
Gazan yang selaku mau dijodohkan dengan putrinya Tuan Bonar, bersikap dengan tenang.
Setelah pikirannya merasa sedikit tenang, Tuan Bonar akhirnya angkat bicara.
"Kami meminta maaf. Bahwa putri kami telah kabur dari rumah, dan sampai sekarang kami sekeluarga belum menemukan keberadaannya. Kami benar-benar meminta maaf." Ucap Tuan Bonar yang akhirnya angkat bicara atas kebenarannya.
"Apa! kabur?"
Tuan Bonar mengangguk, sedangkan lelaki yang hendak dijodohkan dengan Yilan, pun menarik napasnya panjang. Sungguh tidak menyangka jika perempuan yang akan dijodohkan dengannya telah kabur dari rumah.
"Kenapa bisa kabur?" tanya istrinya Tuan Ravian.
"Kami tidak tahu sebabnya. Saat kami mau mengajaknya sarapan pagi, putri kami sudah pergi dari rumah. Bahkan, ponselnya saja di jual. Entah kemana perginya, kami belum menemukannya sampai sekarang. Jika Tuan dan sekeluarga ingin marah, dan ingin memutuskan perjodohan, kami nurut." Jawab Tuan Bonar dengan pasrah.
"Bagaimana, Gazan? apakah kamu mau memutuskan perjodohan ini?" tanya Tuan Ravian kepada putranya.
"Aku masih mau menunggunya sampai ditemukan." Jawab Gazan dengan tenang.
"Kamu serius mau menunggu adikku, Gazan?" tanya Zavan kepada teman dekatnya.
Gazan mengangguk.
"Ya. Aku akan menunggu adikmu sampai ditemukan. Katakan kepadaku, kemana dirinya hilang jejaknya. Aku akan mencarinya sampai ketemu." Jawab Gazan dan balik bertanya soal kemana terakhirnya ditemukan jejaknya.
"Ikut aku, nanti kita mencari bersama. Aku sudah memberi perintah kepada orang kepercayaan ku. Tunggu sebentar, aku mau ambil ponselku dulu." Ucap Zavan dan bergegas mengambil ponselnya yang tertinggal di ruang kerjanya.
"Kenapa putrimu bisa kabur? apakah tidak mau dijodohkan?" tanya Tuan Ravian yang menyimpan rasa penasaran.
"Kami kurang tahu. Padahal dulu itu putriku sangat dekat dengan Gazan. Juga, begitu akrab. Tapi, kenapa saat dijodohkan putriku pergi? apa karena sudah mempunyai pilihan lain? kami pun tidak tahu." Jawab Tuan Bonar.
Saat itu juga, Gazan teringat akan masa lalunya, yakni kesalahpahaman diantara keduanya.
"Kami berdua ada kesalahpahaman, dan Yilan menghilang dari kabar." Sahut Gazan menimpali.
__ADS_1
"Kesalahpahaman, maksudnya?" tanya Ibunya Yilan.
"Ada seorang wanita yang menyukai saya dan selalu mendekati saya, dan menyangkal bahwa kami ada hubungan khusus. Tetapi sebenarnya kami tidak ada hubungan apapun, dan kami tertangkap saat makan malam di sebuah restoran. Saat itulah, Yilan menghilang. Bahkan, tidak pernah mau bertemu denganku. Zavan sudah menjelaskannya, tetapi tetap bersikukuh." Jawab Gazan dengan santai.
"Jadi, hanya masalah seperti itu?"
"Benar, Ma, Pa. Maafkan aku. Soalnya aku tidak menyangka jika akan terjadi seperti ini permasalahannya." Sahut Zavan ikut menimpali.
"Ya udah kalau memang itu permasalahannya. Berarti kita segera mencari keberadaan Yilan. Semoga saja putri kami baik-baik saja di luaran sana." Ucap Tuan Bonar yang penuh khawatir dengan putrinya.
"Kalau begitu, aku bersama Gazan pamit dulu. Kalian ngobrolnya dilanjutkan lagi." Jawab Zavan dan sekaligus pamit.
"Hati-hati kalian berdua. Semoga Yilan segera ditemukan." Ucap Tuan Ravian.
"Ya, Pa." Jawab Gazan dan langsung pergi dari rumah bersama Zavan setelah berpamitan.
Di lain tempat, yakni di kampung halamannya Sevan, Yilan tengah menunggu Sevan keluar dari kamarnya. Saat sudah merasa lelah menunggu, orang yang ditunggu akhirnya keluar juga dari kamar.
"Udah tadi. Kata Ibu, aku suruh bawa baju ganti. Katanya sih, mau menginap." Jawab Yilan yang sudah siap berangkat.
"Oh iya, aku lupa. Bentar, aku mau ambil baju ganti dulu." Ucap Sevan yang teringat akan hal itu.
Setelah mengambil baju ganti, Sevan segera keluar dengan tas kecilnya yang hanya berisi satu set baju.
"Kita pergi ke rumahnya pak RT dulu. Setelah itu, kita ke warung makan untuk makan siang. Selanjutnya kita berangkat ke rumah kakakku."
Yilan mengangguk tanda mengerti. Sedangkan Sevan sendiri masih teringat dengan foto yang sangat mirip dengan Yilan, bahkan dengan namanya juga.
'Bagaimana ini, apa aku foto saja dia. Terus, aku kirimkan ke bos. Kalau sampai ketahuan duluan, aku yang kena imbasnya. Baiklah, nanti aku akan mengambil fotonya saat berada di warung makan. Lagi pula aku tidak ingin masalah menjadi panjang. Takutnya berimbas ke pekerjaanku." Batin Sevan sambil berjalan keluar.
Saat sudah siap untuk berangkat, Sevan mulai mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Tidak memakan waktu lama karena jarak rumah pak RT dengan rumahnya tidak begitu jauh. Jadi, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya sampai juga di depan rumahnya pak RT.
"Cie ... Sevan, udah dapat yang baru lagi nih. Lebih bening lagi." Ledek salah seorang warga yang mengenali Sevan.
__ADS_1
"Pak Serto bisa aja ngeledeknya. Permisi ya, Pak, kami mau ada perlu sama pak RT." Jawab Sevan dengan tawa kecil saat ada yang meledek.
"Oh ya, silakan." Ucap pak Serto dengan senyum.
Setelah itu, Sevan mengajak Yilan untuk bertamu di rumahnya pak RT.
"Permisi, Pak RT."
Sambil mengetuk pintu, Sevan memanggil pemilik rumah. Pintu pun di buka dari dalam.
"Nak Sevan, ayo silakan masuk. Maaf, agak lama membuka pintunya. Soalnya tadi lagi di belakang. Mari, silakan masuk." Ucap pak RT dengan ramah, dan mempersilakan tamunya untuk masuk ke rumah.
"Terima kasih, Pak." Jawab Yilan dan Sevan secara bersamaan.
Kemudian, Sevan dan Yilan segera masuk ke dalam. Setelah di persilakan duduk, keduanya duduk bersebelahan.
"Sebelumnya kami meminta maaf jika kedatangan kami telah mengganggu Pak RT. Kami datang ke sini mau melapor, bahwa kami datang dari kota membawa teman saya ini untuk tinggal di kampung."
"Tepatnya saya ini calon istrinya Sev-van, Pak. Ini buktinya, saya sudah dilamar. Sebentar lagi kami akan segera menikah."
Yilan langsung menyambar ucapan dari Sevan, yakni untuk mencari aman, pikirnya. Tidak lupa juga, Yilan menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Sevan langsung menoleh dan bengong saat mendengar pengakuan dari Yilan yang kedengaran sangat konyol.
"Oh. Jadi kalian berdua ini sudah bertunangan? selamat ya, Sevan. Akhirnya kamu sudah mendapatkan gantinya. Kalian berdua itu cocok dan serasi. Semoga beneran berjodoh." Ucap pak RT kepada Sevan dengan memberi ucapan selamat padanya.
"Kalau begitu kami berdua mau langsung pamit, Pak. Soalnya kami mau menjenguk kakak saya yang kecelakaan. Jadi, kami berdua buru-buru." Jawab Sevan yang langsung berpamitan.
"Kakak kamu yang tinggal di pegunungan itu ya. Bapak do'akan, semoga segera lekas sembuh. Buat kalian hati-hati di perjalanan, jangan kebut-kebutan." Kata pak RT mengingatkan.
"Terima kasih banyak, Pak. Kalau begitu kami berdua permisi." Ucap Sevan berpamitan.
Pak RT mengiyakan. Setelah itu, Sevan segera bergegas pergi ke warung makan sebelum berangkat ke rumah kakaknya.
__ADS_1