Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Ada yang lagi cemburu


__ADS_3

Ibunya Sevan terus memberontak agar dapat berlepas diri dari pelukan putranya.


"Tante, aku Gazan, keponakan tante. Tidak ada pembunuh di sini, tante. Dia, dia, Savian, anak tante." Ucap Gazan yang langsung bicara terang-terangan tanpa peduli dengan situasinya.


Sevan yang mendengar ucapan dari Gazan, pun meneteskan air matanya hingga membasahi kedua pipinya sambil menunduk serta menangis.


Tidak kuasa menahan isak tangisnya ketika dipertemukan dengan seorang sosok ibu yang selalu dinantikannya dalam sebuah pertemuan. Namun, apa daya, kenyataan kondisi ibunya begitu sangat memprihatinkan keadaannya, yakni seperti tidak terurus, dan juga tidak lagi mengingat sesuatu yang ada dalam memorinya.


"Sa-vian, Vian, Vian anakku, ya! anakku. Mana, dia, dia anakku? benarkah Vian anakku. Kamu, ya! kamu anakku, Savian, putra Delon Radmaja, Penerus satu-satunya keluarga Radmaja. Bukan! anakku entah dimana, anakku diculik, anakku mungkin udah mati." Ucap ibunya Sevan yang tiba-tiba berubah mendadak bersedih dan murung, juga tengah meringkuk sambil memegangi kedua kakinya.


Bi Fahma selaku asisten rumah yang baru bekerja dan mendapatkan amanah, kini mendekati istri mendiang majikannya dulu.


"Nyonya, saya Bi Fahma. Saya yang membawa kabur Tuan Savian, saya diperintahkan Tuan untuk menjaga Tuan Savian. Kini, putra Nyonya sudah kembali, dan sudah tumbuh menjadi lelaki dewasa, dan saya memberinya nama Sevando." Ucap Bi Fahma yang langsung berterus terang kepada ibu kandungnya Sevan.


Saat itu juga, rupanya ibunya Sevan mendadak kesakitan dibagian kepalanya, dan berkali-kali memegangi kepalanya yang teramat sakit dan pusing. Sekuat tenaganya yang sering dilakukan, langsung menarik rambutnya dengan kuat, dan terlihat tengah menyiksa dirinya berkali-kali.


"Aw! Aw! Aaaaa!"


Pekiknya dan terus berteriak karena rasa sakitnya itu, ibu kandungnya Sevan terus menarik rambutnya karena kepala terasa pusing dan juga sakit.

__ADS_1


"Kita bawa ke rumah sakit, ayo."


Sevan yang tidak tega melihat ibunya kesakitan, ia langsung menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit bersama yang lainnya, termasuk Gazan.


Namun, ternyata Gazan diminta untuk pergi ke kantor polisi bersama ibu asuhnya Sevan dan Tuan Bonar selaku yang mengetahui permasalahannya.


Sedangkan Sevan yang tengah membawa ibunya ke rumah sakit, kini ditemani Zavan, Yilan, dan istri Tuan Bonar, juga pak Darman.


Selama dalam perjalanan, ibu kandungnya Sevan terus berteriak kesakitan dibagian kepalanya. Sedangkan Yilan sendiri begitu panik, yakni merasa bingung dengan kejadian yang dilihatnya. Ingin rasanya mengetahui dan mendapatkan penjelasan, itu tidak mungkin karena keadaan yang sedang tidak baik-baik saja.


Cukup lama dalam perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Dengan buru-buru, Sevan membawa ibunya untuk mendapatkan penanganan yang baik.


"Tapi, Dok." Jawab Sevan yang terasa berat untuk meninggalkan ibunya sendirian, takut terjadi sesuatu, pikirnya.


"Semua akan baik-baik saja." Ucap sang dokter, Sevan pun mengangguk pelan.


Kemudian, Sevan duduk sambil memijat pelipisnya.


Yilan yang melihatnya, pun mendekatinya dan duduk di sebelahnya. Sedangkan ibunya sendiri tidak melarangnya.

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya. Semoga tante Elinda baik-baik saja." Ucap Yilan membuka suara.


Sevan sendiri langsung menoleh, dan juga memeluk Yilan, seolah tempat yang ternyaman untuk dirinya. Yilan sendiri tidak ada penolakan sama sekali, justru dirinya sendiri merasa nyaman saat berada dipelukan lelaki yang sudah mencuri hatinya.


"Aku menyesal, kenapa aku begitu bodoh tidak mencari keberadaan ibuku sendiri, sehingga mengalami depresi berat seperti sekarang ini." Jawab Sevan yang tengah memeluk Yilan begitu erat.


"Percayalah, tante Elinda pasti bisa melewati masa-masa sulitnya, dan akan bahagia bersamamu. Kita tidak punya pilihan selain berdoa dan berharap, hanya itu." Ucap Yilan, dan pelan-pelan merenggangkan pelukannya.


Kemudian, Sevan menatap wajah ayu miliknya Yilan, perempuan yang sudah mencuri hatinya sejak berada di kampung halamannya.


Yilan tersenyum tipis pada Sevan, berharap tidak bertambah tegang dan penat saat menunggu dokter keluar dengan membawa kabar soal ibu kandungnya.


"Bagaimana denganmu, apakah bahagia dengan pernikahanmu?" tanya Sevan ingin tahu.


Yilan langsung memegangi tangannya, dan menundukkan pandangannya, lalu menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tahu, entah bahagia atau aku harus bersedih. Aku benar-benar takut, sangat takut." Jawab Yilan yang begitu dilema, tidak tahu harus menggambarkan perasannya seperti apa.


Saat itu juga, rupanya Gazan tengah melihatnya dengan kedua matanya yang teramat sangat jelas, tentu saja napasnya mendadak terasa panas, otaknya juga terasa mendidih lantaran terbakar oleh api cemburu.

__ADS_1


__ADS_2