Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Sangat terkejut ketika dipertemukan kembali


__ADS_3

Acara pengucapan kalimat sakral akan segera dimulai, perasaan Yilan bercampur aduk tidak karuan rasanya, antara tidak rela untuk menikah, juga ingin segera kabur dari acara pernikahannya.


Gazan yang sudah mantap untuk menikahi Yilan, kalimat sakral pun lolos dengan suara yang cukup jelas kedengarannya hingga kini Yilan telah resmi menjadi istrinya Gazan yang sah.


Semua tengah berbahagia atas pernikahannya Yilan dengan Gazan, termasuk keluarga Yilan sendiri. Namun, tidak untuk Yilan. Justru dia tengah melamun ketika Gazan berhasil mengucapkan kalimat sakral, juga dirinya sendiri yang mengiyakan untuk menjadi istri sahnya Gazan.


'Mungkinkah takdirku hanya untuk Kak Gazan? kenapa hati kecilku menolak? aku hanya menginginkan Sevan untuk menjadi suamiku, bukan Gazan.' Batin Yilan yang tengah bersedih bukan bahagia layaknya sepasang pengantin baru pada umumnya.


Tidak untuk Yilan, seolah nasib buruk tengah menimpa dirinya. Meski mempunyai kenangan yang cukup singkat, Yilan begitu nyaman saat bersama Sevan. Dengan kesederhanaan yang dimiliki, rupanya tengah mencuri hatinya.


"Cium. Cium. Cium." Semua teman-temannya Yilan tengah menghebohkan suasana acara pernikahannya.


Saat itu juga, rupanya Sevando baru aja masuk ke dalam acara pernikahannya Yilan dengan Gazan. Bahkan suara yang dihebohkan di dalam gedung, rupanya dapat ditangkap olehnya.


Hati Sevan terasa terbakar oleh api cemburu saat mendengarnya. Ingatannya kembali saat Yilan dengan nekad mencium bibirnya, juga ia membalasnya.


"Cium. Cium. Cium."


Lagi-lagi suara itu sangat jelas untuk di dengar oleh banyaknya orang yang tengah mendengarkannya.


Seketika, Yilan dapat menangkap sosok Sevan tengah mengarahkan pandangannya tepat pada dirinya. Kini keduanya saling menatap satu sama lain.


Yilan merasa sangat bersalah besar ketika dirinya tidak mampu untuk menghindari dari pernikahan.


"Cium. Cium. Cium."


Suara itu kembali terdengar, hingga telinga Sevan terasa panas dan gendang telinganya seperti mau pecah.


Gazan sendiri langsung meraih dagu miliknya Yilan, keduanya kini saling menghadap dan menetap satu sama lain dengan disaksikannya oleh Sevan yang begitu sangat jelas.

__ADS_1


Gazan yang sudah siap untuk mencium istrinya, pun sudah tidak sabar untuk mendapatkan momen yang sangat berarti untuk dirinya.


"Jaj-jangan. Aku malu. Aku malu di hadapan kedua orang tuaku." Ucap Yilan yang akhirnya dengan terpaksa menolaknya dengan cara berbisik.


Gazan yang mendengarnya, pun bertambah geram saat dirinya mendengar ucapan dari istrinya yang terang-terangan tengah menolak.


"Aku mohon, jangan di depan umum. Ini sangat memalukan." Bisik Yilan penuh permohonan.


"Kenapa? apa karena kamu malu jika Sevan melihat?" tanya Sevan yang mendekatkan wajahnya tepat pada istrinya.


Yilan menggelengkan kepalanya.


Sedangkan Sevan sendiri yang tidak mau melihatnya, pun langsung pergi entah kemana perginya.


Gazan yang tidak bisa memaksa, pun mengiyakan permintaan istrinya.


Yilan tersenyum senang saat Gazan tidak melakukan pemaksaan kepada dirinya.


Berbeda dengan Sevan, tengah duduk sendirian sambil menikmati minuman yang ia terima oleh pelayan yang berkeliling di acara pernikahan.


"Cie ... lagi galau nih keknya." Ledek Zavan saat ikutan duduk di dekat Sevan.


Sekilas si Sevan menoleh, dan kembali meminumnya lagi hingga tandas tidak tersisa.


"Kenapa Bos Zavan tidak ikutan berfoto atau ikutan berdiri di pelaminan menemani Nona Yilan?"


Bukannya menjawab, justru si Zavan tertawa kecil mendengar pertanyaan dari Sevan.


"Aku tidak suka berfoto. Kamu kira duniaku ini dunia selfie, tidak. Kamu sendiri kenapa menyendiri? dimana kedua orang tua kamu, Sev?"

__ADS_1


"Tidak tahu Bos, tadi saya sibuk dengan diri sendiri. Jadi lupa dimana kedua orang tua saya. Bos Zavan mau minum? nanti akan saya ambilkan."


"Tidak perlu, aku hanya ingin menemani kamu."


"Saya bisa sendiri, dan tidak perlu untuk ditemani. Mendingan Bos Zavan itu ikutan berkumpul dengan keluarganya Bos Zavan, nanti dikiranya saya yang jadi pengacau." Ucap Sevan yang merasa tidak enak hati ketika merepotkan bosnya yang mempunyai acara.


Di lain sisi, kedua orang tuanya Sevan tengah menikmati makanan bersama para tamu undangan yang lainnya. Setelah selesai makan, kedua orang tuanya Sevan mencari keberadaan putranya yang entah dimana posisinya.


Seketika.


"Aw!" pekik ibunya Yilan saat tertabrak oleh ibunya Sevan.


"Maaf, Nyonya, Tuan. Saya minta maaf, saya tidak sengaja." Ucapnya sambil menunduk karena takut berurusan dengan orang berkelas.


Namun, karena takut masalah semakin besar, akhirnya mendongak.


"Bi Fahma!"


Saat itu juga, ibunya Sevan maupun ayahnya Yilan sama-sama terkejut melihatnya.


Dengan perasaan takut, Bi Fahma yang dipanggil oleh ayahnya Yilan, pun langsung balik badan dan berlari.


"Bi Fahma! tunggu! jangan lari."


Teriak Tuan Bonar sambil mengejarnya.


"Ibu! kenapa Ibu berlari?"


Sevan yang mendapati ibunya telah menabrak dirinya, pun menahannya. Tuan Bonar pun kembali terkejut saat melihat Sevan memanggil perempuan yang dipanggil Bi Fahma tersebut, rupanya dipanggil Ibu oleh Sevan.

__ADS_1


__ADS_2