
Tuan Bonar langsung berdiri, dan diikuti yang lainnya.
Ibunya Sevan sendiri masih terdiam dan menunduk, begitu juga dengan Pak Darman yang sama menunduk. Namun tidak dengan Sevan, ia semakin penasaran dibuatnya.
"Jadi, dia ini benar Savian putranya Delon Radmaja dan Elinda?" tanya Tuan Bonar sengaja mengulang pertanyaan untuk memastikan kebenarannya.
Ibunya Sevan mengangguk.
Sevan langsung meraih kedua lengan ibunya dan menghadap.
"Bu! katakan kepada Sevan sekarang juga. Apakah benar, kalau yang dikatakan oleh Tuan Bonar memang benar?"
Sevan akhirnya memberi pertanyaan kepada ibunya.
"Benar, Nak. Yang dikatakan oleh Tuan Bonar adalah benar. Bahwa kamu dipertemukan dengan orang yang sangat mengenali kedua orang tua kamu. Juga, asal usul kamu. Sedangkan ibu adalah yang tidak lain hanya pembantu dari keluarga orang tua kamu." Jawab Ibunya Sevan yang akhirnya mengatakannya dengan jujur.
Tubuh Sevan mendadak menjadi lemas tidak berdaya saat mendengar pengakuan dari ibunya. Sungguh dirinya benar-benar tidak pernah menyangka jika dirinya dari keluarga yang sangat dikenali oleh bosnya sendiri.
Haruskah bahagia atau bersedih, Sevan begitu sulit untuk menerimanya, lantaran perempuan yang disukainya ternyata sudah menikah. Kenyataan pahit kembali menimpa dirinya.
__ADS_1
Karena Tuan Bonar masih ada acara pernikahan putrinya, terpaksa harus meninggalkan Sevan dan kedua orang tua angkatnya.
"Kalian jangan pergi kemana-mana, urusan kita belum selesai. Saya akan kembali menemui kalian, tapi nanti di rumah. Untuk sekarang ini lebih baik kalian pulang ke rumah saya, nanti kami akan menyusul kalau acara pernikahan putri saya sudah selesai." Ucap Tuan Bonar menutup obrolan.
Tidak ada pilihan lainnya, mau tidak mau akhirnya menyetujuinya.
"Baik, Tuan. Saya akan ikuti perintah dari Tuan." Jawab Sevan yang terasa berat hati.
Namun, mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.
Setelah Tuan Bonar bersama istrinya pamit, Sevan bersama kedua orang tua angkatnya segera pergi meninggalkan acara tersebut.
Lain lagi di tempat pelaminan, Yilan begitu tidak bersemangat ketika menjadi istri sahnya Gazan. Pernikahan yang pernah dinantikan, rupanya tidak diharapkan kembali.
"Kamu kenapa, Yil? sepertinya kamu tidak bersemangat."
Yilan masih diam dan sama sekali tidak merespon.
"Yil," panggil Gazan mencoba membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Yilan yang kaget, pun langsung menoleh.
"Kamu kenapa? ada masalah?"
Yilan menggelengkan kepalanya.
"Enggak ada, aku cuma nunggu Mama sama Papa kok gak kelihatan." Jawabnya beralasan.
"Mungkin sedang menemui tamu penting. Atau enggak kamunya kecapean, jangan berbohong. Kalau kamu capek, kamu bisa istirahat." Ucap Gazan, Yilan menggelengkan kepalanya dan berusaha 'tuk tersenyum.
Saat itu juga, Gazan meraih tangan milik istrinya, dan menggenggamnya dengan erat.
"Aku mencintaimu, Yilan istriku." Sambungnya dan mengutarakan perasaannya kembali.
Tidak bisa menjawab, Yilan cukup tersenyum untuk mengalihkan ucapan dari suaminya.
"Tidak apa-apa jika kamu tidak bisa menjawab, mungkin kamu malu. Ya udah, kalau gitu kita istirahat dulu. Juga, sebentar lagi waktunya untuk makan siang." Ucap Gazan yang masih memegangi tangan milik istrinya.
Tanpa disadari, rupanya Sevan tengah naik ke atas panggung pelaminan. Bahkan, begitu jelas saat Gazan mengatakan cinta kepada Yilan.
__ADS_1
Benih-benih kecemburuan rupanya tengah dirasakan oleh Sevan, dan serasa tidak rela ketika melihat Yilan tengah bersanding dengan lelaki lain.
Saat itu juga, Yilan dan Gazan menyadari adanya sosok Sevan yang tengah mendekati.