Kabur Dari Perjodohan

Kabur Dari Perjodohan
Memperhatikan


__ADS_3

Jarak antara Yilan dan Sevan tidak begitu jauh, membuat Sevan begitu jelas untuk memperhatikan Yilan yang sedang makan bareng bersama Gazan.


'Mereka berdua memang serasi untuk dijadikan pasangan, bukan aku. Ingat Sevan, ingat, kamu hanya kebetulan saja bertemu, dan tidak pantas kamu menyukainya.' Batin Sevan yang tengah memperhatikan Yilan dan Gazan tengah menikmati makan siangnya berduaan duduk di atas bebatuan.


Zavan yang melihat Sevan tengah memperhatikan adik perempuannya, ia ikutan duduk di sebelahnya.


"Ngelamun aja kamu ini, kenapa? apakah kamu menyukai adikku?" tanya Zavan yang juga mengagetkannya.


Sevan yang mendengarnya, pun langsung menoleh. Kemudian, ia tertawa kecil untuk mengalihkan kegugupannya.


"Tuan bicara apa barusan? Tadi hanya kebetulan saja arah pandangan saya tertuju pada Nona Yilan, tidak lebih. Justru saya memperhatikan mereka berdua sangat serasi, semoga saja Nona Yilan bersama calon suaminya berjodoh."


Sebisa mungkin Sevan menjawabnya dengan santai, layaknya tidak ada apa-apa akan perasaannya.


"Jangan bohong, kamu menyukainya, 'kan?"


Kali ini Zavan kembali bertanya karena rasa penasarannya terhadap Sevan soal perasaannya.


Lagi-lagi Sevan kembali tertawa mendengarkan pertanyaan dari bosnya.


"Tuan Zavan bicara apa lah, kenapa pertanyaan dari Tuan sangat aneh? Saya sendiri baru aja kehilangan calon istri karena menikah dengan lelaki yang menjadi pilihannya. Sekarang Tuan memberi pertanyaan yang sangat lucu." Jawab Sevan berusaha untuk menutupi perasaannya yang entah tertuju pada siapanya.


"Kalau memang kamu tidak mempunyai perasaan kepada Yilan, syukurlah, aku lebih tenang." Ucap Zavan sambil menepuk punggungnya Sevan.

__ADS_1


"Ya, Tuan. Tenang saja, saya tidak akan menjadi pengacau untuk hubungannya Nona Yilan dengan calon suaminya. Lupakan saja yang tadi waktu di rumah orang tua saya, mungkin saja Nona Yilan sengaja menghindar dan menjadikan saya sebagai batu loncatan agar bisa menolak perjodohan." Jawab Sevan meyakinkan bosnya.


Namun tetap saja, Zavan tidak mudah untuk dibohongi dengan jawaban dari Sevan soal perasaannya dengan adik perempuannya.


"Aku percayakan semuanya sama kamu, oke." Ucap Zavan berpesan.


Sevan pun mengangguk dan mengiyakan atas pesan dari bosnya. Sedangkan Yilan tengah menikmati makanannya hingga tidak terasa sudah habis porsi makannya.


Gazan yang melihat Yilan selesai makan, dengan cepat kilat, langsung mengambilkan air minum dan menyodorkannya pada Yilan.


"Terima kasih. Maaf, sudah merepotkan." Ucap Yilan sambil menerima sebotol air mineral, dan Sevan kembali memperhatikan mereka berdua.


Selesai makan, Gazan langsung meraih tangan miliknya Yilan, dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.


Senyum tipis karena terpaksa, sebisa mungkin untuk menyembunyikan kekesalan di masa lalunya.


"Terus,"


"Aku mau kalau kamu menerima lamaran dariku, dan kita akan menikah." Ucap Gazan berterus terang.


"Semudah itukah yang kamu ucapkan kepadaku, Kak?" tanya Yilan.


"Memangnya yang kamu mau itu apa? Terus, aku harus bagaimana, Yil?"

__ADS_1


Gazan akhirnya balik bertanya soal pertanyaan dari Yilan.


"Maaf, aku tetap tidak bisa menikah denganmu, Kak. Aku sudah kecewa dan sangat sulit untuk mempercayai kata-kata kamu, walau hanya sebuah alasan." Jawab Yilan yang tetap menolak.


"Apa kamu sudah jatuh hati dengan orang kepercayaannya kakak kamu sendiri, benar kah?" tanya Gazan yang akhirnya membahas soal Sevan.


Yilan langsung menatapnya dengan sangat serius.


"Aku tidak tahu soal itu, karena perasaan seseorang susah untuk dideteksi maupun untuk ditebak. Yang aku pikirkan saat ini itu, aku hanya ingin menikmati hidupku dengan caraku untuk menenangkan pikiran." Jawab Yilan yang akhirnya membuka suara setelah mendapat kekecewaan di masa lalunya.


"Tapi, Yil, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan Renita, serius." Ucap Gazan yang mencoba untuk meyakinkannya.


Tetap saja, Yilan tidak mudah untuk dibohongi, dan tetap dengan pendiriannya.


Gazan yang tidak ingin berdebat dan membuat keributan, sebisa mungkin untuk tetap terlihat tenang dan seolah baik-baik saja.


Berbeda dengan Sevan, sedari tadi masih menunggu Yilan bersama Gazan yang terlihat tengah mengobrol serius. Penasaran, itu sudah pasti dan terngiang-ngiang dalam pikirannya.


"Aw!" pekik Sevan yang dikagetkan oleh Zavan dengan cara ditepuk punggungnya.


Saat itu juga, Sevan langsung menoleh.


"Kamu kenapa lagi, Sevan?" tanya Zavan saat dikejutkan oleh kakaknya Yilan yang tengah sengaja membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


Seketika, Sevan seperti tersadar dari lamunannya.


__ADS_2