Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Ada yang tidak sabar


__ADS_3

Ibunya Sevan tersenyum saat mendengar ucapan dari Yilan.


"Baiklah, kami tidak melarang kamu untuk tinggal di rumah kami. Ibu hanya minta, bersikaplah baik di lingkungan rumah kami, dengan tetangga ataupun kerabat." Ucap ibunya Sevan berpesan.


"Baik, Bu. Terima kasih banyak untuk Ibu dan Bapak, sama kamu." Jawab Yilan dan mengarah pada Sevan.


"Ayo masuk, nanti bisa-bisa kita menjadi bahan gosip kalau masih saja di luar." Ucap Sevan dan langsung menarik tangannya Yilan, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"I-iya iya." Jawab Yilan sambil berjalan dan masuk ke dalam rumah.


Sedangkan kedua orang tuanya Sevan, pun tersenyum melihatnya. Namun, senyumnya pun hilang.


"Kasihan anak kita, Pak. Bagaimana perasaannya nanti kalau tahu jika kekasihnya menikah? sedangkan hari pernikahannya besok. Ibu tidak bisa mengatakan langsung pada Sevan, takut akan shock nantinya." Ucap sang ibu yang bersedih.


"Mau bagaimana lagi, mungkin belum berjodoh dengan Sevan. Siapa tahu juga, gadis yang dibawanya pulang adalah jodohnya. Kita tidak pernah tahu takdir yang akan membawanya."


"Semoga saja, gadis itu akan selalu menghibur Sevan. Jadi, Sevan tidak sendirian."


"Tapi Bu, kalau warga merasa risih dengan kedatangan gadis itu di rumah kita, bagaimana?"


"Biar Sevan sendiri yang memutuskannya. Lagi pula Sevan pulang juga cuti, tidak menetap di kampung. Jadi, kita tidak perlu takut. Sevan pasti akan mengantarkannya ke kota." Kata ibunya Sevan.


"Ya udah yuk, Bu, kita masuk. Sevan sama Yilan pasti sudah lapar. Ibu segera ke warung untuk belanja. Biar Bapak yang akan nangkap ikan di kolam." Ucap ayahnya Sevan.


"Ya, Pak. Ibu mau ambil uang dulu." Kata ibunya Sevan.


Sedangkan yang ada di dalam, Yilan masih duduk di ruang tamu, lantaran ditinggal Sevan ke kamar mandi.


"Loh, kok masih di sini. Memangnya Sevan tidak menyuruh Nak Yilan istirahat di kamar? kan masih ada kamar kosong."


"Katanya belum diberesin, Bu. Terus, Sevan lagi di kamar mandi. Jadi, saya menunggunya selesai."


"Perasaan kamarnya bersih. Bentar, Ibu cek dulu." Ucap ibunya Sevan yang merasa aneh.


"Ya, Bu, silakan." Jawab Yilan.


Karena penasaran dengan yang diucapkan Yilan, akhirnya ibunya Sevan mencintai untuk melihatnya. Sedangkan ayah Sevan pergi ke belakang rumah untuk menangkap ikan di kolam.

__ADS_1


Saat pintu dibuka, ibunya Sevan mencoba mengecek isi dalam kamar. Seketika, arah pandangan ibunya tertuju pada dinding yang begitu banyak foto yang terpasang dengan bangkainya.


"Rupanya ada fotonya Alia, kekasihnya Sevan yang katanya akan dilamar dan dinikahi. Tapi kenyataannya, semua berbanding terbalik dengan rencana yang sudah direncakan sebelum berangkat ke kota. Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum siap memberi tahu kamu soal Alia. Semoga hatimu lapang untuk menerima kenyataan pahit ini." Gumam ibunya yang tiba-tiba bersedih dan tidak kuasa untuk mengatakannya dengan jujur kepada Sevan.


Tidak ingin membuat Yilan menunggu, segera keluar.


"Ya, benar. Ternyata kamarnya masih berantakan, soalnya kemarin itu ada keponakannya Sevan nginap di rumah ibu waktu ibu pulang. Nak Yilan tunggu sebentar ya, biar Sevan yang akan membersihkannya. Kamu mau minum apa, teh atau yang lainnya?"


"Air putih saja, Bu. Maaf, sudah merepotkan Ibu dan keluarga." Jawab Yilan merasa tidak enak hati.


Ibunya Sevan tersenyum.


"Tidak apa-apa, Nak. Ibu tidak merasa direpotkan, justru Ibu sangat senang walaupun kamu dan Sevan baru kenal. Sepertinya kamu anak yang baik. Ya udah ya, sambil nunggu Sevan, ibu mau ambilkan air minum dulu." Ucap ibunya Sevan, Yilan mengangguk dan tersenyum.


"Ya, Bu, makasih." Jawab Yilan yang tidak tahu harus ngomong apa.


Saat ibunya Sevan pergi ke dapur, Sevan sendiri baru saja keluar dari kamar mandi. Tentu saja, kedua matanya Yilan dapat menangkap dada bidangnya Sevan yang terlihat atletis.


Karena malu, Yilan langsung menutup kedua matanya.


Kemudian, Yilan nyengir kuda.


"Ya, takutnya kamu marah. Jadi, aku tutupin kedua mataku. Oh ya, aku capek nih, pingin istirahat." Jawab Yilan dengan lesu.


"Tunggu disini sebentar, aku mau beresin kamar untuk kamu." Ucap Sevan dan langsung masuk ke kamar.


"Cie ... jangan-jangan ada sesuatunya nih di dalam kamar." Ledek Yilan yang tanpa malu dan juga canggung.


"Berisik! kamu, tinggal diam susah amat. Di dalam kamar banyak debu, nanti kamu batuk." Ucap Sevan beralasan, lantaran tidak mungkin untuk mengatakannya dengan jujur.


"Ya deh, iya." Jawab Yilan yang tidak lagi berkomentar.


Sedangkan Sevan sendiri bergegas masuk ke kamar untuk membereskan isi didalamnya. Saat sudah berada di dalam kamar, segera membereskan foto-foto miliknya bersama Alia kekasihnya.


"Padahal kamar ini tempat untuk bersantai sambil memandangi kamu, tapi harus aku bereskan untuk perempuan sial itu." Gumamnya sambil memasukkannya ke dalam kardus.


Selesai semuanya, Sevan segera keluar dari kamar.

__ADS_1


"Sudah aku beresin. Kalau kamu ingin istirahat, istirahat saja di dalam kamar. Kalau mau mandi, kamar mandinya ada dibelakang. Maaf, rumah yang kamu tempati ini masih jaman dulu. Jadi, kamar mandinya cuma satu."


"Ya, tidak apa-apa. Aku diterima di rumah ini dengan baik saja, pun aku sudah senang. Pokoknya lebih dari kata cukup. Makasih banyak ya, udah menolong aku, dan mendapat kesempatan untuk tinggal di rumah orang tua kamu. Kalau nanti aku ada uang, aku akan ganti."


"Gak perlu. Kalau kamu mau menggantinya, mendingan aku antar kamu pulang ke kota."


"Eeee jangan-jangan. Ya deh iya, aku gak akan ganti. Baik banget sih kamu, makasih ya."


"Sudah sana kalau mau mandi, bentar lagi gelap. Tidak baik tidur di jam segini, kasihan dengan kesehatanmu."


"Baiklah, aku mau mandi dulu." Jawab Yilan dan bergegas masuk ke kamar.


Namun, dirinya tersadar dan lupa, jika pergi dari rumah tidak membawa handuk.


"Kenapa belum masuk?"


Yilan langsung menoleh.


"Aku gak punya handuk, boleh pinjam?"


Yilan berubah ekspresi, tentu saja hanya bisa nyengir.


"Bentar, aku ambilkan dulu. Makanya tuh, jangan sekali-kali kabur. Ini kan, jadinya. Bikin susah orang."


"Ibu ... Sevan galak nih."


"Diam! kamu, ih! bikin gaduh aja. Bentar, aku mau ambilkan dulu handuknya untuk kamu."


Sevan segera bergegas untuk mengambilkan handuk di kamarnya. Setelah didapat, Sevan memberikannya kepada Yilan.


"Nih, kalau udah kamu jemur di teras belakang rumah, biar kering." Ucap Sevan.


"Ya, nanti aku jemur di belakang rumah." Jawab Yilan dengan lesu.


Setelah itu, Sevan memilih masuk ke kamarnya untuk menghubungi Kekasihnya. Tentu saja untuk mengajaknya ketemuan.


Namun, niatnya di urungkan dan memilih untuk hari besok datang langsung ke rumahnya sekalian melamar.

__ADS_1


__ADS_2