
Sevan yang tengah berdiri di belakang Zavan, pun memperhatikan kedua orang tuanya Yilan yang begitu khawatir dan merindukan putrinya.
'Keluarga yang sempurna, tidak sepertiku. Tapi, kenapa Nona Yilan menolak Gazan untuk menjadi suaminya? padahal sudah sempurna jika mereka menikah, sama-sama mempunyai kualitas keluarga yang baik.' Batin Sevan sambil memperhatikan Yilan yang tengah berbicara bersama kedua orang tuanya.
Begitu juga dengan Gazan, sama seperti Sevan yang juga memperhatikan Yilan. Berbeda dengan Zavan, justru tengah memikirkan Gazan dan Sevan yang sama-sama menyukai adiknya.
Zavan berdehem dan mengagetkan semuanya. Bukannya mengarahkan pandangannya ke putranya, justru Tuan Bonar langsung mengarahkan pandangannya tepat pada Sevan yang tengah berdiri di belakangnya Zavan.
Kemudian, Tuan Bonar mendekatinya.
"Terima kasih ya, Sevan. Kamu sudah menjadi penolong putriku." Ucap Tuan Bonar, Sevan pun tersenyum ramah.
"Sama-sama, Tuan. Pertemuan saya bersama Nona Yilan diawali tanpa kesengajaan, dan hanya kebetulan semata. Saya sendiri, pun tidak pernah mengiranya, jika perempuan yang mengikuti saya itu, tidak lain Nona Yilan, putri dari Tuan." Jawab Sevan tanpa ada yang ditambah atau dikurangi.
Tuan Bonar tersenyum senang, lantaran putrinya pulang dengan selamat.
Setelah itu, Tuan Bonar mendekati Gazan.
"Kesempatan datang tidak menunggu besok atau lusa, secepatnya kamu menikah dengan Yilan, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Jadi, persiapkan diri kamu untuk menikahi Yilan." Ucap Tuan Bonar.
Yilan yang mendengarnya, pun tidak terima jika dirinya harus menikah dengan Gazan. Sedangkan Sevan yang mulai ada rasa cemburu, tidak bisa berbuat apa-apa, dirinya sadar dengan statusnya sendiri, dan hanya menjadi saksi, serta pendengar setia.
"Tidak! Yilan tidak mau menikah dengan Kak Gazan, Pa." Sahut Yilan yang ikut berkomentar, karena dirinya memang menolak sejak awal perjodohan.
Tuan Bonar langsung menoleh pada putrinya, tentu saja kaget dengan apa yang diucapkan oleh Yilan.
"Kenapa kamu tidak mau menikah dengan Gazan, Yilan? Bukankah kamu dulunya menyukainya? kenapa sekarang kamu menolak?" tanya sang ayah yang ingin tahu alasan apa dari putrinya.
"Yilan tidak akan memberi alasan apapun pada Papa maupun sama Mama, pokoknya Yilan menolak menikah dengan Kak Gazan, titik. Yilan hanya mau menikah dengan Sevando, lelaki yang ada di belakangnya Kak Zavan." Jawab Yilan begitu jelas untuk di dengar.
Sungguh semuanya sangat terkejut dengan jawaban yang Yilan pilih, termasuk Sevan sendiri yang seolah menjadi umpan.
"Apa! menikah dengan Sevan?"
Sang ayah yang seperti tidak habis pikir dengan jawaban dari putrinya, termasuk istrinya Tuan Bonar sendiri.
__ADS_1
"Itu tidak benar, Tuan. Nona Yilan hanya melibatkan saya untuk menjadi batu loncatan saja, agar terlepas dari perjodohan." Sahut Sevan ikut menimpali, takutnya akan menjadi sasaran empuk oleh Yilan, pikirnya.
Yilan yang kecewa karena mendengar ucapan dari Sevan, sungguh merasa geram dibuatnya. Berharap akan menjadi penolongnya, justru menjadikan dirinya umpan untuk keluarganya sendiri.
Zavan yang mengerti dengan yang diucapkan oleh Sevan sebagai alasan untuk mengindari masalah, dirinya lebih dulu memberi penjelasan, pikir Zavan dengan daya tangkap nya.
Sedangkan Gazan yang mendengar jawaban dari Yilan, pun merasa geram dan seolah dirinya tak diinginkannya.
Tuan Bonar kini mendekati putrinya lagi, dan menatapnya dengan serius.
"Apa benar yang dikatakan Sevan? ayo jawab."
Karena ingin mendengarnya lagi, Tuan Bonar memastikan atas jawaban dari putrinya.
Yilan menggelengkan kepalanya.
"Yilan hanya ingin menikah dengan Sevan, itu saja. Soalnya Yilan merasa nyaman bersamanya, dan dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab." Jawab Yilan mencari pembelaan untuk dirinya sendiri atas pilihannya.
Zavan yang selaku sang kakak, dirinya tidak bisa memberi pembelaan untuk adik perempuannya. Pilihan yang cukup sulit untuk ditentukan. Satu, Sevan orang kepercayaannya, tentu saja tidak dapat diragukan lagi. Begitu juga dengan Gazan, teman dekatnya yang sudah lama dikenal.
Yilan yang merasa kesal karena tidak mendapatkan pembelaan dari sang kakak, hanya bisa memasang muka cemberutnya.
"Sekarang juga, Sevan segera pulang. Keputusan dari awal adalah keputusan yang mutlak dan tidak bisa untuk di rubah. Yakni, Yilan dan Gazan akan segera menikah dalam jangka waktu dekat ini." Kata Tuan Bonar atas keputusan yang diambil.
Sevan yang tidak mempunyai hak apapun, sama sekali tidak bisa berkata apa-apa, dan memilih untuk segera bergegas pergi dari rumahnya Tuan Bonar, pikirnya.
"Kamu bisa pulang ke rumah kamu sekarang juga, besok jangan sampai terlambat datang ke kantornya. Ada tugas padat untukmu, aku berharap kamu datang tepat waktu." Ucap Zavan dengan terpaksa harus mengusir Sevan untuk pergi dari rumah orang tuanya.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi, selamat sore." Jawab Sevan yang langsung pamit pulang. Kemudian, tidak lupa juga berpamitan dengan Tuan Bonar maupun Gazan, tetapi tidak untuk Yilan dan ibunya.
Setelah Sevan pergi, kini tinggal Gazan yang berada di rumahnya Tuan Bonar. Sedangkan Yilan diajak masuk ke kamarnya sama ibunya agar tidak terjadi keributan hanya karena sebuah perjodohan.
Sampainya di kamar, Yilan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Bahkan, untuk ke kamar mandi saja terasa berat, yakni karena memikirkan perjodohan dari ayahnya.
"Ma, kenapa sih, Papa begitu ngotot menikahkan Yilan sama Kak Gazan? padahal tuh, Yilan udah tidak mau dijodohkan. Tapi, masih saja suruh nikah dengan lelaki yang bukan menjadi pilihannya Yilan." Ucap Yilan sambil rebahan.
__ADS_1
Ibunya yang tengah duduk di dekat putrinya, pun mengusap keningnya hingga ke ujung kepalanya.
"Sebenarnya bukan Gazan yang harus menikah dengan kamu, tapi saudaranya." Jawab ibunya yang akhirnya membuka obrolan serius dengan putrinya.
Yilan yang kaget atas jawaban dari ibunya yang membuatnya penasaran, langsung duduk di sebelah ibunya.
"Saudaranya Gazan, maksudnya Mama itu apa?" tanya Yilan penasaran.
"Kamu sudah dijodohkan oleh keluarga Radmaja, yakni menikah dengan teman akrabnya Papa kamu, tapi harus pupus begitu saja. Jadi, Gazan yang menggantikan sepupunya untuk menikahi kamu demi keterikatan keluarga yang sudah disepakati dari kamu masih bayi." Jawab ibunya memberi penjelasan kepada putrinya.
Tetap saja, Yilan sama sekali belum mengerti apa yang diucapkan oleh ibunya. Memikirkan untuk tidak menikah dengan Gazan saja sulit, apa lagi harus memikirkan soal masa lalu keluarga Radmaja, pikirnya.
"Terus, keluarga yang mau dijodohkan dengan Yilan, sekarang ada dimana?" tanya Yilan yang tiba-tiba menyimpan rasa penasaran dan ingin tahu.
"Tinggal satu, yaitu Nyonya Elinda yang keadaannya sekarang ini sangat memprihatinkan. Sekarang ada di Rumah sakit jiwa karena telah dinyatakan depresi dan berujung menjadi gi_la."
"Kenapa bisa menjadi gila, Ma?"
"Karena putranya hilang." Jawab Ibunya Yilan.
"Hilang. Kemana perginya, Ma?"
"Di saat hembusan napas terakhirnya Tuan Delon, telah berpesan kepada Papa kamu. Bahwa putranya yang bernama Savian telah dibawa pergi oleh pembantunya demi keselamatan putra dari Tuan Delon. Juga, memberi alamat rumahnya. Namun, setelah dicari alamat rumah oleh Papa kamu, rupanya sudah pindah hingga sampai saat ini tidak ditemukan keberadaannya." Jawab ibunya menjelaskan dengan detail.
"Kasihan sekali ya, Ma, nasib keluarganya Tuan Delon. Istrinya apa lagi, sangat memprihatinkan. Semoga saja akan ada keajaiban, putranya mendiang Tuan Delon masih bisa ditemukan, dan dipertemukan kembali dengan ibunya." Ucap Yilan yang tersentuh oleh cerita dari ibunya.
"Jadi, sebagai gantinya, kamu menikah dengan Gazan." Kata sang ibu.
Namun, tiba-tiba Yilan semakin dibuatnya penasaran untuk mengetahui keluarga Radmaja karena satu keluarga yang begitu memprihatinkan soal jalan ceritanya. Lebih lagi dengan Nyonya Elinda yang depresi, ingin sekali mendatangi tempatnya dan melihat keadaannya.
"Memangnya berapa keluarga sih, Ma, maksudnya keluarga Radmaja ada berapa keluarga?"
Akhirnya Yilan kembali bertanya lagi.
"Ada tiga. Tuan Delon sebagai anak pertama, Tuan Raviando sebagai anak kedua, dan anak ketiganya yaitu, Dernando." Jawab ibunya.
__ADS_1
Yilan semakin dibuatnya penasaran.