
Selesai sudah acara resepsi pernikahan Yilan bersama Gazan, sepasang pengantin pulang ke rumah pihak laki-laki. Sedangkan Tuan Bonar bersama anak dan istrinya kembali pulang ke rumahnya.
Saat sudah sampai di rumah, Yilan terasa enggan untuk turun dari mobil.
"Kita sudah sampai, ayo kita turun. Kamu tidak perlu takut." Ucap Gazan mengajak istrinya.
Yilan menoleh dan mengiyakan ajakan dari suaminya. Mau tidak mau, Yilan terpaksa tinggal di rumah suaminya.
'Kamu begitu jahat denganku, Sevan. Kamu begitu tega pada nasibku selanjutnya. Tidak akan ada kata maaf apapun atas dirimu yang sudah menghancurkan diriku. Kau benar-benar pecundang tidak mau menikahi aku.' Batin Yilan saat sudah berada di depan pintu.
Kemudian, Yilan di sambut hangat oleh keluarga suami. Semua terlihat begitu ramah dari pelayan dan anggota keluarganya.
Setelah itu, Yilan masuk ke kamar suaminya untuk istirahat, lantaran sudah hampir gelap waktunya.
Sedangkan di tempat lain, Sevan yang sudah jenuh dan bosan menunggu Tuan Bonar pulang, akhirnya baru saja sampai di halaman rumah.
"Kita pulang saja yuk, Bu, Pak. Sepertinya Tuan Bonar masih lama acara pernikahan putrinya." Ajak Sevan yang merasa bosan menunggunya.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Nak. Ini kesempatan kamu untuk bertemu dengan keluarga kamu." Ucap Ibu asuhnya.
Sevan yang merasa terlambat mengetahui kebenaran, terasa malas juga untuk bertemu dengan keluarganya. Apa untungnya, pikirnya Sevan.
"Maaf, sudah membuat kalian menunggu." Ucap Tuan Bonar yang baru saja masuk rumah dan menemui Sevan bersama kedua orang tua asuhnya.
"Sevan, kamu sudah ada di sini? ada masalah apa, Sev? sampai-sampai kamu datang lebih awal. Pantas saja dari tadi aku tidak melihatmu."
"Dia Savian." Celetuk ibunya ikut menimpali.
Zavan pun langsung melongo.
"Putra semata wayang dari mendiang Tuan Delon dan Nyonya Elinda. Keluar Radmaja adalah Savian lah penerusnya, bukan Tuan Ravian maupun Gazan." Sahut Tuan Bonar yang akhirnya membuka identitas baru soal Savian, yakni Sevando. Nama yang sengaja di rubah agar tidak menimbulkan masalah besar dan agar tidak menjadi ancaman bagi orang yang bisa saja menghalalkan berbagai cara.
"Jadi-"
"Ya. Savian adalah Sevan." Ucap Tuan Bonar, sedangkan Sevan sendiri masih diam.
__ADS_1
"Terus, bagaimana dengan Tuan Ravian, Pa?"
"Tuan Ravian adalah anak angkat yang dibesarkan oleh keluarga Radmaja. Agar tidak membuat kecemburuan, keluarga Radmaja memberi nama gelar yang sama." Jawab Tuan Bonar menjelaskan begitu detail.
Sevan sendiri belum mengerti. Namun, otaknya langsung mendadak teringat soal ibunya yang masih hidup dan berada di rumah sakit jiwa.
Saat itu juga, Sevan langsung menghadap ke Tuan Bonar.
"Ibuku. Ibuku dimana, Tuan? katakan padaku."
Sevan akhirnya menanyakan hal tentang ibunya.
"Ada. Sekarang ada di rumah sakit jiwa." Jawab Tuan Bonar.
"Berikan alamat rumah sakitnya kepada saya. Sekarang juga, saya akan mengambil alih dan merawat ibu saya. Karena saya yakin, Ibu saya pasti bisa sembuh." Ucap Sevan yang begitu penasaran dengan kondisi ibunya.
Mau bagaimana kondisinya, tetaplah ibu kandungnya yang sudah melahirkannya dan menaruhkan nyawanya.
__ADS_1
"Tenang dulu, Sevan. Kami juga harus mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada Tuan Ravian. Karena semua atas namanya, dan tidak mudah untuk menemui ibu kamu di rumah sakit." Kata Tuan Bonar.
Sevan yang sudah tidak sabar untuk bertemu dan melihat kondisi ibunya, pun ingin rasanya semua segera berakhir rasa penasarannya.