Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Ada yang penasaran


__ADS_3

Cuaca yang terasa semakin dingin, Sevan meraih selimut dan menyelimuti Yilan agar tidak kedinginan.


'Jadi penasaran dengan lelaki yang akan dijodohkan denganmu, Nona. Sampai-sampai kamu menolak perjodohan dari keluargamu.' Batin Sevan sambil memandangi wajah ayu miliknya Yilan dengan seksama.


Tidak ingin mengganggu tidurnya, Sevan memilih duduk dan beristirahat di ruang tamu, tepatnya tidur di sofa.


Saat baru saja mau memejamkan kedua matanya, ponselnya pun berdering. Sevan yang penasaran, langsung meraih ponselnya di atas meja. Kemudian, Sevan menerima panggilan. Seperti tadi, dengan serius mendengarnya.


"Disini hujan deras, Tuan. Jadi, saya tidak bisa pulang." Jawab Sevan lewat panggilan telepon.


Usai mendapat perintah, panggilan telepon langsung dimatikan oleh si penelpon.


"Aneh. Kenapa suaranya bukan suaranya Tuan Zavan? apa tadi suara miliknya lelaki yang mau dijodohkan dengan Nona Yilan? bisa aja sih, mungkin memang begitu. Kedengaran dari suaranya saja sudah terlihat, kalau laki-laki tadi itu bukan suaranya Tuan Zavan." Gumam Sevan yang mendadak penasaran.


Karena tidak ada sesuatu yang dapat mengalihkan rasa kantuknya, Sevan sendiri tertidur saat kedua matanya sulit untuk terbuka hingga sore hari menyambutnya.


Pemilik warung makan yang sudah beberes, kini baru saja masuk kedalam rumahnya. Seketika, ia kaget saat melihat Sevan yang tengah tidur sendirian di sofa.


"Renan, kamu dah selesai ya, dagangnya. Maaf banget ya, kami ketiduran. Sampai-sampai lupa untuk membantu kamu." Ucap Sevan saat terbangun, dan merasa tidak enak hati dengan temannya.


"Tidak apa-apa, aku udah selesai. Kamu disini tamu, lama juga kita tidak pernah bertemu, masa' iya, aku biarin kamu membantu beres-beres. Kok kamu tidak tidur di kamar bareng istrimu, malah di ruang tamu." Jawab Renan.


"Dia bukan istriku."


"Kamu bilang apa tadi? bukan istri kamu?"


Renan seperti tidak percaya dengan jawaban dari temannya.


Sevan sendiri mengangguk.


"Benar." Jawab Sevan dan melanjutkan ceritanya hingga Renan benar-benar mengetahui kebenaran semuanya soal Sevan dengan Yilan.


Tentu saja, Renan begitu kaget mendengar penjelasan dari teman dekatnya itu. Perempuan yang disangka istri temannya itu, ternyata bukan.

__ADS_1


"Jadi, yang barusan kamu ceritakan itu, benar? kirain kamu udah menikah dengan perempuan tadi. Aku turut prihatin dengan kejadian yang sudah menimpa diri kamu. Aku doakan, semoga kamu segera lekas menemukan penggantinya. Eh, perempuan yang kamu bawa itu juga cocok sama diri kamu, cantik dan kelihatannya juga baik."


Sevan pun tersenyum pada temannya.


"Sudah aku bilang, dia anaknya bos aku. Statusku dengannya sangat berbanding terbalik, Ren. Jangan ngada-ngada kamu itu."


"Kata siapa tidak bisa berjodoh. Kalau memang kamu itu berjodoh, kemanapun akan selalu dipertemukan." Ucapnya.


Sedangkan Sevan sendiri menggelengkan kepalanya.


"Aku mau ke kamar mandi dulu ya, aku tinggal dulu sebentar. Oh ya, kalau kamu mau istirahat, bisa tidur di kamar tidurnya anak laki-laki aku." Sambungnya lagi.


"Gak usah, aku udah tidur barusan. Kalau kamu mau mandi, mandi saja." Jawab Sevan.


Karena badan terasa lengket dan juga risih, Renan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sevan yang tidak ada teman mengobrol, ia menyibukkan dengan ponselnya. Tidak menunggu lama, rupanya Renan sudah selesai membersihkan diri dan ikut duduk dengan membawa dia cangkir kopi panas.


"Ini kopinya, Bro. Mumpung lagi panas, enak-enaknya untuk diseruput sambil menunggu hujannya reda. Kamu tenang saja, kamu bisa menginap di rumahku. Lagian juga, anak dan istriku tidak pulang. Jadi, mungkin ini kesempatan kita untuk bertemu meski dadakan seperti ini."


"Mungkin juga, biar kamu berlama-lama dengan perempuan yang kamu bawa itu." Kata Renan sambil menikmati kopi panasnya.


"Entah lah, aku belum ada kepikiran untuk mengenal perempuan lebih dekat, rasa sakit hatiku belum hilang." Jawab Sevan yang juga ikutan menyeruput kopi panasnya.


"Jangan terlalu dipikirkan, Bro. Lebih baik kamu tutup rasamu itu, dan buka untuk perempuan yang tepat untukmu. Jangan biarkan kamu larut dalam kesedihan mu hanya karena seorang perempuan yang sudah menyakitimu. Tidak semua perempuan itu sama, intinya kamu jangan menyiksa diri kamu sendiri." Ucap Renan memberi nasehat kecil untuk temannya.


Sevan yang mendengarnya, pun mengangguk tanda mengerti.


"Sudah mau gelap, aku siapkan dulu makan malamnya. Kebetulan tadi masih ada sup iga sama sambel udang, bentar aku siapkan dulu."


"Gak usah repot-repot, Ren. Aku masih kenyang."


"Kenyang bagaimana? ini sudah mau gelap, bentar lagi malam. Masa' iya, tidur dengan perut kosong, nanti masuk angin."

__ADS_1


"Maaf banget pokoknya, Bro. Sudah ngerepotin kamu."


"Penting nanti kalau kamu mau menikah, jangan lupa kabarin aku. Meski menikahnya di kota sekalipun, aku akan datang memberi ucapan selamat untuk kamu." Ucapnya, Sevan tertawa kecil mendengarnya.


"Doain aja, semoga aku segera menemukan calon istri." Jawab Sevan, dan rupanya Yilan sudah bangun dari tidurnya.


Saat itu juga, Yilan sengaja pura-pura batuk untuk mengagetkan Renan ataupun Sevan. Keduanya pun sama-sama menoleh ke sumber suara.


"Sudah bangun rupanya, silakan duduk. Maaf, rumah kami lumayan berantakan." Ucap Renan selaku tuan rumah.


Yilan tersenyum dan berjalan mendekati.


"Namaku Yilan. Maaf, sudah merepotkan." Jawab Yilan yang langsung memperkenalkan diri tanpa mengulur tangannya.


"Salam kenal dariku. Namaku Renan, aku teman dekatnya Sevan. Silakan duduk." Ucap Renan yang juga memperkenalkan diri kepada Yilan.


"Terima kasih." Jawab Yilan dan duduk di dekatnya Sevan.


"Mau kopi panas atau teh hangat?" tanya Renan menawarkan.


"Air putih saja. Maaf, sudah merepotkan." Jawab Yilan merasa malu.


"Air putih saja, Ren. Yilan gak begitu suka dengan minuman yang berasa manis ataupun panas." Timpal Sevan ikut berkomentar.


"Kalian berdua ini sangat cocok, kenapa tidak menikah saja?"


Yilan dan Seva langsung menoleh ke arah satu sama lain. Kemudian, Yilan memalingkan mukanya. Begitu juga dengan Sevan, keduanya sama-sama memalingkan wajahnya masing-masing.


Renan yang melihat tingkah dari keduanya, pun menahan tawanya.


"Sudah, sudah, aku mau menyiapkan makan malam. Jadi, kamu yang ambilkan air minumnya untuk calon istri kamu itu." Ucap Renan memang sengaja mengerjai Sevan.


Dengan geram karena merasa tengah dikerjain, akhirnya beranjak pergi ke dapur untuk mengambilkan minuman untuk Yilan.

__ADS_1


Sedangkan Yilan sendiri merasa senang saat dirinya diperlakukan baik. Namun, tiba-tiba dirinya teringat saat kelakuannya yang begitu konyol saat mengambil ciu_man pada Sevan.


__ADS_2