
Yilan yang terasa kantuk didalam perjalanan, tidak dapat dipungkiri jika dirinya tertidur bersandar di kaca jendela.
Gazan yang mengetahui akan hal itu, langsung meraihnya dan menyandarkan Yilan di pundaknya. Lain lagi dengan Sevan, hanya bisa memperhatikannya dari belakang.
'Kenapa dengan diriku? kenapa aku merasa tidak rela jika Nona Yilan bersama calon suaminya? aku sedang tidak jatuh hati dengannya, 'kan? tidak, tidak mungkin. Ini semua karena kegalauan aku saja yang telah dikhianati oleh Alia, bukan murni aku menyukai Nona Yilan.' Batin Sevan sambil mengingat saat Yilan mengambil ciuman di bibirnya.
Zavan yang mengetahui Sevan yang terlihat menyembunyikan rasa cemburunya, pun memilih diam dan tidak berani untuk menuduhnya.
Cukup lama menempuh perjalanan, rupanya sudah setengah jalan dan juga waktunya untuk istirahat serta makan siang.
"Ayo kita turun, kita makan siang dulu. Setelah itu, kita lanjutkan lagi perjalanan kita." Ucap Zavan.
"Baik, Tuan." Jawab Sevan dan segera turun dari mobil.
Sedangkan Gazan merasa tidak tega untuk membangunkan Yilan yang masih tidur.
"Ayo kita turun, Gaz. Yilan bangunin aja, entar juga bangun." Ucap Zavan kepada calon suami adiknya.
"Tetapi Gaz, sepertinya Yilan kecapean. Kalau boleh minta tolong, pesankan saja makanan untukku dan Yilan, biar aku makannya di dalam mobil saja." Jawab Gazan yang tidak ingin melewatkan kebersamaan dengan wanita yang dia cintai.
Sevan yang mendengarnya, lagi-lagi harus menahan rasa cemburunya. Tidak ingin melihatnya, cepat-cepat segera keluar dari mobil dan bisa bernapas dengan lega.
Sevan yang tidak bisa memaksa, pun mengiyakan kemauannya Gazan.
"Ya udah, nanti aku pesankan. Kalau gitu aku masuk duluan." Ucap Zavan bergegas keluar dari mobil dan masuk ke rumah makan.
Sampainya di dalam, Zavan memesan makanan untuk dirinya dan Sevan, juga untuk Gazan bersama adik perempuannya.
Setelah itu, Zavan dan Sevan mencari tempat duduk. Sambil menunggu, akhirnya pesanannya pun datang.
Sevan yang tengah duduk berhadapan dengan Zavan, mengunyah makanan pun tiada selera untuk menelannya.
Sambil mengunyah makanan, Zavan sekilas memperhatikan Sevan yang terlihat melamun dan memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa, Sevan? kelihatannya kamu sedang memikirkan sesuatu, kamu ada masalah?" tanya Zavan yang penasaran.
Sevan menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya hanya kepikiran sama kedua orang tua saya, soalnya gagal mengajak mereka ikut tinggal di kota." Jawab Sevan beralasan, karena tidak mungkin juga jika dirinya berkata jujur.
"Nanti kamu bisa bujuk lagi kedua orang tua kamu, dan bisa tinggal bareng bersama orang tua di kota. Tapi biasanya nih ya, orang tua lebih nyaman di rumahnya sendiri, apapun kondisinya." Ucap Zavan sambil mengunyah makanan.
"Benar, Tuan.Semoga saja nanti mau dibujuk." Jawab Sevan yang juga tengah menikmati makanannya.
'Aku yakin jika kamu tengah memikirkan adikku, terlihat jelas dari tatapan kamu itu, Sevan.' Batin Zavan sekilas memperhatikannya.
Lain lagi di dalam mobil, Gazan masih dengan posisinya, yakni duduk sambil menjadi tempat sandaran Yilan yang tengah tidur.
Karena merasa kasihan harus bersandar di pundaknya, Gazan memindahkan posisinya dan kini tidur di pangkuannya. Kemudian, Gazan menyelipkan rambutnya Yilan di telinganya.
'Aku tidak akan membiarkan kamu jatuh hati kepada laki-laki lain. Kamu adalah milikku, dan kita akan segera menikah.' Batin Gazan sambil mengusap pipinya yang mulus.
Kemudian, Gazan mencium pipinya yang mulus. Saat itu juga, giliran Gazan yang merasa kantuk. Namun, sebisa mungkin kesadarannya akan tetap terjaga, pikirnya.
"Belum bangun juga kah, itu si Yilan?" tanya Zavan yang sudah masuk kedalam mobil tanpa disadari oleh Gazan sendiri.
Tentu saja mengagetkan Gazan.
"Iya ini, Yilan belum bangun juga dari tidurnya. Kalian sudah makan siangnya? tumben cepat."
"Ngarang aja kamu itu. Lapar ya tetap aja lapar, ini aja aku ngantuk banget." Jawab Gazan sambil menahan rasa kantuk dan juga lapar.
Sevan memilih diam, dan menyibukkan diri sambil memperhatikan jalanan ketika mobil mulai melaju.
Zavan yang dapat melihat ekspresi dari Sevan, sudah cukup untuk mengetahuinya.
'Sekarang aku udah yakin kalau Sevan menyukai adikku.' Batin Zavan setelah mendapat jawaban dari yang ia tahu sendiri lewat sikapnya.
Tidak lama kemudian, Yilan yang merasa capek tidur di pangkuannya Gazan, perlahan membuka kedua matanya dengan perlahan.
"Sevan, dimana dia?"
Sontak saja, Gazan maupun Sevan, juga Zavan, ketiganya kaget dibuatnya. Suasana pun langsung hening seketika.
Gazan yang membenarkan posisinya, dan membukakan tutup botol air mineral.
__ADS_1
"Minumlah. Ini, air minimumnya, biar pikiran kamu sedikit tenang." Ucap Gazan menyodorkan sebotol air mineral.
Yilan pun menerimanya, dan menoleh ke belakang karena penasaran. Kemudian nyengir kuda saat pandangannya bertemu dengan kakaknya sendiri.
"Sudah cepetan diminum, sekalian makan siang. Tadi Kakak udah belikan kalian berdua makan siang, sekarang makanlah selagi sudah bangun." Ucap Zavan.
"Memangnya tadi mampir ke warung makan, kah?" tanya Yilan yang terasa lesu karena baru saja bangun dari tidurnya.
"Iya, tadi aku yang minta. Soalnya aku tidak tega mau membangunkannya kamu. Jadi, aku milih untuk meminta pesankan makan siangnya punya kita. Bentar, aku ambilkan dulu." Sahut Gazan dan mengambilkan makanannya.
"Terus, Kak Zavan sama Sevan beneran udah makan?"
Zavan mengangguk saat mendapat pertanyaan dari adiknya.
"Iya, Nona. Kita berdua sudah makan." Jawab Sevan yang akhirnya bersuara.
Gazan yang cemburu ketika Yilan menoleh ke belakang, dirinya langsung menyodorkan makanannya.
"Ini, nasi kotaknya." Ucap Gazan.
"Makan di dalam mobil?" tanya Yilan pada Gazan.
"Iya, dimana lagi?"
"Bisa kok kalau mau berhenti, di sini daerahnya aman. Tidak apa-apa kalau mau berhenti, saya tau betul daerah sini, tidak ada orang jahat ataupun suka ganggu, disini aman." Sahut Sevan yang langsung bersuara.
"Pak, tolong mobilnya berhenti." Panggil Zavan memberi perintah kepada supirnya.
Saat itu juga, mobil pun berhenti di tepi jalan. Kemudian, semua turun dari mobil, tapi tidak untuk pak supir, yakni diminta untuk tetap di dalam mobil.
Sedangkan Yilan yang tengah duduk di batuan, tengah memegangi nasi kotaknya. Namun, ingin rasanya beranjak cari tempat duduk lainnya dari pada duduk berdekatan dengan Gazan.
"Aku duduk di sana aja ya, Kak." Ucap Yilan kepada Gazan.
"Mau ngapain duduk di sana? memangnya kenapa kalau duduk di sini, Yil?"
"Pingin aja. Tidak apa-apa 'kan?"
__ADS_1
"Yilan, duduk dan habiskan makanan mu. Waktu kita tidak banyak, secepatnya kita harus sampai di rumah. Duduk dan makan bareng bersama Gazan." Sahut Zavan yang langsung mencegah Yilan yang hendak pindah tempat duduknya.
Yilan hanya bisa memasang muka cemberut. Sedangkan Sevan sendiri hanya memperhatikannya.