
Galih yang melihat temannya tengah penuh kekecewaan, ia langsung mengejarnya.
"Sev! tunggu Sev! Sevan! tunggu."
Sambil berlari, Galih mengejar temannya. Takut terjadi sesuatu pada temannya, Galih terus mengejarnya.
Seketika, Sevan berhenti tepat dihadapan Yilan. Begitu juga dengan Galih, ia berhenti di belakangnya Sevan.
"Kamu ngapain kesini? mau mentertawakan aku? ha! minggir, jangan ikut campur dengan urusanku, ngerti."
"Ikut aku, ayo!"
Yilan langsung menarik tangannya Sevan masuk lagi ke dalam.
"He! kau sudah gila. Lepaskan tanganmu." Bentak Sevan yang tengah hilang kendali.
Niat untuk melepaskan tangannya, namun ternyata dirinya tidak mampu untuk melakukannya, lantaran tenaga Yilan rupanya juga kuat.
Dengan energi yang dimiliki oleh Yilan, ia mampu menarik tangannya Seva. Bahkan, Galih pun kaget dengan apa yang tengah dilakukan oleh Yilan.
Saat masuk ke pintu masuk untuk para tamu undangan, Yilan berhenti.
"Apakah kamu akan menangisi perempuan yang kamu cintai di atas pelaminan? terlalu bodoh jika kamu menyisakan cinta untuknya. Kamu itu laki-laki, tunjukkin dihadapan mantan pacar kamu itu, bahwa kamu mampu bahagia tanpa dirinya." Ucap Yilan sambil menunjuk ke arah pelaminan.
Tidak peduli jika harus menjadi pusat perhatian oleh para tama undangan yang lainnya, maupun orang lainnya.
Sevan menoleh pada Yilan, dan kini Sevan yang menarik tangannya dan mengajaknya pergi entah kemana.
"Woi! aku mau dibawa ke mana."
Sambil mengikuti langkah kakinya Sevan yang begitu cepat dan juga gesit, membuat Yilan kesulitan untuk mengimbanginya.
"Sev! tunggu." Panggil Galih yang tengah mengejar Sevan, dan kini keduanya sudah berhadapan.
Sevan hanya menatapnya saja.
__ADS_1
"Aku minta maaf. Bukannya aku tidak mau mengatakannya dengan jujur, aku hanya tidak ingin kamu shock dan tidak percaya. Maka dari itu, aku memilih untuk tidak memberitahu kamu. Sekali lagi aku minta maaf, maafkan aku, Sev." Ucap Galih merasa bersalah.
Sevan yang masih penuh kekecewaan, pun mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa, aku mengerti yang kamu maksudkan. Aku pulang, permisi." Ucap Sevan yang langsung menarik tangannya Yilan.
"Lepaskan tanganku. Aw! sakit, tau."
Sevan langsung menghentikan langkah kakinya dan menatap Yilan dengan tajam.
"Diam." Ucap Sevan dan memaksa Yilan untuk naik ke motor.
Sedangkan tetangga yang mengantar Yilan, kini hanya mengawasinya. Takut, jika Sevan dikuasai emosinya dan Yilan yang akan menjadi sasarannya..
"Cepetan! naik." Bentak Sevan yang menyuruh Yilan untuk naik ke motor.
Karena tidak ada pilihan dan memang diminta untuk menenangkan hatinya Sevan, sebisa mungkin Yilan melakukannya.
"Woi! jangan ngebut ngebut dong. Aku itu belum menikah, jangan mengajakku mati." Teriak Yilan sambil berpegangan Sevan dengan sangat erat, yakni melingkarkan kedua tangannya di bagian pinggang, dan bersandar di punggungnya.
Saat sudah ditempat tepi danau, Sevan duduk di rerumputan yang hijau. Kemudian menatap danau dengan penuh kesedihannya. Harapan yang sudah direncakan sejauh hari untuk menikahi perempuan yang dicintainya itu, justru berakhir dengan pengkhianatan. Sungguh di luar dugaannya.
Yilan yang tengah duduk disebelahnya, ia memilih untuk diam dan tidak mau mengganggu suasana hatinya.
Sevan yang teringat sesuatu yang ia bawa dan berada di saku celananya, ia merogoh dan kini sudah berada di tangannya. Sevan memperhatikan benda yang ia ada di atas telapak tangannya. Kemudian, Sevan menggenggamnya dengan sangat kuat, rasanya benar-benar menyakitkan ketika cinta dibalas dengan dusta dan pengkhianatan.
Tidak ingin mengingatnya kembali, Sevan memilih untuk melemparkannya ke danau.
Nahas, Yilan begitu cekatan saat menyambar benda yang ada ditangan Sevan.
"Kamu mau membuangnya? sini, biar buat aku aja. Dijual 'kan, lumayan. Sini, aku jual saja itu cincin."
Dengan tenaganya yang super, Yilan memaksa untuk merampas kotak merah yang berisi cincin yang ada di tangan miliknya Sevan.
"Dari pada di buang, mending buat aku. Ini cincin harganya lumayan, bisa buat menyambung hidupku nanti kalau kamu mengusirku dari rumah orang tuamu." Ucap Yilan dengan entengnya, Sevan sendiri terasa geram mendengarnya.
__ADS_1
"Cepat! kau berikan padaku. Jangan memancing emosi orang, cepetan sini." Bentak Sevan dengan tatapan penuh kesal.
"Eits! tidak boleh. Kamu pasti akan membuangnya, sayang sekali kalau dibuang. Jangan mentang-mentang bisa cari duit sendiri, kamu mau membuang cincin yang tidak bersalah ini. Mendingan juga kasihkan ke ibu kamu, bukan dibuang." Jawab Yilan yang tetap mempertahankan cincin yang masih didalam kotaknya.
"Makan tuh! cincin. Ditelan juga boleh." Ucap Sevan dengan emosi. Kemudian ia memandangi danau dengan pikirannya yang tidak karuan.
Namun, tiba-tiba ia dikagetkan dengan suara dering telpon di saku celananya. Sevan segera menerima panggilan.
'Ada apa Tuan menelpon ku? bukankah aku sudah bilang mau cuti dua puluh hari?' batinnya sambil melihat kontak nomor yang menelpon dirinya. Kemudian, Sevan mencari tempat yang sepi agar tidak berisik, atau didengar oleh Yilan.
Sedangkan Yilan tengah membuka kotak cincin untuk melihat isinya. Bahkan, ia pakai di jari manisnya.
"What! gak bisa di lepas? aduh! mam_pus, aku. Bagaimana ini? bisa gawat galau begini ceritanya. Kena omel mah iya."
Yilan begitu panik saat cincin di jari manisnya tidak bisa di lepas. Berbagai cara tengah dilakukannya, tetap saja tidak bisa di lepas.
Berbeda dengan Sevan, dirinya tengah menerima panggilan telpon.
"Mencari adiknya si Bos? memangnya kemana perginya, Bos?"
Sevan terkejut saat diminta untuk mencari keberadaan adiknya si bos, tentu saja si Sevan merasa keberatan. Lebih lagi dirinya tengah dirundung kesedihan karena gagal melamar perempuan yang di cintainya, yang pasti kehilangan semangatnya.
"Baiklah, Tuan. Kalau begitu kirimkan fotonya, nanti saya akan mencari dan melacak keberadaan adiknya Tuan."
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Sevan mengiyakan dan menerima perintah dari bosnya. Juga, selain itu bisa melupakan kesedihannya sejenak, meski pada akhirnya akan teringat kembali. Setidaknya ada kegiatan yang bisa melupakan mantan kekasihnya.
Setelah itu, panggilan telepon pun terputus. Kemudian, Sevan kembali ikutan duduk di sebelahnya Yilan.
Dilihatnya perempuan yang ada di sebelahnya tengah dengan jarinya.
"Kamu kenapa?" tanya Sevan yang tiba-tiba mengagetkan Yilan.
Takut kena marah, Yilan langsung tersenyum dan menutupi cincin yang ada di jari manisnya. Tentu saja agar tidak ketahuan, dan tidak mendapat omel, pikirnya.
"Em- ini, jari tanganku gatal-gatal. Oh ya, udah ngobrolnya? kalau udah, kita pulang yuk. Perut aku sakit, juga aku kebelet banget." Jawab Yilan sambil memegangi perutnya juga menutupi jari manisnya.
__ADS_1
Sedangkan Sevan sendiri merasa aneh dengan gelagatnya Yilan. Karena menyimpan rasa penasaran, Sevan mengamati kedua tangannya yang seperti menyembunyikan sesuatu.