
Malam hari yang sudah sepi, Yilan tengah berbaring di atas tempat tidur yang sederhana. Didalam ruangan yang tidak seluas tempat tidurnya di kota, namun ia tetap bersyukur karena dipertemukan dengan keluarga yang baik.
Yilan yang tidak tahu harus ngapain karena memang belum bisa untuk memejamkan kedua matanya, ia bangkit dari posisinya. Kemudian, ia mengamati didalam kamar yang ditempati.
"Meski rumah yang sederhana, tetapi nyaman. Lebih lagi pemiliknya sangat rajin, isi dalam kamar pun terlihat rapi." Gumam Yilan yang sudah berdiri.
Tidak peduli sopan atau tidaknya, Yilan mengamati isi dalam kamar yang ditempatinya karena penasaran. Saat itu juga, tiba-tiba kakinya seperti menginjak sesuatu. Yilan segera melihat ke bawah.
"Foto. Foto siapa?"
Yilan bergumam, dan berjongkok untuk mengambilnya.
Dilihatnya dengan seksama, Yilan menatap selembar foto yang ada ditangannya.
"Foto perempuan, fotonya siapa ini? apa jangan-jangan kekasihnya Sevan? mungkin saja iya. Cantik dan terlihat modern. Sepertinya perempuan ini memang kekasihnya. Oh ya, aku baru ingat. Berarti tadi Sevan itu sedang membereskan barang-barang miliknya bersama kekasihnya." Gumam Yilan dan kembali berdiri.
Setelah itu, Yilan meletakkannya di atas meja. Kemudian, segera kembali ke tempat tidur untuk istirahat. Takut, jika sampai bangun kesiangan, tentu saja sangat memalukan, pikirnya.
"Mama sama Papa, juga Kak Zavan, pasti sedang pusing nyariin aku. Untung saja aku udah mengganti semua yang bisa dilacak. Pasti mereka sedang melacak keberadaan ku." Gumamnya lagi dan beranjak ke tempat tidur, lalu istirahat.
.
.
.
Yilan yang terbangun karena mendengar suara ayam berkokok, ia langsung mengucek kedua matanya dan melihat jam yang ada di kamarnya.
"Berisik banget sih itu ayam, udah melebihi alarm jam saja." Ucapnya yang terasa mengantuk.
Namun, tiba-tiba ia mendengar suara di dapur. Karena penasaran, Yilan akhirnya bangun dan keluar dari kamar. Ia melihat ibunya Sevan yang kedengaran sibuk di dapur.
"Ibu sudah bangun? pagi banget, Bu."
"Kalau di kampung itu, jam segini sudah pada bangun. Ada yang pergi ke pasar, ada juga yang sibuk di rumah untuk menyelesaikan pekerjaan rumah dan berangkat bekerja." Jawab ibunya Sevan menjelaskan.
"Begitu ya, Bu. Soalnya Yilan baru kali ini tinggal di kampung. Jadi, belum tahu betul soal aktivitas warga kampung. Ibu mau masak kah?"
__ADS_1
"Ya, Nak. Ibu mau membuat bubur sama goreng pisang, di tempat Ibu itu, untuk pagi makan seadanya. Kalau siang, baru masak nasi, lauk, dan sayur."
"Oh, baru tahu saya, Bu. Yilan mau ke kamar mandi dulu ya, Bu." Ucap Yilan yang sebenarnya masih terasa ngantuk.
Namun, sebisa mungkin untuk terjaga kesadarannya.
"Ya, Nak, silakan. Bila perlu mandi pagi pagi seperti ini, badan jadi terasa segar. Tapi, kalau Nak Yilan belum terbiasa, jangan. Takutnya nanti kedinginan." Kata ibunya Yilan.
"Belum berani, Bu." Jawab Yilan dengan senyum malu.
"Ya udah kalau mau ke kamar mandi, ibu mau menyiapkan sarapan pagi." Ucap ibunya Sevan.
Yilan pun mengiyakan dan bergegas ke kamar mandi. Saat berada didalam kamar mandi, ia cepat-cepat untuk melakukan ritualnya.
Lain lagi yang masih berada di dalam kamar. Sevan yang terbangun dari tidurnya, ia bergegas membereskan tempat tidurnya dan keluar dari kamar.
Tanpa menyapa ibunya yang sudah bangun, Sevan langsung menuju ke kamar mandi.
DEG!
Yilan yang gugup, ia mencoba untuk segera keluar dari kamar.
Nahas, saat keluar dari kamar mandi bari selangkah, justru Yilan terpeleset saat keluar. Dengan sigap, Sevan menangkap tubuh Yilan dan memegang tangannya, keduanya layaknya sedang berdansa.
Keduanya saling menatap satu sama lain, dan tidak ada yang mengedipkan matanya. Yilan yang tersadar, ia langsung bangkit dan membenarkan posisi.
"Maaf. Aku minta maaf, soalnya buru buru." Ucap Yilan sambil mengatur napasnya.
"Makanya kalau jalan itu yang hati-hati." Jawab Sevan mengingatkan, lupa kalau Yilan itu tengah gugup karena keberadaannya.
"Ekhem! kalian berdua ada apa?"
Ibunya Sevan mengagetkan Yilan maupun Sevan.
"Tidak ada apa-apa kok, Bu. Ini, tadi Yilan hampir jatuh, dia gak konsen, jadi asal jalan." Jawab Sevan lebih dulu sebelum di sahut oleh Yilan.
"Oh. Kirain Ibu ada apa? ya udah kalau begitu, Ibu menyiapkan sarapan pagi. Kamu mau dibuatkan minum apa, Nak? kopi atau teh."
__ADS_1
"Gak usah, Bu. Sevan mau jalan-jalan ke belakang rumah. Sudah lama tidak pulang ke kampung, dan lama juga tidak menghirup udara segar." Jawab Sevan, sedangkan Yilan masih diam.
"Tapi masih gelap. Ya udah kalah kamunya mau jalan-jalan pagi. Tapi ingat, ajak Nak Yilan untuk jalan-jalan." Ucap ibunya.
"Enggak usah repot-repot, Bu. Saya mau temani Ibu menyiapkan sarapan pagi. Jalan-jalannya lain kalo aja, Bu." Timpal Yilan yang langsung menimpali.
"Ya udah, terserah Nak Yilan." Kata ibunya Sevan.
Karena menolak untuk ikut jalan-jalan pagi, Yilan memilih untuk membantu menyiapkan sarapan pagi.
Meski masih gelap, tapi sudah jam setengah enam. Banyak dari para tetangga yang berangkat ke pasar untuk menjual dagangannya.
Yilan yang belum terbiasa dengan kesibukan di dapur. Bisa tidak bisa, Yilan selalu mencobanya untuk belajar.
"Ini pisang dan tepungnya diapain, Bu?" tanya Yilan yang belum mengerti soal menggoreng pisang.
"Sini, Ibu mau ajarin kamu. Ini tepungnya yang ada di baskom, nanti disiram sama air yang sudah ibu siapkan. Terus, pisangnya di kupas aja. Biar nanti yang mengiris pisangnya." Jawab ibunya Sevan mengajarinya dengan pelan.
Yilan terseyum.
"Ibu sabar banget mengajari Yilan. Makasih ya, Bu, dapat ilmunya." Kata Yilan merasa senang.
Ibunya Sevan tersenyum, dan serasa mempunyai anak perempuan.
"Ya udah ya, Ibu tinggal masak bubur. Kalau ada apa-apa, panggil Ibu." Ucap Ibunya Sevan.
"Ya, Bu." Jawab Yilan merasa seperti bersama keluarganya sendiri.
Yilan yang tidak mau mengecewakan pemilik rumah, ia lakukan dengan senang hati dan penuh kerja keras untuk belajar.
Berbeda dengan Sevan, ia tengah jalan-jalan melewati rumah ke rumah hingga sampailah ke tempat persawahan. Udara yang masih sangat pagi, tidak membuat Sevan terasa kantuk.
Dari beberapa orang mengenali Sevan, pun berhenti dan saling menanyakan kabar satu sama lain. Juga, sempat mengobrol. Namun, tidak ada yang membicarakan soal hubungan Sevan dengan Alia. Takutnya disangka ikut campur jika menanyakannya, dan akan menjadi sebuah perdebatan.
Demi untuk tidak menanyakan soal pernikahannya Alia, memilih mencari obrolan lain.
Kemudian, karena matahari sebentar lagi terbit dan harus melakukan aktivitas lainnya, Sevan kini kembali sendirian dan melanjutkan jalan kaki sampai rumahnya.
__ADS_1