
Selesai mandi, semuanya menikmati sarapan pagi di rumah kakak perempuannya Sevan. Setelah sarapan, Sevan dan Yilan bersiap-siap untuk berangkat ke suatu tempat yang sudah dijanjikan.
"Kalian mau kemana?" tanya sang ibu kepada Sevan dan Yilan yang sudah terlihat rapi.
"Sevan mau mengajak Yilan ke tempat yang ada air terjunnya, Bu. Cuma sebentar, nanti siang juga udah pulang. Soalnya sore nanti harus sampai di rumah." Jawab Sevan sambil mengenakan jaketnya.
"Ya udah kalau gitu, hati-hati di perjalanan." Ucap ibunya berpesan.
"Ya, Bu. Kak Eleng, Kak Bizar, Bapak, kita berdua pergi dulu." Jawab Sevan dan langsung berpamitan, juga Yilan ikut pamit.
Setelah itu, keduanya bergegas pergi dari rumah dan pergi ke suatu tempat yang sudah dijanjikan oleh Sevan.
Selama perjaka, Yilan sama sekali tidak berpegangan pada Sevan, lantaran malu dan sadar jika dirinya bukan siapa-siapanya, hanya sebatas orang yang baru dikenal.
Karena jalanan yang begitu terjal dan lumayan tidak nyaman, Sevan meraih kedua tangan Yilan secara bergantian, yakni untuk melingkarkan kedua tangannya di bagian pinggangnya agar tidak jatuh.
"Maaf. Aku hanya memintamu untuk berpegangan, takutnya nanti kamu jatuh. Jalanan banyak yang rusak, dan takutnya terpeleset." Ucap Sevan dan kembali fokus mengendarai motornya.
Yilan pun tersenyum, tanpa sadar jika senyum manisnya dapat di tangkap oleh Sevan lewat kaca spion.
Karena cukup lelah duduk di jok motor, Yilan dengan sengaja menyandarkan kepalanya di punggung miliknya Sevan. Sontak saja si Sevan dibuatnya kaget. Namun, ia sama sekali tidak melarangnya.
'Ternyata dia sangat nyaman buatku bersandar. Ada apa denganku ini, kenapa aku merasa enggan untuk pulang? selain dia tampan, dia juga baik. Jarang aku temui lelaki sepertinya. Terlihat galak sama judes, tapi aku menyukainya. Eh! ngomong apaan aku tadi. Enggak boleh, nggak boleh. Tidak, tidak. Nga_co banget sih mulutku ini.' Batin Yilan yang mengerutuki diri sendiri.
Tidak terasa rupanya sudah sampai di tempat yang dituju.
"Kita sudah sampai, ayo turun." Ucap Sevan mengajaknya turun.
Namun, setelah dilihat, Yilan tengah senyum senyum sendiri. Sevan yang dapat melihatnya dari kaca spion, pun merasa aneh dengan Yilan. Kemudian, Sevan menoleh ke belakang.
"Yilan, kita sudah sampai." Panggil Sevan sambil melambaikan tangannya.
Yilan yang begitu asik membayangkan sesuatu, dirinya sampai tidak mendengar jika Sevan sudah berkali-kali memanggil dirinya.
__ADS_1
Sevan yang tengah memandangi wajah ayu miliknya Yilan, pun seolah terhipnotis olehnya. Ditambah lagi Yilan tengah memejamkan kedua matanya, seolah tengah memberinya kesempatan.
Sevan yang tidak ingin larut dalam suasana, ia segera menepis pikirannya.
"Yilan!"
Kali ini suara Sevan meninggi dan mengagetkan Yilan, dan ia langsung membuka kedua matanya.
"Ya iya, ya. Apakah kita sudah sampai?"
"Lihat tuh, kita sudah sampai atau belum, pikirin aja sendiri. Sudah cepetan turun. Waktu kita tidak lama, setelah ini kita akan langsung pulang." Jawab Sevan yang sudah turun dari motor.
Kemudian, Sevan mencari tempat yang jauh dari keramaian. Sedangkan Yilan mengikutinya dari belakang.
Saat Sevan sudah duduk di atas bebatuan, memandangi air terjun yang terlihat begitu indah pemandangannya. Juga dilihatnya anak anak muda yang tengah terjun dari atas secara bergantian.
Yilan yang sudah duduk di sebelahnya, pun terdiam. Suasana hatinya seolah tidak karuan. Tiba-tiba ia teringat dengan keluarganya yang di kota, yakni kedua orang tuanya. Selain itu, ia kembali teringat dengan Gazan, lelaki yang pernah disukainya, namun rupanya juga disukai wanita lain. Hancur sudah saat Yilan melihat kebersamaan di sebuah Restoran, dan sejak itulah si Yilan memilih menjauh dari pada harus sakit hati dan kecewa.
Begitu juga dengan Sevan, ia sendiri teringat akan kenangan indah bersama perempuan yang dicintainya, namun berakhir dengan sebuah pengkhianatan. Kepulangannya untuk melamar dan menikahi pujaan hati, harus tersisih karena lelaki lain yang dianggapnya bisa menjamin kebutuhannya.
"Kamu ada masalah?" tanya Yilan membuka obrolan, yakni tengah melihat Sevan yang seperti menyimpan beban berat dalam pikirannya.
Sevan menoleh pada Yilan.
"Enggak ada, kenapa? bukannya kamu sendiri yang ada masalah, kenapa melempar pertanyaan padaku?"
"Ya soalnya kamu terlihat lesu gitu, gak bersemangat, dan juga terlihat murung. Em- apa karena kedatanganku membuatmu banyak beban ya?"
"Ya! kehadiran kamu itu menambah beban untukku, puas kamu. Makanya, buruan kamu pulang ke kota sebelum keluargamu menemukan mu." Jawab Sevan dengan ketus.
"Nikahi aku." Ucap Yilan dengan berani.
"Ha! nikahin kamu? apakah kamu ini sedang gak waras?"
__ADS_1
"Ya. Aku sedang gak waras, karena aku gak mau dijodohkan sama lelaki pilihan orang tuaku. Lagi pula kamu gak punya pacar."
"Jangan gi_la kamu itu. Menikah itu bukan sekedar menikah, dan tidak baik untuk mainan. Kamu ingin menghindari perjodohan, tapi bukan seperti yang kamu katakan."
"Dari pada aku menikah sama pilihan orang tuaku, mending aku menikah sama kamu." Ucap Yilan tetap kekeh dengan pilihannya, meski bisa dikatakan sangat konyol, pikirnya.
Sevan yang tidak habis pikir dengan ucapan Yilan, kini menatapnya dengan serius.
"Kalau kamu masih membicarakannya lagi, kita pulang ke rumah sekarang juga. Aku akan mengantarkan kamu ke kota, yaitu di terminal saat kita baru pertama kalinya bertemu." Ucap Sevan sambil memberi ancaman.
Bukannya takut, Yilan telah berbuat nekad, yakni meraih tengkuk leher miliknya Sevan dan mencium bibirnya.
Sevan melotot dan seperti mendapat sengatan listrik. Sungguh dirinya sangat terkejut atas apa yang dilakukan oleh Yilan yang begitu beraninya men_cium bibirnya. Seumur-umur hidupnya baru kali ini mendapat ciuman dari seorang perempuan.
Sevan yang terpancing karena ia sadar jika dirinya lelaki normal, tidak dapat dipungkiri jika dirinya pun membalasnya, dan Yilan hatinya merasa senang karena berhasil telah mengambil ciu_mannya.
Setelah itu, Yilan melepaskannya.
"Pokoknya nikahin aku, titik." Ucap Yilan dengan senyum merekah.
"Itu tidak akan mungkin." Jawab Sevan.
"Kenapa enggak?"
"Kamu dan aku berbeda status, dan juga aku tidak mengenalmu. Kita gak ada cinta, gak ada rasa, gak ada ketertarikan, dan juga tidak saling kenal." Jawab Sevan.
"Buktinya tadi kamu membalas ciu_man dariku. Berarti kamu ada ketertarikan denganku." Ucap Yilan yang kini menatap lurus ke depan.
"Karena kamu sudah memancing duluan, dan aku lelaki normal. Tentu saja, aku membalas perbuatan kamu." Jawab Sevan yang masih menghadap ke arah Yilan, meski Yilan sendiri menatap lurus ke depan.
Yilan memilih diam, dan memasang muka cemberut.
"Menikah itu bukan untuk permainan, tapi keseriusan. Jadi, pikirkan baik-baik ketika kamu mau menikah. Mencari tahu dulu, siapa lelaki yang akan menikahi kamu. Jangan asal menolak ataupun mencari penggantinya dengan sesuka hatimu. Juga, pilihan orang tua bukan berarti salah, mungkin saja kamu hanya menilai dari sudut pandangmu saja. Jadi, pikirkan baik-baik ketika kamu menentukan pernikahan mu sendiri, dan jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari." Ucap Sevan memberi nasehat kecil untuk Yilan.
__ADS_1
Tidak tahu harus berkata apa, Yilan seolah dirinya terpojok dengan ucapan dari Sevan.