Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Terpaksa berbohong


__ADS_3

Tidak ada pilihan lain, Tuan Bonar mengiyakan.


"Baiklah, kami akan mengantarkan kamu di rumah Tuan Ravian. Tapi tidak untuk sekarang. Tuan Ravian baru saja pulang dari resepsi, tidak baik mengganggu jam istirahatnya." Ucap Tuan Bonar.


Sevan yang tidak mungkin memaksakan kehendaknya, pun mengikuti saran dari Tuan Bonar.


"Yang dikatakan oleh Tuan Bonar itu benar. Jangan gegabah anakku. Lebih baik kita pulang ke rumah, besok kita datang lagi kesini. Yang terpenting semua sudah jelas dan kamu sudah mengetahui siapa diri kamu." Ucap pak Darman selaku menjadi ayah asuhnya.


"Ya, Nak Sevan. Sekarang lebih baik kita pulang, besok kita datang kesini lagi." Timpal ibunya ikut memberi saran.


"Baik, Bu, Pak. Sevan nurut aja sama kalian. Terima kasih sudah menasehati." Jawab Sevan menyetujuinya.


"Kalian tidak perlu pulang ke rumah, menginap saja di rumah ini." Ucap Tuan Bonar.


"Terima kasih banyak, Tuan. Tapi maaf, saya bersama Bapak dan Ibu lebih memilih untuk pulang ke rumah. Lagi pula rumah kami tidak jauh dari sini." Jawab Sevan menolak.


"Baiklah, terserah kamu saja. Jangan lupa datang lagi kalau sudah benar-benar ada waktu senggang. Kamu diliburkan dari pekerjaan sampai urusan kamu selesai." Ucap Tuan Bonar.


"Terima kasih atas pengertiannya, Tuan."


"Tentu saja, karena setelah itu juga kamu akan memproses hak-hak kamu sebagai penerus keluarga Radmaja. Jadi, jangan biarkan diri kamu mudah untuk ditindas."


"Ya, Tuan. Kalau begitu kami pamit untuk pulang."


"Aku mendukung mu, Sev." Timpal Zavan selaku kakak dari Yilan.

__ADS_1


Sevan tersenyum.


"Terima kasih banyak, Tuan Zavan. Kalau begitu kami pulang, permisi." Ucap Sevan dan bergegas pulang bersama kedua orang tua asuhnya.


Dilain sisi, Yilan sudah berada di dalam kamar bersama suaminya. Yilan sendiri seperti baru mengenal dan terasa begitu canggung untuk membuka obrolan dengan suaminya. Jalan satu-satunya hanyalah diam dan tidak bersuara.


Gazan ikutan duduk di sofa setelah mengganti bajunya yang baru saja mandi.


"Kamu gak mandi?" tanya Gazan saat mendapati istrinya tengah melamun.


Saat itu juga, Yilan kaget dibuatnya.


"Nanti saja." Jawabnya asal.


"Kamu sedang memikirkan apa, sayang? tidak apa-apa 'kan, jika aku memanggilmu sayang?" tanyanya lagi sambil memperhatikan istrinya dengan jarak yang begitu dekat.


"Kamu kenapa?" tanya Gazan kembali dan meraih dagu milik istrinya.


Kini keduanya saling menatap satu sama lain.


Dengan berani, Gazan sedikit menarik dagunya dan mencoba untuk mencium bibir miliknya Yilan.


Saat itu juga, Yilan langsung mendorong tubuh suaminya.


"Jangan sentuh aku." Ucap Yilan setelah mendorong tubuh suaminya.

__ADS_1


Gazan dibuatnya terkejut dengan sikap istrinya.


"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu?" tanya Gazan penasaran.


"Aku takut, soalnya aku lagi ada tamu bulanan. Aku takutnya kelewat batas dan tidak terkontrol, hanya itu, iya hanya itu saja. Maaf." Jawab Yilan dengan alasan yang dibuat-buat.


Gazan yang mendengarnya, pun dapat bernapas lega, lantaran prasangka yang salah terhadap istrinya sendiri.


"Aku kira kamu kenapa, rupanya ada tamu bulanan. Tidak apa-apa, aku bisa mengerti. Tapi untuk mencium saja tidak apa-apa, 'kan?"


Tidak ada pilihan, Yilan mengangguk. Namun, ia melarang suaminya untuk tidak mencium bibirnya dengan isyarat yang diberikan.


Gazan pun tersenyum dan mengangguk. Kemudian, Gazan mencium kening milik istrinya dengan lembut.


"Sudah hampir malam, lebih baik sekarang kamu bersihkan badanmu dan setelah itu kita makan malam bersama." Ucap Gazan, Yilan pun mengangguk dan bergegas ke kamar mandi.


Namun, tiba-tiba dirinya teringat jika tengah bersandiwara.


"Aku minta tolong, aku butuh pemb_alut."


"Ah iya, aku sampai lupa. Sebentar, aku mau minta tolong sama asisten di rumah." Jawab Gazan dan segera memanggil asisten rumahnya untuk mengantarkan sesuatu yang diminta oleh istrinya.


"Makasih banyak ya. Maaf juga udah ngerepotin."


"Tidak apa-apa, kamu istriku dan sudah menjadi tanggung jawabku. Jadi, kamu tidak perlu merasa merepotkan ku."

__ADS_1


Yilan pun tersenyum mendengarnya, juga merasa bersalah karena sudah membohongi suaminya sendiri.


__ADS_2