Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Rasa penasaran dengan pesan masuk


__ADS_3

Setelah melapor, Sevan berpamitan untuk pergi ke warung makan. Namun, saat berada di perjalanan, Sevan menepikan motornya di dekat pohon rindang berhenti sejenak.


"Kok berhenti, kenapa?" tanya Yilan penasaran.


"Maksudnya kamu soal kalau kita ini bertunangan itu, apa? apakah kamu sengaja mau membuat namaku menjadi jelek? begitukah?"


Sevan balik bertanya ketimbang menjawab pertanyaan dari Yilan.


"Ya aku takutnya gak diizinin tinggal di rumah orang tua kamu, itu aja sih. Maaf, jika yang aku ucapkan tadi itu salah besar. Aku cuma gak mau aja di suruh pulang ke kota." Jawab Yilan dan turun dari motor.


Kemudian, Yilan mencari tempat yang bisa dibuatnya untuk duduk. Sevan sendiri ikut duduk di sebelahnya.


"Aku tuh belum pingin pulang, dan masih ingin berada di kampung ksmu ini. Juga, aku sengaja ingin berada di kampung halaman kamu ini cukup lama, biar aku bisa lepas dari perjodohan." Ucap Yilan sambil menunduk.


"Tapi bukan seperti ini caranya kabur dari perjodohan. Kamu tahu? kedua orang tuamu maupun keluargamu, pasti mengkhawatirkan kamu. Belum tentu juga, pilihan orang tua itu salah. Apa kamu tega melihat orang tuamu panik, khawatir, dan cemas, juga hal lainnya yang sedang dipikirkan oleh kedua orang tuamu." Kata Sevan memberi nasehat kecil untuk Yilan.


"Ya aku tahu yang aku lakukan ini memang salah besar. Tapi aku tidak suka dipaksa. Apa lagi harus menikah dengan pilihan mereka, aku tidak mau." Ucap Yilan yang tetap bersikukuh dengan pilihannya.


"Kamu ini memang kerasa kepala. kamu bisa bicara baik-baik dengan keluarga kamu, terutama sama kedua orang tua kamu. Katakan dengan kalimat yang santun, juga hindari emosi."


Sevan kembali memberi nasehat kecil untuk Yilan. Tidak peduli mau di dengar atau enggaknya, setidaknya mengingatkannya.


"Kamu mau gak, nikah sama aku?"


Dengan berani dan dengan percaya diri, begitu mudahnya si Yilan mengajak Sevan untuk menikah. Tentu saja Sevan melotot dan bengong ketika mendapat ajakan yang kedengaran sangat konyol.


"Mau ya, mau ya? nanti aku bayar kamu deh. Aku akan membayar kamu dua kali lipat dari gaji mu."


Yilan kembali menawarkan diri kepada Sevan tanpa ada rasa canggung ataupun malu sekalipun, tentunya seperti mimpi buruk bagi Sevan.


"Kamu pikir, menikah itu gampang? tidak. Sudahlah, makin lama makin ngaco omongan kamu itu. Ayo kita pergi ke warung makan. Keknya kamu itu sudah lapar, makanya omongan kamu itu ngaco seratus persen." Ucap Sevan dan segera menarik tangannya dan menyuruh Yilan naik di atas jok motor.

__ADS_1


"Aku gak mau naik ke motor, titik. Pokonya jawab dulu pertanyaan dariku. Kamu mau gak nikah sama aku? sementara aja, nanti kita bercerai kalau aku sudah berhasil melakukan rencana yang aku buat."


"Sudah gi_la kamu ini. Cepetan naik, atau aku tinggal kamu sendirian disini, bagaimana? pilih naik atau ku tinggal."


Yilan yang telah gagal membujuk Sevan, akhirnya nurut dan bergegas pergi ke warung makan.


"Pegangan, takutnya nanti kamu jatuh, bisa jadi masalah kalau sampai kamu jatuh di aspal." Ucap Sevan mengingatkan, sekalian meraih tangannya Yilan untuk berpegangan.


Yilan pun akhirnya melingkarkan kedua tangannya tepat di bagian pinggangnya Sevan. Setelah itu, Sevan menambahkan kecepatannya sampai di warung makan.


"Kita sudah sampai, ayo turun. Waktu kita tidak lama, karena aku masih banyak tugas maupun kerjaan." Ucap Sevan bergegas turun dari motor.


Sambil berjalan depan belakang, Yilan mengamati isi dalam ruangan tersebut. Begitu ramai dan juga mengantri ketika hendak berpesan makanan.


Sesudah memesan, Sevan mengajaknya untuk mencari tempat duduk yang sekiranya nyaman dan tidak berisik dengan obrolan pengunjung yang lainnya.


Tidak lama kemudian, pesanannya pun datang.


"Makan yang banyak, biar kamu kuat menghadapi kenyataan." Ledek Sevan saat menyuapi mulutnya sendiri.


"Dih! yang seharusnya makan banyak itu kamu, bukan aku. Kasihan banget sih kamu, ditinggal nikah, eee cincinnya nyasar di jari manisku." Ledek Yilan yang tak lupa menjulurkan lidahnya, yakni sengaja membalas ucapan Sevan yang sebelumnya.


"Awas saja kamu ya, kalau sampai cincinku rusak. Aku bakal minta ganti rugi sepuluh kali lipat sama kamu. Kalau sampai kamu tidak mau, jangan salahkan aku jika aku akan-"


" Menikahi kamu, gitu."


Yilan langsung menyambar ucapan dari Sevan.


"Apa katamu?"


"Kita akan menikah." Jawab Yilan tanpa peduli jika kena marah pikirnya.

__ADS_1


"Aw! sakit, tau." Pekik Yilan saat mengusap keningnya ketika mendapat sentil dari Sevan.


Karena tidak ingin mempunyai urusan yang semakin ruwet dan juga panjang permasalahannya. Dengan nekad, Sevan mencari posisi untuk memanggil tukang foto, yakni untuk sebagai kenanga.


"Aku mau ke toilet sebentar. Kamu tunggu aku disini, jangan kemana-mana." Ucap Sevan pamit pergi ke toilet.


"Awas loh kalau sampai kamu tinggalin aku disini. Sini, kunci motornya berikan padaku. Aku tidak percaya kalau kamu cuman mau ke toilet." Jawab Yilan sambil menengadahkan tangannya.


Sevan yang dibuatnya geram, pun merogoh saku celananya. Kemudian, ia mengambil kunci motornya dari saku celananya.


Demi bisa mengambil gambar untuk memfoto Yilan, pun menurutinya.


"Nih, kunci motornya." Ucap Sevan sambil menyodorkannya.


Kemudian, Sevan segera bergegas pergi. Ketika mendapati tempat yang kiranya pas untuk mengambil gambar, Sevan meminta seseorang untuk memfoto Yilan dari jarak yang tidak begitu dekat, yakni agar tidak ketahuan.


"Terima kasih banyak ya, Mbak. Ini ada uang untuk Mbaknya, makasih banyak pokoknya, karena udah mau mengambil gambar istri saya." Ucap Sevan beralasan, yakni demi mendapatkan gambar untuk dikirimkan ke bosnya.


Setelah mendapatkan gambarnya Yilan, Sevan kembali ke tempat duduknya yang semula.


Sedangkan di tempat lain, yakni di kota, Zavan bersama Gazan yang tengah mencari keberadaan Yilan dengan berbagai cara, pun belum mendapatkan hasilnya.


"Bagaimana Gaz, udah dapat kabar dari anak buah kamu, belum?" tanya Zavan sambil mengoperasikan ponselnya.


"Belum. Memangnya ponsel miliknya Yilan terakhir dapat di temukan lokasinya itu, ada dimana?"


"Dekat Terminal. Tapi, apa mungkin dia naik Bis? kalaupun iya, terus kemana tujuannya? sedangkan Terminal itu hanya untuk lalu lintas ke kampung." Kata Zavan yang begitu penat memikirkan adik perempuannya.


Saat itu juga, rupanya ponsel miliknya Zavan berdering dan seperti ada panggilan. Namun, saat hendak diterima, tiba-tiba panggilan telepon mati begitu saja sebelum diterima.


Karena malas menanggapi, ternyata Zavan kembali dikejutkan dengan pesan masuk dari seseorang yang menjadi kaki tangannya, siapa lagi kalau bukan Sevando, lelaki yang menjadi orang kepercayaan.

__ADS_1


Rasa penasaran saat mendapat pesan masuk, ingin rasanya untuk dibuka. Juga, rasa tidak sabar untuk mengetahuinya.


__ADS_2