
Diperjalanan, Sevan tengah mengendarai motornya untuk pergi ke rumah kekasihnya yang bernama Alia. Dengan jarak yang cukup lumayan jauh karena ujung desa dengan ujung desa, membuat kabar pernikahannya tidak sampai terdengar oleh Sevan. Juga, para tetangga yang tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadinya, memilih untuk tidak membicarakannya.
"Semoga Alia mau menerima lamaran dariku. Terus, aku dan Alia akan segera menikah. Kemudian, kami berdua hidup bahagia." Ucapnya lirih sambil mengendarai motor dengan santai.
Namun, tiba-tiba ia dikejutkan dengan banyak orang yang terlihat seperti tengah berangkat ke acara pernikahan di gang menuju rumahnya Alia.
'Rupanya ada yang punya hajatan, siapa yang menikah? kok Ibu sama Bapak gak bilang ya, kalau arah rumahnya Alia ada yang punya hajat. Mungkin saja lupa, secara aku pulang secara mendadak.' Batin Sevan sambil mengendarai mobilnya dan melihat orang-orang yang lalu lalang dari acara pernikahan.
"Hei! Sevan, tunggu." Panggil seorang laki-laki yang mengejar Sevan.
Setelah menoleh ke belakang, Sevan kembali menatap lurus ke depan, takutnya menabrak orang.
"Sevan! berhenti."
Saat itu juga, Sevan langsung mengerem mendadak dan berhenti dipinggir jalan.
"Galih, kamu rupanya. Apa kabarnya? maaf, tadi aku kira siapa. Takutnya aku salah orang, kan malu."
"Kamu ini, mentang-mentang udah sukses, takut salah orang segala kamu."
Sevan tertawa kecil mendengarnya.
"Eh! Ngomong-ngomong, kamu mau ke mana? kondangan?"
"Ya, aku mau kondangan. Kamu sendiri mau- mau kondangan juga?" tanya Galih merasa aneh dengan Sevan.
'Apa iya, Sevan setegar itu mau kondangan tempatnya Alia? 'kan mereka sempat pacaran.' Batin Galih yang tidak tahu apa-apa.
Sevan tersenyum tipis.
"Enggak, justru aku gak tahu kalau ada orang hajatan. Soalnya aku datang ke rumahnya Alia. Aku mau melamar Alia dan sekaligus mau mengajaknya menikah. Aku memang sengaja datang sendiri, aku ingin memberi kejutan." Jawab Sevan dengan jujur.
Galih sebagai teman akrabnya di kampung, ia merasa kasihan dengan jawaban Sevan. Juga, ia sangat kaget ketika Alia menikah, justru Sevan tidak mengetahuinya.
'Bukan kamu yang akan memberi kejutan, tapi kamu sendiri yang akan mendapat kejutan dari Alia.' Batin Galih merasa tidak tega jika harus mengatakannya langsung.
__ADS_1
"Galih! woi! ngelamun Lu."
"Eh! enggak, aku cuma keinget sama kamu waktu deketin Alia. Ya udah yuk, kita jalan lagi. Nanti malam aku main ke rumah kamu sama teman lainnya. Oh ya, semangat buat kamu." Jawab Galih yang tidak tahu harus berkata apa kepada temannya.
Karena tidak mempunyai alasan lain, terpaksa Galih memilih untuk tidak memberitahukannya, pikirnya.
"Oke! nanti malam aku tunggu." Ucap Sevan, sedangkan Galih segera mengendarai motornya.
Setelah itu, Sevan juga kembali melajukan motornya untuk pergi ke rumah kekasihnya.
Namun, semakin melajukan mobilnya, jarak antara rumah pemilik hajat semakin dekat. Bahkan, semua yang mengenali Sevan, pandangan mereka tertuju pada dirinya. Sevan sendiri menganggapnya hal yang lumrah, yakni dirinya yang menyadari jika jarang pulang ke rumah.
Hanya sapaan yang bisa dilakukan oleh Sevan maupun orang yang mengenalinya.
Menanggapi orang-orang yang menyapa dirinya, tidak tahunya Sevan sudah sampai di tempat hajatan. Juga, ia tidak menyadari jika yang mempunyai resepsi yang tidak lain di rumahnya Alia, kekasihnya.
Karena jalanan terhalang oleh tenda, akhirnya Sevan memarkirkan motornya dengan para tamu undangan dengan yang lainnya.
Kemudian, Sevan berjalan dan diikuti oleh Galih dari belakang.
'Bagaimana ini, kasihan sekali dengan Sevan. Apa iya, Alia belum memberitahu soal pernikahannya kepada Sevan? kalaupun iya, Alia benar-benar tega dan juga tidak punya hati.' Batin Galih yang mengikuti Sevan dari belakang.
Sevan yang semakin dekat dengan pintu utama untuk masuk para tamu undangan, kedua matanya Sevan tertuju pada sebuah foto prewedding sepasang pengantin yang terlihat begitu jelas namanya. Galih yang berhenti di belakangnya, pun seolah tidak tahu apa-apa
"Alia dan Bagas." Ucapnya ketika membaca nama sepasang pengantin.
Seketika, Sevan menoleh ke belakang dan menatap Galih penuh dengan tanda tanya.
Sevan segera berjalan mendekatinya.
"Siapa yang menikah, Gal?" tanya Sevan.
Galih terdiam ketika mendapat pertanyaan dari temannya.
"Memangnya kamu benar-benar tidak tahu? semalam pengucapan kalimat sakralnya, dan hari ini adalah resepsinya."
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Katakan padaku, siapa pemilik nama itu, Gal?" tanya Sevan mendesak.
"Kita masuk kedalam, nanti kamu akan mengetahuinya."
"Jadi! benar, Alia! Alia!"
"I-i-ya, Sev. Maaf." Jawab Galih yang tak kuasa untuk mengatakannya langsung kepada Sevan.
Dengan rasa penasaran, Sevan akhirnya masuk ke dalam dengan penuh emosi yang seakan hendak meluap.
Sevan berjalan begitu cepat dengan langkah kakinya, dan tidak peduli jika harus menabrak orang-orang yang ia lewati. Baginya yang terpenting adalah melihat kebenarannya.
Semua orang menjadi heboh saat Sevan masuk dengan arogan hingga tepat di depan sepasang pengantin.
Bagai mendapat sambaran petir yang begitu dahsyat hingga rasa itu hilang dalam sekejap ketika melihat orang yang dicintainya berdiri di pelaminan dengan lelaki lain. Hancur perasaannya, hancur harapannya, hancur sudah apa yang ia jaga selama ini.
"Sevan." Ucap Alia menyebutkan namanya.
Sevan yang melihat kenyataan pahit di hadapannya, sungguh bagai peluru yang tembus hingga ke ulu hatinya. Sakit dan sangat menyakitkan.
"Maafkan aku, Sevan. Aku tidak bisa menikah dengan mu, karena aku tidak bisa hidup bersama dengan modal yang pas-pasan denganmu. Juga, aku memilih untuk dijodohkan ketimbang memilih suami dari pilihanku sendiri." Ucap Alia yang begitu menusuk hatinya Sevan ketika ditolak dan dipermalukan oleh perempuan yang dicintainya.
Napas yang semakin terasa panas dan juga sesak, ingin rasanya meluapkan segala emosinya. Namun, ia menyadari untuk tidak mengotori tangannya hanya seorang wanita yang sudah menghinanya.
"Jadi, kamu memilih laki-laki ini karena bisa mencukupi kebutuhan hidupmu. Baik. Aku pegang omongan kamu. Detik ini juga, kau udah lenyap di kehidupan ku. Aku menganggap diri kamu sudah mati. Aku menyesal, pulang jauh dari kota hanya untuk melamar mu, tetapi rupanya kamu tidak lain seorang pengkhianat." Ucap Sevan dan pergi dari hadapan Alia.
Semua yang tengah hadir di acara resepsi pernikahan, benar-benar tidak menyangka jika akan melihat pertunjukan yang sama sekali tidak terduga sebelumnya.
Galih yang melihat Sevan seperti kehilangan keseimbangan, ia mengejar karena takut terjadi apa-apa dengannya.
"Aaaaaaa!" teriak Sevan begitu sangat kencang saat keluar dari pesta pernikahan wanita yang akan dilamar.
"Pers_etan! semua." Umpat Sevan dengan penuh emosi.
Yilan yang baru saja sampai, ia mencari keberadaan Sevan.
__ADS_1