
Yilan yang baru saja selesai membersihkan diri, ia segera keluar dari kamar mandi. Kemudian, ia celingukan mencari pintu belakang untuk menjemur handuk.
Saat menemukan pintu yang terbuka, Yilan mengeceknya. Dilihatnya bapak sedang mencuci ikan yang baru saja di bersihkan sisik dan lainnya. Yilan segera menjemur handuk di tempat khusus jemuran.
Kemudian, Yilan mendekati ayahnya Sevan.
"Biar Yilan saja Pak, yang cuci ikannya." Ucap Yilan sambil berjongkok di dekat ayahnya Sevan, lantaran tidak enak hati karena sudah diizinkan untuk tinggal di rumahnya.
Tentu saja, bisa tidak bisa, Yilan berusaha mengambil hati kepada pemilik rumah agar dirinya tidak di kembalikan lagi ke kota.
"Nak Yilan lebih baik istirahat saja didalam. Biar Bapak saja yang cuci ikannya. Juga, sudah mau selesai. Nak Yilan masuk ke rumah saja." Jawab ayahnya Sevan.
"Makasih ya, Pak, udah baik sama Yilan. Maafin Yilan yang udah banyak ngerepotin Bapak sekeluarga." Ucap Yilan yang masih tetap merasa tidak enak hati.
Ayahnya Sevan pun tersenyum.
"Tidak apa-apa, kami sekeluarga tidak merasa di repotkan. Jadi, lebih baik Nak Yilan masuk ke rumah dan istirahat. Biar Bapak saja yang mencuci ikannya." Jawab ayahnya Sevan.
Yilan yang tidak tahu harus ngomong apa lagi karena sudah kehabisan kata-kata, akhirnya memilih untuk masuk ke dalam rumah.
Saat masuk lewat pintu dapur, ibunya Sevan baru pulang dari warung.
"Ibu dari mana?" tanya Yilan saat ibunya Sevan menenteng belanjaan.
"Ibu tadi dari warung, beli sayuran untuk di masak. Nak Yilan udah mandi? kalau udah, mendingan Nak Yilan istirahat. Perjalanan jauh pasti capek di badan. Sevan juga istirahat, mendingan Nak Yilan juga ikutan istirahat." Jawab ibunya Sevan saat baru saja meletakkan belanjaannya di atas meja.
"Yilan gak capek kok Bu, istirahatnya nanti malam aja. Sejarah Yilan mau bantuin Ibu masak, boleh 'kan, Bu?"
Ibunya Sevan pun tersenyum mendengarnya.
"Boleh saja, Nak. Asalkan Nak Yilan tidak keberatan. Tapi kalau Seandainya capek, istirahat juga tidak apa-apa." Jawab ibunya Sevan.
__ADS_1
Yilan tersenyum sumringah saat mendapatkan izin untuk membantunya memasak.
'Meski gadis kota, tapi tidak seperti yang aku bayangkan. Aku kira gadis kota itu tidak suka membantu pekerjaan dapur, juga sikapnya yang baik. Tapi ternyata, justru sangat berbeda jauh dengan Alia, pacarnya Sevan. Syukur lah, jika Sevan dipertemukan dengan gadis ini. Semoga Sevan dan Nak Yilan berjodoh. Aku sangat bersyukur, karena Alia tidak menjadi menikah dengan Sevan.' Batin Ibunya Sevan yang tengah melamun.
"Bu, kok melamun. Ibu lagi mikirin apa, Bu?"
"Enggak. Ibu cuma gak nyangka aja, rumah Ibu kedatangan orang kota, cantik lagi." Jawab ibunya Sevan dengan senyumnya.
"Ibu bisa aja deh. Justru saya Bu, yang gak nyangka bisa berada di kampung. Padahal niatnya cuma buat kabur, tapi gak tahunya jauh banget." Ucap Yilan tanpa ada rasa malu lagi, seolah sudah akrab dengan ibunya Sevan.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kita mulai masak. Oh ya, Nak Yilan suka ikan goreng, ikan bakar, atau yang lainnya?"
"Saya suka semuanya, Bu. Mau dibakar, di goreng, juga suka. Yilan bukan tipe pilih pilih makanan, Bu. Asalkan itu makanan yang baik, Yilan pasti suka, Bu." Jawab Yilan meyakinkan ibunya Sevan.
"Baiklah, nanti ibu akan meminta sama Bapak untuk membakar ikannya. Kita masak sayur tumis, dan bikin sambel untuk ikan bakar. Nak Yilan, kupas dulu bumbu dapur ini, setelah itu, bisa kamu cuci. Biar nanti Ibu yang membuatkan bumbu ikan bakarnya. Ya udah ya, Ibu tinggal dulu, Ibu mau menanak nasi. Kalau Nak Yilan belum terbiasa, mending lakukan yang bisa dilakukan." Ucap ibunya Sevan.
"Ya, Bu." Jawab Yilan dan meraih pi_sau, lalu mengupas bawang dan bumbu dapur lainnya.
Saat berada di dapur yang cukup luas ruangannya, arah pandangannya Sevan tertuju pada Yilan yang tengah mengupas bubu dapur. Sevan sendiri pun tersenyum melihatnya.
'Aku sudah tidak sabar untuk menikah dengan Alia. Juga, tidak sabar untuk tinggal bersama. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan betapa bahagianya aku setelah menikah nanti.' Batin Sevan yang tengah membayangkan bersama Alia kekasihnya.
"Aw!" teriak Yilan saat jari telunjuknya terkena pis_au.
Dengan sigap, Sevan langsung menyambar tangan miliknya Yilan dan menye_dot darah di bagian jari telunjuknya.
Yilan sangat terkejut dibuatnya. Sambil menyesap da_rah segar, Sevan dan Yilan saling menatap satu sama lain.
Yilan langsung menarik jari telunjuknya.
"Kalau gak terbiasa berada di dapur itu, mendingan jangan coba-coba untuk mencobanya. Jadi, tangan kamu terluka. Sini, aku akan obati jari telunjuk kamu."
__ADS_1
"Gak perlu. Ini hanya luka biasa, dan ini juga karena aku tadi gak konsentrasi. Jadi, terluka deh jadinya." Jawab Yilan yang tidak ingin merepotkan.
Ibunya Sevan yang mendengarnya, pun langsung mendekati.
"Kalian berdua kenapa?" tanya ibunya Sevan sambil menatap satu persatu diantara keduanya.
Namun, akhirnya dapat mengetahui ada da_rah yang keluar dari ujung jari telunjuk miliknya Yilan. Saat itu juga, ibunya Sevan langsung meraih tangannya.
"Kenapa dengan tangan kamu, Nak?" tanya ibunya Sevan saat melihat jari telunjuk miliknya Yilan terluka.
"Ini tadi kena pis_au, Bu." Jawab Yilan.
"Ya udah, biar Sevan yang akan mengobati. Kamu jangan dulu bantu ibu di dapur, kamu butuh istirahat yang cukup. Sevan, cepat kamu obati." Ucap ibunya Sevan, dan tak lupa untuk menyuruh anaknya untuk mengobati luka ditangannya Yilan.
"Maaf ya, Bu, saya udah banyak ngerepotin." Jawab Yilan yang lagi-lagi dirinya merasa merepotkan orang lain.
"Tidak apa-apa, Ibu sama sekali tidak merasa direpotkan. Ya udah sana obati dulu tangan kamu, terus istirahat. Nanti Ibu panggil kalau udah matang." Ucap ibunya Sevan yang begitu baik dengan siapapun.
Yilan benar-benar merasa beruntung dipertemukan dengan keluarganya Sevan yang begitu baik, dan sikap yang penuh santun.
"Baik, Bu. Yilan tinggal dulu ya, Bu." Jawab Yilan, Sevan langsung menarik tangannya dan mengajak ke ruang tengah untuk mengobatinya.
Saat sudah berada di ruang tengah, Sevan menyuruh Yilan untuk duduk. Kemudian, mengambil obatnya di dalam lemari. Setelah itu, Sevan mengobatinya.
"Makanya, kalau mau ngapa ngapain tuh hati-hati. Untuk aja gak ke potong langsung ini jari telunjuk kamu." Ucap Sevan sambil meneteskan obat di bagian yang terluka. Kemudian, Sevan memakaikan perbannya.
"Namanya juga gak tahu, ya mana aku tahu lah. Tapi aku senang sih, soalnya diobati sama kamu." Kata Yilan sengaja meledek.
"Jaga bicaramu. Dah selesai, masuk ke kamar kalau ingin istirahat." Ucap Sevan dan segera mengembalikan obatnya ke tempat semula.
Sedangkan Yilan memilih untuk masuk ke kamar untuk merebahkan tubuhnya agar badan tidak terasa pegal-pegal, pikirnya.
__ADS_1