
Setelah menunggu beberapa waktu didalam ruangan pasien, pelan-pelan merasakan sesuatu bahwa jari-jari tangan milik ibunya tengah digerakkan.
Kemudian, sepasang matanya mengamati isi dalam ruangan. Sevan yang tersadar jika ibunya menggerakkan jari-jemarinya, pun langsung bangun dari tidurnya. Juga, Bi Fahma sangat senang ketika melihat istri majikannya dulu telah sadar dari obat penenang.
Dengan seksama saat sepasang matanya tertuju pada Bi Fahma, sungguh bagai mimpi disiang bolong ketika melihat sosok mantan asisten masa lalunya.
"Bib-Bibi-"
Susah payah untuk mengingat namanya.
"Bi Fahma, Nyonya."
"Iya. Bi Fahma, iya, saya ingat, Bi Fahma. Tat-tat-tapi,"
Nyonya Elinda langsung menepuk kedua pipinya untuk memastikan jika dirinya tidak lah sedang bermimpi.
"Nyonya tidak sedang bermimpi, ini benar Bi Fahma. Nyonya, akhirnya saya dipertemukan kembali dengan Nyonya. Maafkan saya, Nyonya, maafkan saya." Ucap Bi Fahma yang langsung berjongkok merasa bersalah besar kepada istri majikannya.
Sevan yang melihatnya, pun langsung menahan ibu asuhnya untuk kembali berdiri.
Kemudian, Nyonya Elinda mengarahkan pandangannya ke Sevan.
"Dia siapa, Bi?" tanya Nyonya Elinda penasaran.
Sevan yang malu, sedih, dan ada rasa bahagia ketika dipertemukan dengan orang tuanya, meski hanya seorang ibu dan tanpa seorang ayah. Namun, ada rasa bersyukur ketika dirinya masih diberi kesempatan untuk dipertemukan kembali dengan ibu kandungnya, harapannya yang sedari dulu tengah dinantikan pertemuannya.
__ADS_1
Kini, apa yang diharapakannya telah terkabul dan bertemu.
Bi Fahma yang tidak ingin ada yang ditutup tutupi, akhirnya memberanikan diri untuk mengatakannya dengan jujur.
"Maafkan saya, Nyonya. Maafkan kesalahan saya dimasa lalu, yang telah memisahkan Nyonya dengan putra satu-satunya harta miliknya Nyonya. Sesuai janji, saya akan penuhi apa yang sudah menjadi tanggung jawab saya dari Tuan Delon. Saya akan mempertemukan Nyonya dengan putra nyonya kembali." Ucap Bi Fahma berhenti sejenak, yakni untuk mengatur napasnya agar semuanya baik-baik saja."
"Terus, Bi?"
Saat itu juga, Bi Fahma meraih tangan miliknya Sevan dan juga meraih tangan miliknya istri majikannya dulu.
"Lelaki yang saya bawa ini adalah Saviando, yang telah saya bawa ke kampung halaman sesuai yang diminta oleh mendiang Tuan Delon, yakni untuk membesarkannya dan merawatnya dengan kasih sayang. Juga, dengan janji saya, yakni untuk mempertemukanmu kembali putranya Nyonya dengan ibu kandungnya.
Sevan yang mendengar penjelasan dari Bi Fahma, sungguh kedua matanya berkaca-kaca hingga terasa panas untuk diterimanya sebuah kenyataan.
Tanpa canggung dan ragu, serta malu, akhirnya Sevan memeluk ibunya dan meneteskan air matanya. Sedih maupun bahagia benar-benar sulit untuk dibedakan ketika apa yang diharapkan sejak kecil, kini harapannya serta doa doanya telah di kabulkan.
Rasa rindu yang sudah sekian lama dinanti-nantikan, kini akhirnya telah dipertemukan kembali dengan ibu kandungnya. Juga, doa yang sudah dikabulkan.
Kemudian, ibunya melepaskan pelukannya dan keduanya saling menatap satu sama lain.
"Kamu benar anaknya Mama. Tanda lahir kamu ini tidak bisa diabaikan, ini akan tetap terlihat." Ucap ibu kandungnya sendiri yang sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya.
Setelah semua yang ada di dalam ruangan tersebut, satu satu berbagi cerita satu sama lain. Juga, mereka tengah bersenda gurau layaknya sudah mengenal dengan akrab.
Lain lagi di rumah keluarga Radmaja, Yilan dan Gazan tengah beristirahat karena perasaannya yang sedang tidak karuan, dan takut ketika salah berbicara, pikirnya.
__ADS_1
Jalan satu-satunya untuk menghindari perdebatan, mereka berdua akhirnya memilih untuk tidak bersuara dari pada ujungnya akan berakhir perdebatan.
.
.
.
.
.
Waktu telah berlalu.
Kini, semua telah tinggal dalam satu rumah, termasuk Yilan bersama Sevan, dan juga Gazan, dan lainnya.
Karena tidak ingin hubungan pernikahan antara Gazan dan Yilan bermasalah, akhirnya mereka berdua pindah tempat tinggalnya. Sedangkan rumah utama tengah dipegang kendali oleh Sevan, yakni sesuai perjanjian.
Yilan yang terluka membawa cintanya kepada Sevan di dalam hubungan rumah tangganya dengan sang suami, yakni Sevando, lelaki yang telah mencuri hatinya ketika berada di kampung halamannya.
Begitu juga dengan Sevan, telah mendapatkan kebahagiaan soal dipertemukannya dengan ibu kandungnya. Namun, bahagianya tidak sempurna, lantaran pujaan hatinya telah menjadi milik lelaki lain, yakni saudara sepupunya sendiri.
Tamat
Ada cara bahagia untuk didapatkannya, dan juga ada perasaan sedih ketika Tuhan tidak menyatukan dua insan yang saling cinta.
__ADS_1
Namun, semua bukan berarti akhir dalam sebuah perjalanan hidup. Tapi, ada saatnya untuk kembali berjuang mendapatkan cinta yang tulus dan saling berjuang.