Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Kecewa berat


__ADS_3

Karena menyimpan rasa penasaran, akhirnya Sevan menatap Yilan dengan tatapan yang penuh menyelidik.


"Itu apa yang ada di tanganmu? berikan kepadaku, cepat."


Yilan yang seperti dipergoki oleh Sevan, pun serasa berat untuk menunjukkannya.


'Mam_pus! aku. Kalau ketahuan, bagaimana ini? bisa berabe nantinya aku.' Batin Yilan yang merasa takut jika ketahuan, pikirnya.


"Cepat berikan kepadaku." Paksa Sevan kepada Yilan.


Tetap saja, beribu kali si Yilan berusaha mempertahankan tangannya.


"Baiklah kalau kamu tetap tidak mau menunjukkannya padaku, aku akan mengantarkan kamu pulang ke kota malam ini juga. Kebetulan, aku akan pergi ke kota dalam jangka dekat ini."


Dengan cara menakuti Yilan, akhirnya Sevan mencobanya.


Yilan yang teringat dijodohkan oleh orang tuanya, pun bingung dibuatnya.


"Ya deh, iya. Nih, lihat sendiri." Jawab Yilan dan akhirnya menunjukkan jari jemarinya kepada Yilan.


Sungguh terkejut dengan yang dilihatnya, yakni di bagian jari manisnya terdapat cincin memilikinya.


Seketika, Sevan langsung meraihnya. Kemudian, ia mendongak dan menatap Yilan begitu serius.


"Kenapa kamu pakai cincin ku ini, ha?" tanya Sevan memegangi tangannya.


Yilan yang tengah ditatap serius oleh Sevan, ia hanya nyengir kuda padanya.


"Maaf. Sebenarnya tadi aku tidak ada niat apapun padamu. Tapi, karena aku penasaran, akhirnya aku pakai." Jawab Yilan yang terlihat tersenyum dan nyengir kuda dihadapan Sevan.


"Sini, aku lepasin cincinnya. Aku tidak akan mengizinkan kamu memakainya." Ucap Sevan yang langsung meraih tangannya Yilan.


Kemudian, Sevan mencoba untuk melepaskan cincinnya. Namun sayangnya, Sevan tidak bisa melepaskan cincin yang ada di jari manis miliknya Yilan.


"Makanya itu, aku sembunyikan cincinnya darimu. Soalnya ya itu, aku gak bisa melepaskan cincinnya. Maaf. Aku tidak tahu kalau jadinya kek gini." Jawab Yilan sambil menahan sakit karena Sevan memaksakan diri untuk melepaskan cincin yang ia belikan untuk kekasihnya.

__ADS_1


Namun apa yang terjadi, justru cincinnya masuk ke jari manis miliknya Yilan dan tidak bisa dilepaskannya. Sungguh benar-benar menguji kesabaran Sevan.


Namun, tiba-tiba Sevan mendapat pesan masuk ke nomor ponselnya. Karena teringat dengan pesan dari bosnya yang memberi perintah kepadanya, Sevan segera merogoh ponselnya. Sedangkan Yilan sendiri memilih diam dan tidak mengganggunya.


Saat membuka kunci layar ponselnya, pesan pun masuk ke nomor ponselnya, yakni tersambung ke media yang sering digunakan untuk berkomunikasi dengan bosnya.


Foto pun terkirim, dan ada beberapa foto perempuan yang masuk.


Sevan langsung melotot saat melihat foto yang ia terima dari bosnya. Sungguh seperti mimpi saat melihatnya. Karena masih belum percaya dan penasaran, Sevan memperbesar fotonya.


Kemudian, Sevan menoleh ke sebelah, yakni ke Yilan untuk menyamakan foto yang ada di ponselnya dengan perempuan yang ada di sebelahnya.


'Apa iya, perempuan ini adiknya Bos Zavan?' batin Sevan seperti tidak percaya.


Namun setelah dipikir ada masuk akalnya ketika dirinya teringat saat kabur dari kota. Juga, terlihat dari penampilannya seperti bukan gadis biasa, namun terlihat berpendidikan dan dari keluarga yang berada.


Karena dibuat semakin penasaran, akhirnya Sevan segera membalas pesan dari bosnya dan bergegas untuk pulang ke rumah.


"Kamu itu ngapain sih, memperhatikan aku seperti itu. Aku tuh bukan orang jahat, dan tidak mempunyai niat jahat apapun padamu maupun sama kedua orang tuamu. Aku tuh sengaja kabur dari perjodohan, soalnya aku tidak tertarik dengan lelaki yang mau dijodohkan oleh ayahku, makanya aku kabur." Ucap Yilan yang merasa risih ketika diperhatikan oleh Sevan begitu jeli.


Setelah itu, Sevan mengirimkan pesan untuk bertanya soal pemilik foto tersebut kepada bosnya. Tidak menunggu lama, Sevan langsung mendapat balasan dari bosnya. Kemudian, ia langsung membukanya.


Saat membaca nama pemilik foto yang dikirimkan oleh bosnya, Sevan benar-benar sangat terkejut. Rupanya perempuan yang dicari bosnya adalah perempuan yang bersamanya. Sungguh tidak terbayangkan oleh Sevan sendiri.


'Jadi benar, dia ini adalah adiknya bos Zavan.' Batin Sevan yang baru melihat adiknya bosnya, sedangkan sebelumnya tidak pernah mengetahui jika bosnya mempunyai adik perempuan, pikirnya.


Karena tidak ingin cincinnya masih berada di jari manisnya Yilan, dan harus segera memberitahukan kepada bosnya jika adiknya ada bersamanya. Sevan segera mengajaknya untuk pulang ke rumah.


Namun sebelum memberitahunya, Sevan memilih mengajaknya pulang terlebih dulu.


"Ayo kita pulang." Ucap Sevan mengajaknya pulang.


Yilan yang merasa tidak bersemangat, ia pun ingin segera pulang ke rumah kedua orang tuanya Sevan untuk beristirahat. Begitu juga dengan Sevan yang harus memberi penjelasan terlebih dulu, ia pun harus menata kalimatnya agar tidak menimbulkan kesalahpahaman semata, pikirnya.


Karena memang harus membutuhkan waktu yang matang untuk mengatakannya langsung kepada keluarganya Yilan, Sevan sebisa mungkin untuk bisa menatap ucapannya, takutnya nanti salah memberi penjelasan, dan menjadi salah paham, pikirnya.

__ADS_1


Tidak ingin waktunya terbuang sia-sia, Sevan mengajaknya pulang. Dengan jarak waktu yang tidak begitu jauh karena hanya masih satu desa, akhirnya sampai di halaman rumah orang tuanya.


Ketika keduanya sudah turun dari motor, Sevan menarik tangannya Yilan masuk kedalam rumah, tentunya untuk melepaskan cincin yang ada dijari tangannya.


"Duduklah, aku akan ambilkan minyak makan. Jangan banyak protes, diam dan jangan pergi dari tempat duduk mu." Ucap Sevan memberi perintah kepada Yilan.


Mau tidak mau akhirnya Yilan menurutinya. Namun ketika ibunya Sevan yang baru selesai membereskan dapur, ia pun ikut duduk dengan Yilan.


"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibunya Sevan.


Yilan tersenyum malu mendengarnya. Mau tidak mau, akhirnya Yilan menunjukkan jari manisnya yang ada cincinnya.


"Maaf, Bu. Tadi Yilan iseng pakai cincin miliknya Sevan yang mau dibuang. Maksudnya Yilan, cincin yang untuk melamar kekasihnya. Tidak tahunya gak bisa dilepas, Bu." Jawab Yilan apa adanya.


"Cincinnya mau dibuang?" tanya ibunya Sevan.


Saat itu juga, Sevan baru duduk di dekatnya Yilan.


"Bub-bukan begitu juga, Bu. Tadi Sevan karena emosi. Jadi biar lega, Sevan mau membuang cincin itu, Bu. Tapi, Yilan merebutnya, dan dia memakainya tanpa sepengetahuan Sevan. Terus, gak bisa keluar itu cincinnya itu, Bu."


"Berarti kalian berdua ini berjodoh." Ucap ayah Sevan yang tiba tiba muncul di ruang tamu, tentu saja membuat Sevan dan Yilan saling menoleh satu sama lain.


"Apa! jodoh?"


Keduanya setelah menjawab bersamaan, pun langsung menghadap ke ayahnya Sevan.


"Itu buktinya, cincinnya gak bisa di lepas." Kata ayahnya Sevan sengaja meledek.


"Ya, benar. Yang dikatakan ayah kamu benar, kalian berdua mungkin berjodoh." Ucap ibunya ikutan meledek.


"Enggak juga lah, Bu, Pak. Ini saja karena kebetulan." Jawab Sevan mencari pembenaran.


"Memang kamu mengambil minyak untuk apa, Sev?" tanya ibunya sambil menunjuk ke mangkok kecil yang berisi minyak makan.


"Ini minyak makan untuk mengolesi jari manisnya Yilan, Bu. Sevan mau melepaskan cincinnya." Jawab Sevan.

__ADS_1


"Untuk apa dilepaskan? biarin aja cincinnya buat Yilan. Lagi pula itu cincin untuk siapa? Alia saja sudah menikah, benar, 'kan? Maafin Ibu dan Bapak yang tidak memberitahukan kamu kalau Alia menikah. Mama sama Bapak takutnya semua itu kamu anggap bohong, dan ujungnya menjadi perdebatan. Jadi, kami memilih untuk pura-pura tidak tahu, dan biar kamu yang mengetahuinya sendiri." Ucap sang ayah yang akhirnya membuka suara.


__ADS_2