Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Rasa ingin tahu kebenarannya


__ADS_3

Selesai mandi, Yilan duduk didepan cermin sambil mengeringkan rambutnya. Kemudian, Gazan berdiri di belakang istrinya, dan membungkukkan badannya sambil memeluk istrinya.


"Aroma yang sangat menggoda. Bagaimana perasaanmu setelah menikah, sayang? apakah kamu bahagia dengan pernikahan kita ini? aku akan menjadi pelengkap untuk kebahagiaan kamu, istriku."


Yilan sendiri hanya bisa tersenyum sambil memegangi tangan milik suaminya. Ingatannya justru kembali ke Sevan, lelaki yang sudah membuatnya jatuh hati.


"Jangan banyak melamun, ayo kita makan malam bareng Papa dan Mama." Ajak Gazan dan membenarkan posisinya.


Tidak ada pilihan yang lainnya, Yilan pun mengiyakan dan bergegas keluar dari kamar.


Saat baru saja turun dari anak tangga, rupanya dikagetkan dengan seorang ibu paruh baya yang tengah berlarian di ruang tengah dengan penampilannya yang berantakan. Bahkan, beberapa asisten rumah dan penjaga rumah dibuatnya kualahan saat menanganinya.


Ketika kelelahan saat berlari, ibu paruh baya tersebut berhenti di depan Yilan. Semua tengah berjaga-jaga, termasuk Gazan yang tidak ingin istrinya dilukai.


"Aku menemukan mu, gadis cantik." Ucapnya dengan tatapan yang sangat menakutkan, juga penampilannya yang berantakan. Tentu saja membuat Yilan takut.


Gazan yang tidak ingin terjadi sesuatu pada istrinya, ia langsung merangkul istrinya.


"Sis-siapa Ibu ini, Kak?" tanya Yilan dengan sebutan yang sering ia panggil kepada suaminya.


"Dia istrinya adik dari Papa aku. Dia cuma depresi dah lama, juga mempunyai gangguan kejiwaan." Jawab Gazan dengan terpaksa harus mengatakannya kepada sang istri.


"Bohong! aku tidak gila! dia yang gila." Ucapnya dan tertawa sesuka hatinya, juga lepas kontrol atas tawanya yang melengking.

__ADS_1


Yilan semakin ketakutan saat mendengar suaranya, juga tawanya yang terdengar menakutkan.


"Pak Ayron! tolong bawa Tante Elinda ke kamarnya, cepetan." Perintah Gazan kepada salah seorang penjaga rumah.


"Baik, Tuan." Jawabnya yang langsung mengerahkan yang lainnya agar tidak terjadi kegaduhan di dalam rumah.


Saat itu juga, Tuan Ravian selaku pemilik rumah, datang menghampirinya.


"Ada apa ini ribut-ribut?" tanya Tuan Ravian sambil berjalan dan diikuti oleh istrinya.


Saat melihat istri mendiang adiknya, Tuan Ravian menyuruh beberapa asisten rumah untuk menanganinya. Kemudian, mendekati anak dan menantu yang masih berdiri di anak tangga paling akhir.


"Kamu tidak perlu takut, ataupun kaget. Perempuan paruh baya tadi itu, namanya Elinda, istri dari mendiang adiknya Papa." Ucap Tuan Ravian menjelaskannya kepada Yilan, yakni menantunya.


"Tadi Yilan cuma kaget saja kok, Tante. Juga, tidak tahu kalau ada tantenya Kak Gazan."


"Loh kok panggil Mama masih Tante. Panggil saja Mama, jangan Tante. Sekarang 'kan, kamu udah menjadi istrinya Gazan, dan juga sudah menjadi bagian dari keluarga Radmaja. Jadi, jangan panggil Mama dengan sebutan Tante, tapi Mama. Ya udah, sekarang kita makan malam dulu." Ucap Ibu mertua dan mengajaknya untuk makan malam bersama.


Yilan sendiri mengangguk bercampur senyum dan ikut ajakan ibu mertuanya.


Saat di ruang makan, pikirannya Yilan kembali pada perempuan yang dinyatakan depresi dan mengalami gangguan kejiwaan, tentu saja penasaran dengan cerita tentangnya.


"Sayang, kok melamun. Nanti makanannya terasa hambar loh. Apa- aku suapi kamu, gimana?"

__ADS_1


"Eh enggak enggak enggak, enggak usah. Aku bisa makan sendiri, Kak Gazan suapi kakak sendiri." Jawab Yilan yang langsung menolak tawaran dari suaminya.


"Kamu kenapa, Nak? sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu. Jangan takut tinggal di rumah ini. Tadi itu memang seperti itu kesehariannya, nanti kamu juga akan terbiasa. Dia memang suka bicara dengan asal, juga suka marah-marah. Jadi, tidak perlu kamu menanggapinya." Ucap Ibu mertua mencoba untuk meyakinkan menantunya.


"I-iya, Ma." Jawab Yilan sambil mengunyah makanan.


"Nanti kalau tidak ada perubahan juga, Papa akan kirim lagi ke rumah sakit jiwa agar mendapatkan penanganan yang lebih baik lagi." Ucap ayah mertua ikut menimpali.


Yilan tengah mengunyah makanan sedari tadi, tidak terasa sudah menghabiskan satu porsi.


"Kalau boleh tahu, memangnya Tante tadi itu kenapa, Pa, Ma? maaf, Yilan penasaran dan ingin tahu."


Yilan akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Ayah mertua dan ibu mertuanya pun tersenyum.


"Suaminya meninggal, dan anaknya hilang. Kabar yang beredar sih, bahwa anaknya di curi oleh pembantunya. Juga, tidak ditemukan sosok pembantunya. Bahkan, alamatnya saja pun palsu. Sayangnya Papa maupun Mama tidak mengetahui sosok pembantunya yang sudah membawa anaknya kabur, karena pembantu belum lama." Jawab ayah mertuanya menjelaskan.


"Kasihan sekali nasibnya. Pasti sangat terpukul, apa lagi harus kehilangan anaknya, itu sangat menyakitkan setelah kehilangan suaminya untuk selama-lamanya." Ucap Yilan merasa bersedih mendengarkan ceritanya.


"Makanya itu, kami sekeluarga tidak bisa berbuat apa-apa selain membantunya untuk sembuh." Jawab ayah mertua.


Yilan yang tidak ingin suasana menjadi sedih, akhirnya tidak lagi bertanya.


"Sudah malam dan juga sudah waktunya untuk istirahat. Jadi, kalian istirahatlah. Jaga kesehatan kalian berdua dengan baik." Ucap Tuan Ravian.

__ADS_1


Yilan dan Gazan mengiyakan. Kemudian, keduanya kembali ke kamar untuk istirahat.


__ADS_2