Tuan Bonar dan langsung bergegas pergi ke kamar.
Sedangkan ibunya begitu cemas memikirkan keadaan putrinya, dimana dan dengan siapa, pikirnya.
.
.
.
Setelah ikannya matang, Sevan segera masuk ke rumah dengan membawa tiga ekor ikan gurame panggang.
"Ini Bu, ikan panggang-nya udah matang." Ucap Sevan sambil meletakkan ikan panggang di atas meja.
"Kalau sudah, kamu panggil Yilan untuk makan bersama. Lihat tuh, sudah mau gelap." Pinta ibunya untuk memanggilkan Yilan.
"Ya, Bu." Jawab Sevan dan segera memanggil Yilan.
Saat berada di depan pintu kamar, Sevan mengetuk pintunya. Tidak ada respon ataupun jawaban. Sevan pun menganggapnya tengah tidur, ia mencobanya lagi untuk pintunya. Lagi-lagi tidak ada jawaban apapun dari dalam.
"Apa dia ketiduran apa, ya?"
__ADS_1
"Yilan. Yil, sudah waktunya untuk makan. Ayo kita makan dulu, tidurnya nanti lagi." Panggil Sevan sambil mengetuk pintu.
Tidak ada jawaban juga. Karena takut terjadi sesuatu pada Yilan, akhirnya dengan terpaksa membuka pintunya.
Pelan-pelan, Sevan membuka pintu. Nahas, rupanya pintu pun dibuka dari dalam kamar.
"Kamu! ngagetin aja. Dipanggil kenapa juga gak menyahut. Sengaja ya, mau bikin orang khawatir."
"Kamu khawatir? eh! ngapain kamu mau masuk ke kamar?"
"Siapa juga yang khawatir sama kamu, dih. Ibu memintaku itu untuk manggil kamu, sudah waktunya untuk makan. Jadi, ayo kita makan bersama. Ibu dan Bapak sudah menunggu." Ucap Sevan dan bergegas pergi ke ruang tengah, ruang yang digunakan untuk bersantai dan bisa juga untuk makan bersama.
Yilan yang memang sudah lapar, ia pun bersemangat. Lebih lagi dengan aroma ikan gurame panggang, benar-benar menggugah selera makannya.
"Nak Yilan, sini Nak. Ayo kita makan bareng. Maaf ya, Nak Yilan, menu makanannya seadanya. Beginilah hidup di kampung, kadang makan enak, kadang juga seadanya. Ayo silakan duduk." Ucap ibunya Sevan yang sudah duduk duluan bersama suaminya.
"Ini sudah lebih dari cukup, Bu. Makasih banyak ya, Bu. Andai saja saya tidak anaknya Ibu, mungkin saya tidak akan merepotkan kalian. Gara-gara kedatangan Yilan, banyak merepotkan." Jawab Yilan yang merasa sangat beruntung karena dipertemukan dengan orang baik.
"Ibu dan Bapak, juga Sevan, kita semua tidak merasa direpotkan. Jadi, anggap saja kita ini keluarga. Ayo makan, nanti keburu dingin, dan rasanya jadi lain, jadi hambar." Ucap ibunya Sevan.
"Benar, Nak Yilan. Ayo kita makan bareng. Justru Bapak sama Ibu sangat senang dengan kehadirannya Nak Yilan. Jadi rame, dan gak sepi." Kata ayahnya Sevan ikut menimpali.
"Terima kasih banyak, Bu, Pak, atas kebagian keluarga." Jawab Yilan dengan senyum yang ramah.
Setelah itu, Yilan bersama keluarganya Sevan tengah menikmati makan bersama dengan masakan sederhana.
Cukup lama menikmati makan bersama, tidak terasa sudah habis dengan porsinya masing-masing. Selesai makan, Yilan membereskan meja makan dan membantu ibunya Sevan untuk mencuci piring dan lainnya.
Selesai beres-beres, Yilan ikut duduk bersama dengan kedua orang tuanya Sevan. Sedangkan Sevan sendiri memilih masuk kedalam kamarnya untuk menyibukkan diri dengan ponselnya. Juga, menyiapkan sesuatu yang akan dibawa ke rumahnya Alia, yakni kekasihnya.
"Aku berharap, semoga semuanya akan berjalan dengan lancar. Aku akan datang ke rumahnya Alia untuk melamar, satu minggu kemudian, aku akan menikahinya. Setelah dah menjadi suami istri, aku akan membawa Alia ke kota dan hidup bahagia bersama. Setelah kontrak kerjaku habis, aku akan pulang ke kampung ini lagi untuk membangun usaha dan menyiapkan lapangan pekerjaan untuk masyarakat sekitaran sini. Semoga niat baikku ini akan segera menjadi nyata." Ucapnya lirih yang penuh harap.
__ADS_1