
"Bi Fahma." Panggil Tuan Bonar yang tidak jauh jaraknya.
Sevan yang juga terkejut ketika bos besarnya telah mengenal ibunya. Tuan Bonar karena penasaran, akhirnya mendekatinya. Sedangkan ibunya Sevan terlihat ketakutan.
"Bi Fahma, 'kan?" tanya Tuan Bonar untuk memastikannya.
Masih diam dan tidak ada sahutan ataupun jawaban sama sekali oleh ibunya Sevan sedangkan ayahnya Sevan sendiri akhirnya mendekatinya untuk mewakili istrinya.
"Benar. Dia Fahma istri saya, Tuan." Sahut ayahnya Sevan yang sudah berada di belakang Tuan Bonar dan istrinya.
Keduanya menoleh ke belakang dan menghadap kepada Pak Darman selaku ayahnya Sevan.
"Jadi, dia benar Bi Fahma?"
Pak Darman mengangguk.
"Benar. Tidak ada yang di tutupi oleh kami kepada siapa yang pertama bertemu kami dan paham dengan kami, termasuk Tuan Bonar sendiri bersama Nyonya." Jawab Pak Darman akhirnya mengatakannya dengan jelas.
__ADS_1
Sungguh bagai mimpi ketika dipertemukan kembali dengan orang yang sudah lama tidak bertemu, namun wajah masih sama dan tidak ada yang berubah hingga mudah untuk dikenali satu sama lainnya.
Ibunya Sevan masih tertunduk karena belum mampu untuk menghadap ke wajah milik kedua orangtuanya Yilan, yakni Tuan Bonar bersama istrinya.
"Bu. Ibu mengenal Tuan Bonar, kah?" tanya Sevan yang menyimpan rasa penasaran.
Masih diam. Terasa kelu untuk menjawab pertanyaan dari putranya.
Karena tidak mungkin untuk membicarakan sesuatu hal penting di khalayak umum, Tuan Bonar mengajaknya ke suatu ruangan yang lebih aman.
Saat berada didalam ruangan yang tertutup, kini ibunya Sevan yang dipanggil Bi Fahma, pun tengan duduk berhadapan dengan Tuan Bonar.
"Maaf, Tuan." Ucap ibunya Sevan yang akhirnya bersuara, meski belum berani untuk mendongak.
Kemudian, arah pandangannya Tuan Bonar mengarah pada Sevan, sosok lelaki yang diminta putrinya untuk menikahinya, namun Tuan Bonar sendiri menolaknya, lantaran sudah ada kesepakatan untuk menikahkan putrinya dengan penerus keluarga Radmaja.
Sevan memilih diam, dan duduk di sebelah ibunya.
__ADS_1
"Kenapa Bibi menghilang dan memberi alamat palsu kepada kami?" tanya Tuan Bonar yang langsung berbicara pada pokok intinya.
"Saya diminta oleh mendiang Tuan Delon untuk pergi jauh ke alamat baru, dan menyelamatkan putranya demi keselamatan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Namun, ketika memasuki remaja, saya datang ke kota lagi untuk menemui Tuan, tetapi alamat rumah milik Tuan Bonar sudah pindah. Disitulah saya tidak mempunyai titik terang untuk mempertemukannya dengan keluarga Radmaja lewat keluarga Aditama." Jawab ibunya Sevan yang akhirnya mengungkapkan kebenarannya.
Sungguh bagai mimpi oleh Sevan saat mendengar penjelasan ibunya soal jati dirinya, yakni tidak jauh dari keluarga Tuan Bonar.
Saat itu juga, Tuan Bonar menatap Sevan sambil memperhatikan wajahnya dengan seksama dan intens.
"Namanya Sevando, yang tidak lain Savian. Kami sengaja mengubah namanya, Sevando yang kami rawat dari kecil hingga tumbuh dewasa seperti saat ini adalah putra dari Tuan Delon dan Nyonya Elinda."
Bagai gunung yang meletus dan mengeluarkan larva, sungguh bagai mimpi.
"Apa!"
Tuan Bonar bersama istrinya, pun sangat terkejut mendengarnya. Sedangkan ibunya Sevan terdiam dan takut kehilangan sosok Sevan yang sudah dijadikan anak kandung sendiri.
Sevan sendiri tidak tahu harus berkata apa, yang jelas seperti mimpi saat dipertemukan dengan orang yang dikenal oleh ibunya. Lebih lagi soal jati dirinya yang baru terbongkar kebenarannya, benar-benar kejutan yang sudah sekian lama dinanti-nantikan.
__ADS_1
Seketika, ingatan Tuan Bonar tertuju oleh putrinya yang sudah menikah dengan Gazan, putra dari keluarga Radmaja.